Lin Jarvis: Kasus Vinales…Ruwet!

RiderTua.com – Lin Jarvis: Kasus Vinales paling ruwet, yang belum pernah dialami Yamaha dan bikin stres… Tidak ada pabrikan MotoGP yang mengalami begitu banyak ‘gonjang-ganjing’ seperti Yamaha dalam 1,5 tahun terakhir. Yamaha menjadi sorotan di musim MotoGP 2021, ketika Fabio Quartararo memenangkan gelar dunia. Namun perpisahan dengan Vinales, mundurnya sponsor Petronas dan Rossi, serta pencarian pembalap pengganti Vinales menimbulkan banyak kesedihan dan stres. “Kejadian yang paling sulit dan menegangkan adalah kasus Vinales,” kata Jarvis.

Lin Jarvis: Kasus Vinales Bikin Stres

Musim lalu, Maverick Vinales mengambil alih kepemimpinan klasemen tepat di awal musim di Qatar. Setelah itu Fabio Quartararo menampilkan dirinya dalam performa luar biasa selama berbulan-bulan, sementara lawan kuat dari skuat Ducati (Zarco, Miller, Bagnaia, Martin, Bastianini) merebut poin satu sama lain.

Kemudian pada bulan Juni, muncul gonjang-ganjing di Yamaha. Vinales mengungkapkan alasan, kenapa performanya fluktuatif di musim ke-5 nya di Yamaha. Pembalap berusia 26 tahun itu mengatakan bahwa M1 hanya mampu bersaing 4 kali dalam setahun.

Namun pada saat ini kita bisa melihat bahwa, Yamaha meraih 12 kemenangan GP dalam waktu 13 bulan. Fabio Quartararo langsung menuju gelar Kejuaraan Dunia 2021, dia bertahan dengan selisih lebih dari 50 poin di depan para pesaing kuatnya untuk waktu yang lama. Rider asal Prancis itu menorehkan 5 kemenangan musim ini dan berada di barisan depan 14 kali dalam 18 balapan.

Kemudian Vinales berhasil memutuskan kontrak dengan Yamaha saat GP Assen-Belanda pada akhir musim, dia tidak puas dengan hal itu. Di GP Styria, pembalap asal Spanyol itu mempraktikkan semacam penolakan untuk bekerja, berkeliling di tempat terakhir selama tiga hari dan melakukan segalanya dalam perlombaan untuk menyiksa mesin M1.

Itu menyebabkan Yamaha bertindak tegas, mereka kemudian melarang Vinales untuk balapan di GP Austria dan melepaskannya ke Aprilia untuk sisa musim setelah pemutusan kontrak sebelum GP Silverstone.

Yamaha dan Petronas SRT Kacau

Tentu saja mencari pembalap pengganti yang setara tidak mudah di pertengahan musim. Terutama karena runner-up Franco Morbidelli harus menjalani operasi lutut sebelum GP Assen. Dia kemudian absen hingga GP Misano pada pertengahan September. Ini artinya, selama hampir 3 bulan.

Petronas kemudian memasukkan pembalap pengganti seperti Garrett Gerloff atau Jake Dixon. Selain itu tes rider Cal Crutchlow juga harus bekerja bahkan di Monster Yamaha Factory Team.

Di Yamaha, satu per satu masalah harus diselesaikan selama fase ini. Morbidelli menggantikan Vinales, jadi masalah seperti tidak ada habisnya. Kemudian masalah personel memburuk ketika Rossi mengumumkan pengunduran dirinya di akhir musim, sehingga tim satelit kehilangan dua pembalap untuk 2021. Dan pembalap incaran lainnya semuanya memiliki kontrak hingga akhir musim 2022.

Tim satelit SRT Yamaha melirik bintang Superbike Toprak Razgatlioglu dan pembalap KTM Moto2 Raul Fernandez. Tetapi rider asal Turki itu ingin fokus untuk memenangkan gelar SBK hingga 21 November di Mandalika. Terlambat untuk kepala tim Razlan Razali, yang sekarang ingin merekrut Juara Dunia baru untuk 2023.

Drama lainnya adalah, di GP Styria diketahui bahwa Petronas mengundurkan diri sebagai sponsor utama tim SRT setelah 3 tahun. Bak pepatah ‘sudah jatuh tertimpa tangga pula’, tidak hanya dua pembalap yang hilang, tetapi juga kehilangan sponsor utama.

WITHU dengan cepat masuk sebagai sponsor, Andrea Dovizioso dan Darryn Binder dipekerjakan sebagai pembalap untuk tahun 2022.

Lin Jarvis selaku Managing Director Yamaha Motor Racing, jelas berada dalam ‘mode krisis’ selama berminggu-minggu.

Bos asal Inggris itu mengatakan, “Kejadian yang paling sulit dan menegangkan adalah kasus Vinales. Karena itu adalah insiden yang benar-benar belum pernah terjadi sebelumnya. Selama saya di Yamaha, saya belum pernah melihat pembalap pabrikan diskors oleh keputusan pabrikan. Tapi menurut kami, kami tidak punya pilihan lain. Namun, proses ini memiliki berbagai konsekuensi. Apa yang terjadi di sana memicu reaksi berantai.”

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Trending Post

Latest Articles

Gerakan Literasi Nasional

Ayo Kita Dukung

Archives

You cannot copy content of this page