RiderTua.com – Di kubu Yamaha, hanya Fabio Quartararo yang akan sukses pada 2021… Setelah Red Bull Grand Prix Amerika di Austin, Fabio Quartararo memimpin Kejuaraan Dunia Pembalap dengan 52 poin di depan Pecco Bagnaia (Ducati). Dan di Kejuaraan Dunia pabrikan, Yamaha terpaut 9 poin di belakang pabrikan asal Italia itu. Di Kejuaraan Dunia tim, Ducati Lenovo memimpin dengan selisih 2 poin dari tim Monster Energy Yamaha. Yamaha berpeluang memenangkan Triple Crown untuk pertama kalinya sejak 2015 (dengan Jorge Lorenzo dan Valentino Rossi). Kecuali pemimpin klasemen Quartararo, semua pembalap Yamaha tampil mengecewakan tahun ini. Bahkan Yamaha ‘diejek’ oleh pembalapnya sendiri.. Di mana pada akhir Juni lalu di GP Belanda, Vinales mengklaim bahwa Yamaha hanya mampu bersaing 4 kali dalam setahun. Pernyataan ini dipandang sebagai bentuk ‘kekurangajaran’ oleh orang-orang Jepang.
▶Daftar Isi
Yamaha: Hanya Quartararo yang akan Sukses Pada 2021
Yamaha memenangkan 13 dari 29 balapan di kelas MotoGP sejak awal musim 2020. Fabio Quartararo meraih 8 kemenangan, Morbidelli 3 kali dan Vinales 2 kali. Sedangkan Ducati, hanya merayakan 7 kemenangan selama periode ini (Miller 2 kali, Bagnaia 2 kali, Dovizioso 1 kali, Petrucci 1 kali, Martin 1 kali). KTM dengan 5 kemenangan (Oliveira 3 kali, Binder 2 kali. Tim biru silver Suzuki dengan 2 kemenangan (Rins 1 kali, Mir 1 kali), Honda punya Marc Marquez yang mengumpulkan 2 kemenangan GP.
Namun para manajer Yamaha harus menghadapi beberapa kemunduran dalam beberapa bulan terakhir. Pertama, pemutusan kontrak Maverick Vinales untuk tahun 2022 di Assen pada akhir Juni. Kemudian skorsing setelah kecerobohan (finis di tempat terakhir, beberapa upaya yang disengaja untuk menyebabkan kerusakan mesin) di GP Styria dan setelah itu langsung berpisah sebelum GP Silverstone.
Namun penampilan para pembalap Yamaha lainnya juga meninggalkan banyak tanda tanya. Vinales setidaknya berada di peringkat 6 dalam klasemen sebelum perpecahan. Tapi Morbidelli merasa kesulitan saat balapan akibat cederanya. Podium di Jerez adalah puncaknya. Sekarang Franky hanya di peringkat 17 dan Valentino Rossi peringkat 21 dalam klasemen. Dovizioso telah mengantongi 3 poin dalam 2 balapan, sementara tes rider Cal Crutchlow tidak mencetak 1 poin pun dalam 4 penampilan.
Hasil Ini Melemahkan Peluang Yamaha di Kejuaraan Dunia Pabrikan dan Tim.
Pada akhir Juni lalu di GP Belanda, Vinales mengklaim bahwa Yamaha hanya mampu bersaing 4 kali dalam setahun. Pernyataan ini dipandang sebagai bentuk kekurangajaran oleh orang-orang Jepang. Pernyataan itu juga diperhitungkan, ketika pertama kali pembalap asal Spanyol itu diskors untuk GP Spielberg kedua dan kemudian diserahkan ke Aprilia untuk sisa musim.
Pada saat itu, Quartararo telah meraih 7 kemenangan GP dalam 1 tahun dengan Yamaha. Sementara Vinales hanya memenangkan 8 kali dalam 4,5 tahun di Yamaha.
Sekarang Vinales mengalami masa berkabung dengan kematian sepupunya Dean Berta yang baru berusia 15 tahun di Jerez. Selain itu juga karena ayahnya Angel Vinales adalah pemilik tim Supersport 300 Yamaha.

Lin Jarvis selaku Managing Director Yamaha Motor Racing, menyesalkan akhir yang mengecewakan dari kolaborasi dengan Juara Dunia Moto3 tahun 2013 itu. “Kami kecewa, bagaimana kolaborasi dengan Maverick berakhir seperti ini. Karena kami selalu 100 persen mendukungnya. Kami memulai kolaborasi ini, ketika kami membawanya pergi dari Suzuki pada 2017. Kami menyadari potensinya di sana. Sayang sekali kami tidak dapat mewujudkan potensi ini seperti yang diharapkan,” ujar bos Yamaha Racing itu.
Lin menambahkan, “Vinales mencapai peringkat 3 dalam klasemen di Yamaha pada 2017 dan 2019, tetapi dia tidak pernah naik menjadi penantang hebat bagi Marc Marquez. Hanya Andrea Dovizioso yang mencapai itu di Ducati. ”
Maverick Vinales, terpikat ke Yamaha sebagai penerus juara dunia MotoGP 3 kali Jorge Lorenzo. Tetapi setidaknya dalam 3 tahun pertama, dibayangi oleh dominasi Rossi dan oleh pembalap tim satelit seperti Folger, Zarco, Quartararo dan Morbidelli.







