RiderTua.com – Selama bertahun-tahun, Marc Marquez dikenal sebagai pembalap yang selalu tampil habis-habisan di atas motor. Cara dia masuk tikungan, aksi penyelamatan motor yang luar biasa saat nyaris jatuh, sampai keberaniannya menembus batas limit sudah jadi ciri khas yang bikin namanya disegani banget. Tapi sekarang, juara dunia asal Spanyol ini blak-blakan mengaku kalau ada satu hal yang harus mulai dia rem, yaitu instingnya sendiri.
Bagi Marquez, salah satu kelemahan terbesar sepanjang kariernya justru berasal dari mentalitas yang selalu mendorongnya menyerang tanpa memikirkan risiko. Ia ngaku selama ini tak pernah benar-benar melihat di mana batas kemampuan dirinya. Batas itu baru ia sadari ketika sudah terjatuh.
▶Daftar Isi
Marc Marquez Akui Kini Tak Bisa Lagi Mengandalkan Insting, Kondisi Fisik Jadi Pembatas

Pola pikir tersebut perlahan berubah seiring bertambahnya pengalaman dan berbagai tantangan fisik yang pernah ia alami. Marquez mengatakan dirinya sudah lama berusaha mengendalikan kebiasaan tersebut, terutama sejak masih berusia muda. Proses itu tak terjadi dalam semalam, tetapi sedikit demi sedikit mulai membentuk pendekatan baru saat berada di atas motor.
“Salah satu kelemahan terbesar saya adalah selalu melaju tanpa melihat risikonya. Sekarang saya harus mengendalikan insting itu, karena tubuh saya sudah tak bisa lagi mengikutinya. Itulah mengapa saya mencari gaya balap yang tetap cepat tanpa selalu mengikuti insting,” ujar Marc buka rahasia-nya…
Kini, perubahan itu jadi semakin penting karena kondisi fisiknya tak lagi memungkinkan dirinya mengendarai motor hanya mengandalkan naluri seperti dahulu.
Menurut Marquez, ketika ia membiarkan insting ambil alih sepenuhnya, tubuhnya justru tak mampu ikuti apa yang diinginkan pikirannya. Hal tersebut beberapa kali ia rasakan sepanjang musim ini, terutama pada sesi latihan bebas pertama atau FP1.
Ia ngaku cukup sering alami crash pada sesi tersebut. Penyebabnya bukan karena kehilangan kecepatan, melainkan karena tanpa sadar ia kembali gunakan gaya balap lamanya. Ketika insting ambil alih, tubuhnya tak lagi mampu merespons dengan kemampuan yang sama seperti beberapa tahun lalu.

Karena itulah, setiap akhir pekan balapan kini menjadi proses pencarian keseimbangan. Marquez tak lagi sekadar mengejar catatan waktu tercepat, tetapi juga berusaha menemukan gaya berkendara yang tetap kompetitif tanpa harus selalu mengikuti dorongan instingnya. Baginya, menjadi cepat kini bukan hanya soal keberanian, melainkan juga tentang memahami batas kemampuan fisik yang dimiliki.
Menariknya, cara pandangnya terhadap rasa takut juga mengalami perkembangan. Marquez menilai kebalikan dari rasa takut bukanlah keberanian, melainkan kesenangan saat mengendarai motor. Ketika benar-benar menikmati balapan, menurutnya pikiran tentang risiko maupun ketakutan akan menghilang dengan sendirinya.

Perubahan tak hanya datang dari sisi pembalap, tetapi juga dari perkembangan teknologi MotoGP. Marquez mengakui motor generasi sekarang sudah sangat berbeda dibanding era ketika ia mendominasi bersama Honda.
Aksi penyelamatan motor yang dahulu menjadi ciri khasnya kini hampir mustahil dilakukan. Kehadiran perangkat aerodinamika modern menghasilkan efek downforce yang sangat besar. Saat motor kehilangan traksi pada sudut kemiringan ekstrem, fairing dan aerodinamika justru membuat roda semakin sulit kembali mencengkeram aspal sehingga peluang melakukan “save” hampir tak ada lagi.
“Sekarang aksi save sudah hampir mustahil dilakukan. Aerodinamika dan downforce membuat motor langsung kehilangan traksi saat melewati batas. Dulu, terutama dengan Honda, saya masih bisa ‘bermain’ di limit dan menyelamatkannya dengan lutut, siku, dan seluruh tenaga saya,” katanya..
Menurutnya, karakter motor Honda pada masa lalu jauh lebih bisa diajak “bermain” di batas kemampuan. Saat itu ia masih dapat memanfaatkan lutut maupun sikut untuk membantu menegakkan motor ketika kehilangan keseimbangan. Sebaliknya, motor MotoGP modern terasa jauh lebih kaku dan sangat bergantung pada perangkat elektronik. Sekali kendali hilang, hasil akhirnya hampir selalu berujung crash.
Di sisi lain, Marquez juga mengenang salah satu keputusan terbesar dalam kariernya ketika meninggalkan Honda setelah 12 musim bersama pabrikan Jepang tersebut. Ia mengaku sempat diliputi keraguan apakah dirinya masih mampu beradaptasi dengan motor dari pabrikan lain.
Namun semua kekhawatiran itu langsung menghilang begitu pertama kali menjajal Ducati. Ia merasa nyaman sejak awal, sesuatu yang bahkan tidak ia bayangkan sebelumnya.
Adaptasi tersebut juga membuatnya merasakan sambutan luar biasa dari para penggemar Ducati saat menghadiri World Ducati Week. Marquez mengaku tak menyangka bisa mendapatkan begitu banyak dukungan hanya dalam waktu singkat. Meski demikian, ia juga merasa sedih karena tak mampu memenuhi keinginan seluruh penggemar yang rela mengantre di bawah terik matahari untuk bertemu dengannya.

Rival Masa Lalu..
Sementara itu, ketika berbicara mengenai rival-rival terbaik sepanjang kariernya, Marquez tetap menunjukkan sikap rendah hati. Ia mengaku selalu berusaha menganggap para pesaingnya lebih kuat daripada dirinya sendiri. Cara berpikir seperti itu membuatnya terus termotivasi untuk berkembang dan tidak cepat merasa puas.
Ia juga mengenang salah satu momen paling berkesan dalam kariernya saat menjalani tes di Austin pada 2013. Ketika itu ia mampu mencatat waktu sekitar 1,5 detik lebih cepat dibanding Dani Pedrosa, Valentino Rossi, dan Jorge Lorenzo. Selisih tersebut bahkan membuat sebagian orang sempat menduga ia memotong chicane, padahal menurut Marquez semua itu ia lakukan dengan sangat mudah.
Meski sudah meraih begitu banyak prestasi, Marquez ngaku tetap senang mendengarkan pengalaman para pembalap lain. Ia pernah berdiskusi dengan Casey Stoner mengenai motivasi setelah cedera bahu, sekaligus terus serap pelajaran dari Jorge Lorenzo maupun Dani Pedrosa.
“Pedrosa adalah talenta murni. Dengan postur dan bobot tubuhnya, bisa mengendarai motor MotoGP lalu memenangkan balapan adalah sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh pembalap dengan bakat luar biasa,” kata Marc tentang Dani Pedrosa..

Masing-masing rivalnya, menurut Marquez, memiliki kelebihan yang selalu ia kagumi. Ia mengagumi konsistensi Lorenzo dalam mencatat waktu putaran yang nyaris identik sepanjang balapan, bakat alami Pedrosa yang mampu menjinakkan motor MotoGP meski bertubuh kecil, ledakan performa Stoner yang bisa langsung memecahkan rekor lap hanya dalam beberapa putaran, serta kecerdasan Rossi dalam mengelola balapan hingga mampu menang pada hari Minggu meski sepanjang akhir pekan tak selalu jadi yang tercepat.
Nah, kalau disuruh menyebut satu kelebihan dari dirinya sendiri, Marquez lebih memilih karakternya yang kuat dan teguh memegang prinsip. Bagi dia, modal itulah yang bikin dia bisa terus bertahan menghadapi berbagai perubahan besar. Mulai dari badai cedera parah, evolusi motor MotoGP yang makin canggih, sampai keharusan buat ngerem instingnya sendiri…padahal insting liar itulah yang selama ini jadi identitas paling melekat dalam dirinya sebagai seorang pembalap.














