Efek Domino Sebuah Varian…. Karena Memuaskan…???

RT punya temen kerja dimana pada saat awal punya motor dia adalah pemakai motor jenis bebek merk A (100-ancc)….. namun seiring berjalannya waktu pengin juga naik kelas… dan berhubung ada iklan yang menarik perhatian dia dan gencarnya pemberitaan maka dia memilih motor sport 150cc merk B….. dan apa yang terjadi berikutnya..???


Sejauh RT perhatikan temen saya itu merasa nyaman dan puas dengan motor barunya itu… bahkan sempat dia pasang asesoris dan modif ringan, bukti dia memang “cinta” sama motor barunya yang memang secara brand sudah “menyeberang” dari motor lamanya… lalu apa yang dimaksud dengan efek dominonya…?? begini ceritanya temen tadi mau beli skutik tapi kenapa dia justru milih skutik dari merk B…?

Yah bisa jadi akibat dari setiap kali dia servis motornya ke dealer B..selalu dia temui motor-motor baru merk B… atau karena dia tidak puas dengan motor merk A…??? atau karena pengaruh motor sport yang sekarang dia punya… ? tapi perkiraan RT semua memang berawal dari pengaruh motor yang dia miliki sekarang…puas dengan motor merk B yang kelas sport..dan percaya juga bahwa menurut dia yang jenis lainpun akan sama bagusnya… atau faktor psikologis bahwa bermacam merk “tidak serasi”…???

Pertanyaannya…. merk motor apakah A itu…? :mrgreen:聽 (jangan serius dong…)

52 Comments

  1. wah kalau saya tidak memilih motor berdasarkan brand,
    apa mungkin saya tidak begitu fanatik terhadap suatu merk.
    saya memilih motor berdasarkan kemampuan, kebutuhan/fungsi,
    serta impian.
    saat ini saya memiliki 3 motor dengan brand yang berbeda.
    * Honda (Sufra Fit), motor pertama saya yang saya beli berdasarkan
    jerih keringat saya sendiri, Alhamdulillah masih saya miliki sampai
    detik ini. mengapa saya memilih motor ini karena waktu itu KEMAMPUAN
    saya hanya sampai begitu. Jadi saya memilih yang Murah Meriah.
    * SUZUKI (Spin), motor kedua yang saya miliki yang saya persembahkan
    kepada sang istri. motor ini saya pilih berdasarkan KEBUTUHAN/FUNGSI, motor jenis matic dengan cc terbesar pada waktu itu serta body yang tidak bongsor saya rasa sangat tepat untuk menunjang aktivitas harian istri saya.
    * KAWASAKI (Ninja 150 r) ini motor IMPIAN saya ketika saya kls 1 SMA, motor yang membuat saya TERPANA ketika itu dan akhirnya saya miliki. Saat pembelian motor IMPIAN itu saya itu mengalami cobaan dari para sales yang lebih menganjurkan saya membeli Ninja RR atau langsung NINJA 250 karna lebih GAGAH dan KEREN. saya hampir tergoyah sesaat karna bujuk rayuan karna secara secara KEMAMPUAN saya sanggup memilikinya. saya berpikir secara dalam haruskah saya MENCORET motor IMPIAN semenjak BELASAN TAHUN yg lalu dan menggantinya secara mendadak berdasarkan KEMAMPUAN. No no no 路路路路路路 Akhirnya saya tetap memilih motor impian saya, bukan Ninja RR ataupun Ninja 250 yang keduanya belum ada ketika saya duduk dibangku SMA . Banyak teman saya mengatakan bahwa itu adalah Keputusan yang BODOH. tapi bagi saya itu adalah keputusan yang PINTAR, karna mampu mewujudkan Impian adalah suatu KEBAHAGIAAN

  2. Tergantung tingkat kepuasan pas pindah ke merk B gan, klo ga puas ya akhirnya balik lagi ke merk A, bokap dulu pake Yamaha Alfa, trus pindah ke Honda SX125 cma ga betah sma bodi nya jadi balik ke yamaha lgi NJMX sma Vixion. N motor yg di pake orang tua berefek ke anak loh, adik ane aja klo disuruh milih motor skutik pnginnya yamaha mulu. Btw tapi harus di akui SX125 msinnya emang jos syg bodi nya bkin ilfiil. 馃檨

  3. Kalau belinya susah payah pasti ngopenine tenanan (mikir rekasane yen rusak banjur tuku meneh)
    Brand memang menjadi alasan orang membeli yang paling sederhana seperti membeli roti, toko roti yang sudah terkenal akan dipilih walau sebenarnya untuk beberapa makanan tidak membuat sendiri tetapi memesan di pabrik roti rumahan.
    Pembeli juga membeli lemper, jadah, lenjongan dll di toko roti terkenal tersebut padahal belum tentu lebih enak dari tempat lain — mungkin ini efek dominonya
    Alasannya
    – dalam pikiran sudah pasti sama berkualitasnya semua makanan yang ditawarkan
    – efektif, beli di tempat yang sama tidak repot ketempat lain (kalau motor servis bisa di tempat yang sama, teknisi yang sama)
    – terlanjur jatuh hati (FB mania termasuk ngak ya??)
    – ikut-ikutan atau takut sama pilihan ortu, mertua, istri suami, anak, saudara, tetangga …
    – yang jaga cantik, siapa tahu kecantol (kan sering servis he he)
    – sparepart di pasar maling selalu tersedia

    Brand sudah jelas berkisar H,Y,S tapi soal rasa selera masing-masing dan bersifat sementara ada kemungkinan pindah ke lain hati

    Last bagi saya brand adalah Beda Rasa Antar Nama Dagang

  4. Kalau melihat turun naiknya jumlah konsumen dari tiap-tiap merk, merk apa yang dulu pernah meroket tapi sekarang terus melorot, kayaknya itulah merk yang banyak ditinggalkan . Sebaliknya yang dulu pernah hampir kesalip tapi sekarang kembali dominan dan terus tumbuh, itulah motor pilihan sebanarnya. Jare wong jowo, ra koyo bojo lawas.
    Gak nyebut merk, silakan ditafsirkan sendiri, motor apa yang paling lawas bagi kebanyakan konsumen Indonesia.

  5. Setuju banget dengan Pak RT, lalu merk apa yang bisa memberikan kepuasan konsumen pada segmen yang paling banyak dibeli konsumen, itulah pemenangnya. Fakta membeuktikan. Conto konkret, semua konsumen puas dengan motor 250 cc yang dua silinder itu, tapi berapa jumlah mereka?

  6. konsumen yang menilailah, buktinya mindset konsumen pasti milih yang bagus dan berkualitas, mo tu merk abal2 sekalipun, mahal atau murah sekalipun, klo testimoninya bagus dan berkesan ya cocoklah :mrgreen:

  7. Menurut kami konsumen Indonesia kebanyakan latah atau sangat mengikuti trand yang lagi update.
    Namun pabrikan yang selalu mengeluarkan produk barunya tidak selalu semakin bertambah bagus : baik dari segi Desain ato enginnya maka dari itu konsumen yang sudahh bosan ato yang sudah pintar dalam menentukan pilihannya akan konsumtif dengan
    memperhitungkan aspek kebutuhan untuk disesuaikan keadaan. http://orderdesign.wordpress.com 馃檪

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*