Sebastian Risse (KTM): Tekanan Ban Belum Distandarisasi dan Disertifikasi, Jadi yang Bilang Ilegal?

RiderTua.com – Akhir-akhir ini, topik mengenai tekanan ban di MotoGP kembali menjadi polemik. Insinyur KTM, Sebastian Risse mengatakan bahwa tekanan ban belum distandarisasi dan disertifikasi. Sensor tekanan ban MotoGP yang ada saat ini, tidak akurat dan dapat dengan mudah dimanipulasi (yang sekarang tekanan ban sesuai belum tentu sebenarnya sesuai). Sehingga pabrikan tidak bisa dihukum jika memiliki tekanan angin yang kurang. Dan menurut Michelin tidak semua ban dengan tekanan kurang menguntungkan pembalap, tergantung gaya balap dan sesuai kondisi trek, namun yang utama tetap pada kondisi aman untuk pembalap.. Seri-seri sebelumnya kalau dibuka datanya mungkin tidak hanya Pecco Bagnaia yang tekanan ban kurang. Hal ini di Jerez juga terjadi pada Johann Zarco, Martin, Alex Rins dan Andrea Dovizioso, tapi tidak ada sanksi yang dijatuhkan karena situasinya rumit.

Sebastian Risse: Tekanan Ban Belum Distandarisasi dan Disertifikasi

Ing. Sebastian Risse dari KTM berusaha menjelaskan masalah tekanan ban yang rumit ini.

Sekarang publik tahu bahwa sensor tekanan ban ini tidak memberikan hasil yang kredibel. Katanya alat ini bahkan bisa dimanipulasi. Apakah itu benar? “Pabrikan motor dapat pergi ke pemasok dan berkata, ‘Saya ingin varian khusus untuk saya’. Kemudian pelanggan dapat mengungkapkan permintaan khusus tertentu dan mungkin merancang satu atau yang lain sedikit berbeda,” jawab Risse.

Pakar dari KTM itu menambahkan, “Sistem ini tidak distandarisasi atau disertifikasi. Tentu, ada ‘lembar spesifikasi’ dengan toleransi tertentu. Tapi ini terkadang sangat besar. Kita berbicara tentang plus/minus 0,175 bar. Jika kita memilih sensor yang tepat, kita dapat membayangkan apa yang terjadi di dalam garasi. Kemudian kita segera memperoleh hampir 0,2 bar.”

Apakah setiap pabrikan mendapatkan rilis tekanan ban setelah balapan? “Saya tidak bisa mengatakan apa-apa tentang itu. Ini adalah perjanjian internal dari asosiasi produsen MSMA. Jelas ada tuntutan agar catatan-catatan ini tidak dibagikan kepada siapa pun. Hal ini juga tidak perlu dibahas,” tegas Risse.

Kini muncul pertanyaan, jika sejak 2016 tidak ada solusi yang ditemukan, bagaimana seharusnya bisa diterapkan pada awal musim 2023? Risse menjawab, “Pada dasarnya, dalam hal tekanan ban tidak semuanya dilarang. Kita dapat didenda jika kita tidak mengikuti rekomendasi Michelin dan menjalankan tekanan ban lebih rendah dari yang mereka resepkan. Soalnya regulasi itu mengacu pada tekanan ban saat berkendara di balapan. Dan sulit diprediksi!”

Apakah ada kemungkinan 6 pabrik akan menyepakati sensor standar dalam beberapa bulan ke depan? Bahwa semua tim mendorong diri mereka sendiri hingga limitnya jelas dan dapat dimengerti. “Jika sensor standar ditentukan untuk 2023 dan pabrikan memberikan dukungan yang sesuai, kami dapat membayangkan bahwa akan ada solusi bersama,” ungkap Risse.

Insinyur asal Austria itu melanjutkan, “Tapi race direction atau direktur teknis harus terlebih dulu mengecek, apakah sensor tersebut masih bisa diutak-atik oleh pabrikan atau tim. Infrastruktur kelistrikan harus mumpuni sehingga kita tidak dapat memanipulasi apa pun di antara sensor dan login. Jika itu berhasil, itu pasti bisa terwujud.”

“Meski demikian, tim tetap kesulitan untuk memprediksi dengan tepat nilai tekanan ban di akhir balapan. Dan itu akan dialami semua orang. Karena ada regulasi untuk tekanan ban minimal. Di sisi lain, tekanan ban yang lebih tinggi sangat penting untuk meningkatkan performa dan keselamatan pembalap. Bukan karena ban bisa pecah, tapi karena jika tekanannya terlalu tinggi, maka grip dan rasa berkendara jadi kurang,” pungkas Risse.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Trending Post

Latest Articles

Gerakan Literasi Nasional

Ayo Kita Dukung

Archives