Perpisahan Dovizioso dan Ducati Siapa yang Salah?

Perpisahan Dovizioso dan Ducati Siapa yang Salah?
Perpisahan Dovizioso dan Ducati Siapa yang Salah?

RiderTua.com – Perpisahan Dovizioso dan Ducati siapa yang salah? .. Fabiano Sterlacchini mantan insinyur Ducati (pensiun akhir 2019) ini berusaha menilai dengan adil, namun dia juga mengingat kasus Stoner dalam masalah perceraian ini. Ducati harus punya Stoner dalam bentuk baru untuk bisa Juara Dunia..

Perpisahan Dovizioso dan Ducati siapa yang salah?

Memang antara Andrea Dovizioso dan Ducati, memiliki akhir cerita yang tidak menggembirakan. Sebuah epilog ( kata penutup yang mengakhiri sebuah cerita) yang akhirnya berujung pada: siapa di antara pembalap atau pabrikan yang paling bertanggung jawab dalam perpisahan Dovi – Desmo ini?..

Menjadi pembalap Ducati selalu terlihat rumit, dan semua itu dipahami oleh Fabiano Sterlacchini, dia adalah seorang insinyur selama lebih dari tujuh belas tahun di Ducati, peran terakhirnya adalah koordinator teknis, semacam tangan kanan Gigi Dall’Igna, dan dia meninggalkan tim merah itu di akhir tahun 2019.

Perpisahan Dovizioso dan Ducati Siapa yang Salah?
Perpisahan Dovizioso dan Ducati Siapa yang Salah?

Fabiano Sterlacchini dengan jelas mengatakan kedua sisi baik Dovi maupun Ducati yang betanggung jawab atas kegagalan ini. Hal ini dia ungkapkan dalam media Gazzetta dello Sport.

Ducati Ambil Risiko

Menurutnya Ducati yang bertanggung jawab: “Mungkin tidak terlalu pintar untuk mengucapkan selamat tinggal kepada kedua pembalap (Dovi-Petrucci).. Saya memahami logika pasar, tetapi Ducati mengambil risiko suasana yang sangat negatif. Masalah utama perselisihan secara teknis adalah kelemahan Ducati di tengah tikungan, dengan ban belakang baru yang mengubah keseimbangan motor,” kata Sterlacchini.

“Ducati memanfaatkan pengereman yang memungkinkan pengereman lebih banyak di bagian belakang tanpa terlalu banyak di depan. Saya perhatikan di televisi bahwa ini tidak terjadi lagi. Jadi jika Ducati menambahkan masalah teknis ke bagian motivasi, ini seperti menggabungkan masalah dengan masalah lainnya: Ducati menciptakan masalah baru”.

Dovizioso Harus Mencontoh Stoner

Kemudian dia beralih ke Dovizioso.. “Andrea mengulangi bahwa tanpa menyelesaikan masalah mendasar, kami tidak akan pergi ke mana-mana. Dan tahun ini perasaan itu lebih buruk karena ban. Itu adalah sesuatu yang naluriah di benak seorang pembalap. Maka saya jujur, pembalap yang sangat kuat harus memiliki pikiran yang berbeda dari Andrea, dia harus tetap tenang dan bertekad serta mengatasi masalah. Kesedihan terkadang membuatnya terkurung. Bagi saya, pembalap yang kuat tidak secara obsesif berusaha mencapai kesempurnaan (teknis), seperti Stoner ”.

Dovizioso mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Dia memenangkan enam balapan pada 2017, lalu empat, lalu dua dan satu tahun ini. Dalam prakteknya di lintasan semuanya menjadi sulit. Mendapatkan kecepatan setengah detik dengan sisi teknis tidak mungkin, tetapi jika menambahkan motivasi pada pembalap, mereka akan kuat, dan sebaliknya, motivasi harus didukung dengan teknis (mesin yang inovatif). Namun mudah untuk melakukan kesalahan jika pembalap sudah kehilangan motivasinya.

Namun, kini kedua belah pihak (Ducati dan Dovi) memahami di mana kepentingan mereka sehingga harus berpisah. Andrea Dovizioso telah memilih tahun cuti panjangnya, sementara Ducati telah meninjau kembali formula-nya dan bertaruh pada pembalap muda dalam perekrutannya …

Ducati harus punya Stoner baru untuk juara dunia, pembalap yang tidak terlalu menuntut teknis dan punya motivasi besar.. Karena menurut Fabiano Sterlacchini: Pembalap yang kuat tidak secara obsesif berusaha mencapai kesempurnaan dan itu ada pada Stoner..

Be the first to comment

Leave a Reply