RiderTua.com – Balapan di Silverstone masih saja menarik untuk dibahas, terutama penampilan Marc Marquez yang tidak impresif seperti biasanya. Rider Ducati Lenovo itu hanya mampu finis di posisi ke-9 dan ke-7 dalam 2 balapan. Pengamat Oscar Haro melontarkan kritikan tajam pada Ducati atas hasil buruk Marquez di GP Inggris. Salah satu masalah yang dia soroti berkaitan dengan persiapan menggunakan ban soft menjelang sprint race pada hari Sabtu.
“Tidak ada satu pun orang di Ducati yang melakukan simulasi balapan menggunakan ban soft. Menurut saya, itulah kesalahan Ducati pada hari Sabtu. Tingkat selip ban yang tinggi di Silverstone, menyebabkan ban sangat cepat habis dan secara bertahap mengubah karakteristik pengendalian motor,” ujar Haro.
โถDaftar Isi
Pengamat Kritik Ducati: Seharusnya Tim Teknis Lebih Baik dalam Merespons Masalah yang Dirasakan Marc Marquez

Oscar Haro menambahkan, “Menurut saya apa yang terjadi pada hari Sabtu, itu benar-benar kesalahan. Maaf atas kata dan ungkapannya, tetapi itu pendapat saya. Ducati melakukan pekerjaan yang buruk. Dengan suhu lintasan yang berkisar di angka 45 derajat Celsius, Ducati seharusnya mengumpulkan lebih banyak data sebelum menentukan strategi mereka. Sebelum sprint race, Ducati seharusnya sudah mengetahui bahwa ban soft akan mengalami masalah besar akibat kondisi lintasan di Silverstone yang cukup ektrem.”
Meski begitu, Haro juga menegaskan bahwa Marc Marquez sendiri juga harus bertanggung jawab atas hasil buruk tersebut. “Apakah Marc Marquez memikul sebagian tanggung jawab? Tentu saja. Masalah tersebut bukan sepenuhnya kesalahan Marc. Ketika Marc sudah menyampaikan masalah yang dirasakannya kepada tim, tim teknis seharusnya memberikan respons dan solusi yang tepat. Jadi, masalahnya bukan Marc. Masalahnya ada pada tim teknis. Mereka harus mencari solusi untuk pembalapnya,” imbuhnya.
Sebagai contoh, Haro secara khusus merujuk pada Alex Marquez yang sempat bersaing untuk memperebutkan podium sebelumnya akhirnya kehilangan posisi. Rider Gresini Ducati itu dua kali finis di posisi ke-4 dalam dua balapan di Silverstone. “Alex memiliki gaya balap yang jauh lebih halus, dan hal itu memungkinkannya mencapai posisi tersebut. Gaya balapnya yang lebih halus membantunya dalam mengelola ban dengan lebih baik. Namun setelah kehilangan beberapa posisi, Alex harus bekerja keras untuk kembali mengejar. Akibatnya, dia menekan habis-habisan ban dan akhirnya gripnya tidak cukup untuk menghadapi bagian akhir balapan,” jelasnya.

Kalah dari Aprilia Bukan Karena Ducati Tidak Kompetitif Tapi Karena Kinerjanya yang Buruk
Aprilia sukses mendominasi Sprint Race dan Race Utama di Silverstone dengan menyapu bersih podium. Jorge Martin memenangan sprint dan Raul Fernandez memenangkan grand prix hari Minggu. Haro menyoroti mentalitas Fernandez yang semakin kuat. Menurutnya, Fernandez sendiri pernah mengakui bahwa dirinya masih harus benar-benar yakin bahwa dia mampu secara konsisten memenangkan balapan MotoGP danย rasa percaya diri tersebut biasanya muncul secara bertahap ketika seorang pembalap mulai mendapatkan hasil yang bagus.
Haro menjelaskan, “Selisih 0,2 atau 0,3 detik itu berasal dari hal seperti ini, ketika kamu berada di antara 3 atau 4 pembalap teratas di klasemen dan mulai melihat dirimu sendiri mampu bertarung di sana. Cara Fernandez menghadapi balapan setelah melepaskan ketegangan yang sempat muncul selama sesi warm up, cukup mengesankan. Kemampuan mengelola tekanan tersebut mengingatkan kita pada beberapa penampilan Jorge Lorenzo dulu.”

Menurut Haro, ada perbedaan antara Martin dan pembalap Aprilia lainnya ketika menghadapi tekanan dalam perebutan gelar dunia. “Dia satu-satunya yang memiliki modal yang dibutuhkan untuk bersaing memperebutkan juara dunia. Pengalaman Martin dalam pertarungan perebutan gelar dunia sebelumnya adalah modal yang sangat krusial. Jadi, bukan hanya soal kecepatan motor atau kemampuan mengendarai motor, tetapi juga pengalaman menghadapi tekanan selama satu musim penuh,” ujarnya.
Terlepas dari hasil di Silverstone, Haro melihat bahwa Martin tampaknya sudah menemukan arah teknis yang jelas dengan Aprilia. “Dia sendiri bilang bahwa dia sudah menemukan set-up dasar motornya. Dengan kata lain, dia berkata, ‘sekarang kami tahu bahwa ketika motor diatur dengan tepat, saya berada dalam posisi untuk menang’. DNA Jorge telah berubah. Dia sudah lebih dewasa dan menyadari bahwa seseorang bisa memenangkan gelar dunia tanpa harus memenangkan setiap balapan,” jelasnya.
Mengapa Ducati bisa kalah dari Aprilia di Silverstone? “Motor Ducati jauh lebih agresif, sehingga boros ban. Sedangkan motor Aprilia, jauh lebih ‘ramah’ terhadap ban,” jawabnya.
Lalu Haro menjelaskan bahwa setiap sirkuit memiliki karakteristik yang berbeda-beda. “Jarak sumbu roda (wheelbase), stabilitas, pengendalian (handling), dan aerodinamika semuanya memengaruhi performa. Pabrikan harus mencari keseimbangan karena mereka tidak mungkin memiliki motor yang dirancang khusus untuk setiap trek. “Kita tidak bisa membuat motor yang sempurna. Karakteristik yang dibutuhkan di Silverstone berbeda dengan yang diperlukan di sirkuit lain, misalnya Aragon. Dan itulah sebabnya, performa sebuah pabrikan bisa berubah drastis dari satu sirkuit ke sirkuit lainnya,” tegas Haro.
Meskipun Aprilia tampil sangat kuat di Silverstone, tapi Haro tidak menganggap hasil tersebut sebagai bukti bahwa Ducati sudah kehilangan daya kompetitifnya. “Saya sangat yakin, kalau Ducati melakukan tugasnya dengan benar, Marc akan berada di baris depan atau bahkan bisa finis di podium. Itu adalah kinerja buruk dari Ducati. Menurut saya selisih performanya tidak sebesar itu,” jelasnya.

Vinales Vs KTM: Ini Soal Ego!
Oscar Haro juga mengomentari perselisihan antara Maverick Vinales dengan KTM. Haro bahkan mempertanyakan, apakah masalah bahu benar-benar menjadi satu-satunya alasan di balik performa buruk Vinales? “Menurut saya, masalahnya bukan pada bahu. Ini soal ego dan fakta bahwa dia tidak ingin berada di tim itu. Karena dia merasa, mereka telah menghancurkan karier balapnya,” ungkapnya.
Kemudian Haro membandingkan situasi Vinales dengan performa Pedro Acosta di atas motor KTM yang bak bumi dan langit, jauh bener! “Ada pembalap bernama Pedro Acosta yang benar-benar mampu memacu motornya hingga batas maksimal, dan dia selalu masuk 5 besar di setiap balapan dengan motor itu. Motornya bekerja dengan baik. Memang bukan motor pemenang, tetapi Pedro memberikan 110 persen dengan motor itu,” tegasnya.
Haro mengkritik hasil yang mampu Vinales dapatkan. “Kita tidak bisa terus finis di posisi ke-18, 19, 21, atau 15. Itu tidak bisa dibenarkan,” ujarnya.
Apakah situasi Vinales saat ini sama seperti yang dialami Marc Marquez saat cedera bahu? “Kita tidak bisa membandingkan Maverick dengan Marquez. Dengan segala hormat, kita tidak bisa membandingkan keduanya,” bantah Oscar Haro. Menurutnya, situasi, level performa, pengalaman, dan kapasitas Marc Marquez berada di level yang berbeda dari Vinales, sehingga keduanya tidak bisa dijadikan perbandingan langsung.












