Ducati GP25 Sulit, Bikin Jurang Performa Makin Terasa, Aldeguer dan Morbidelli Merasa Dirugikan
RiderTua.com – Dominasi Ducati di MotoGP sekarang nggak cuma kelihatan dari hasil balapan aja, tapi juga mulai nimbulin jarak alias kesenjangan yang dirasain langsung sama para pembalapnya. Kalau musim lalu motor spek GP24 masih dibilang sanggup ngelawan, bahkan kadang sukses ngasapin motor pabrikan, sekarang situasinya udah beda jauh. Kehebatan motor spek terbaru Ducati emang makin susah dibantah. Sayangnya, nggak semua pembalap dapet jatah buat ngerasain motor andalan ini.
▶Daftar Isi
Motor Ducati GP25 Sulit, Aldeguer Pasrah, Morbidelli Semakin Frustrasi, Keluhan Pecco Terbukti
Perbedaan tersebut kini dirasakan langsung oleh Fermin Aldeguer dan Franco Morbidelli. Saat Ducati telah turunkan empat motor dengan spesifikasi terbaru, kedua pembalap itu masih andalkan motor generasi sebelumnya. Dalam persaingan yang semakin ketat, kondisi tersebut mereka anggap sebagai kerugian besar karena harus hadapi rival yang memiliki paket teknis lebih mutakhir.
Meski berada dalam situasi yang sama, cara keduanya sikapi persoalan tersebut ternyata sangat berbeda. Aldeguer memilih terima kenyataan yang ada dan tak ingin terlalu larut membahas detail perbedaan antara kedua motor. Ia ngakuin seluruh tim memahami bahwa absennya motor terbaru membuat pekerjaan jadi lebih berat. Namun, daripada habiskan energi memikirkan apa yang tak dimiliki, ia lebih memilih memaksimalkan paket yang tersedia.

Pendekatan itu juga ngubah cara Aldeguer bekerja sepanjang akhir pekan balapan. Ia ngaku sudah berhenti membandingkan motornya dengan milik pembalap lain. Bahkan data Franco Morbidelli, yang gunakan spesifikasi motor yang sama, kini tak lagi jadi acuannya. Fokusnya hanya satu, yakni dekati para pembalap terdepan sejauh kemampuan motor dan dirinya memungkinkan.
GP25 dianggap sebagai handicap (kelemahan teknis)
Namun, sikap realistis tersebut tak berarti Aldeguer menutup mata terhadap kenyataan di lintasan. Ia tegaskan bahwa penggunaan motor spesifikasi lama memang jadi sebuah handicap dalam persaingan MotoGP saat ini. Meski demikian, ia menyadari tak memiliki pilihan selain menerima situasi tersebut dan terus bekerja bersama tim untuk memaksimalkan potensi yang masih bisa digali.
Di tengah keterbatasan itu, Ducati setidaknya memberikan sedikit angin segar lewat pembaruan aerodinamika pada motornya. Menurut Aldeguer, perubahan tersebut membuat karakter motor terasa lebih mendekati GP24. Perkembangan itu turut mengembalikan rasa percaya dirinya saat berada di atas motor dan membuat performanya kembali lebih kompetitif dibanding sebelumnya.

Meski begitu, Aldeguer tetap menilai pembalap yang mengendarai motor tim pabrikan memiliki keuntungan yang sulit diabaikan. Ada kelebihan tertentu yang membuat mereka lebih mudah tampil cepat sepanjang akhir pekan balapan. Itulah mengapa ia memilih tetap fokus pada pekerjaannya sendiri daripada terus membandingkan diri dengan para pembalap yang memiliki paket teknis berbeda.
Sementara Aldeguer berusaha berdamai dengan keadaan, Franco Morbidelli justru semakin menunjukkan rasa frustrasinya. Hasil yang diraih dalam beberapa seri terakhir membuat situasinya semakin sulit. Di Brno ia hanya mampu finis di posisi ke-14, setelah sebelumnya gagal menyelesaikan balapan di Assen akibat terjatuh. Rentetan hasil tersebut memperpanjang masa sulit yang tengah dialaminya.
Masalah grip terus menghantui
Masalah terbesar, menurut Morbidelli, bukan terletak pada usaha tim ataupun dirinya sebagai pembalap. Ia ngakuin tak memiliki grip maupun performa yang cukup untuk bersaing di posisi depan. Persoalan tersebut sudah muncul sejak awal musim dan hingga kini belum ditemukan solusi yang benar-benar mampu mengatasinya.

Menariknya, di tengah tekanan yang terus meningkat, Morbidelli masih sempat menanggapinya dengan nada bercanda. Ia bahkan menyindir dirinya sendiri dengan mengatakan bahwa mungkin saja dirinya sudah lupa cara mengendarai motor MotoGP. Candaan itu memang terdengar ringan, tetapi di baliknya tersimpan kebingungan atas situasi yang terus berulang.
Kebingungan tersebut semakin terasa karena performanya sulit dipahami. Morbidelli ngaku sempat tampil sangat kompetitif di Barcelona dan Mugello. Namun ketika memasuki balapan berikutnya, kecepatan itu tiba-tiba menghilang tanpa alasan yang jelas. Inkonsistensi tersebut jadi sesuatu yang paling sulit ia mengerti sepanjang musim ini.
Di sisi lain, Morbidelli menepis anggapan bahwa ketidakpastian masa depannya jadi penyebab performanya turun. Ia tegaskan telah hidup bersama tekanan sejak masih kecil. Sepanjang perjalanan kariernya, tuntutan untuk jadi juara selalu hadir, sehingga tekanan bukanlah sesuatu yang baru baginya.

Karena itulah, ia juga membantah anggapan bahwa dirinya hanya berjuang untuk mempertahankan tempat di MotoGP. Morbidelli tegaskan dirinya tak membalap demi sekadar mempertahankan kursi atau menerima gaji. Tujuan utamanya tetap sama, yakni meraih kemenangan dan mengeluarkan kemampuan terbaik setiap kali turun ke lintasan.
Frustrasi karena motor tidak kompetitif
Biarpun semangatnya masih membara, Morbidelli nggak nutupin rasa frustrasinya sama situasi yang ada sekarang. Menurutnya, seluruh kru tim VR46 udah kerja keras banget buat ningkatin performa motor. Sayangnya, masalah grip yang terus-terusan ngehantuin bikin potensi asli mereka belum bener-bener keluar pas lagi race.
Intinya, ngibarin bendera putih alias nyerah jelas bukan pilihan. Morbidelli mastiin vibes di dalem tim VR46 masih sangat positif, walau hasil balapannya belum memuaskan. Semuanya tetep komit buat bareng-bareng nyari jalan keluar. Emang bener kesenjangan performa motor Ducati makin kerasa, dan Aldeguer sama Morbidelli punya cara masing-masing buat ngatasinnya. Tapi garis besarnya cuma satu: keduanya yakin banget kalau cuma dengan kerja keras mereka bisa balik bersaing lagi di barisan terdepan.

Dannn… Menariknya, keluhan yang kini disampaikan Fermin Aldeguer dan Franco Morbidelli seolah kembali mengingatkan pada situasi yang pernah dialami Francesco Bagnaia saat menggunakan Ducati GP25 musim lalu. Ketika itu, berbagai komentar mengenai karakter motor sempat memunculkan perdebatan dan tak sedikit yang menganggapnya sekadar alasan atas hasil yang kurang memuaskan. Namun, setelah dua pembalap berbeda yang kini juga mengendarai GP25 mengungkapkan kesulitan serupa, pandangan tersebut setidaknya memperoleh penguat baru. Meski tidak bisa disebut sebagai bukti mutlak, pernyataan Aldeguer dan Morbidelli memberi kesan bahwa tantangan pada GP25 memang nyata, bukan sekadar keluhan tanpa dasar.














