RiderTua.com – Pembaca RiderTua yang budiman, ada info terbaru nih. Marco Bezzecchi tampil mendominasi dalam 3 seri MotoGP pertama musim ini. Dalam race hari Minggu dia tak terkalahkan, memimpin balapan tanpa ada satu pun pembalap yang mampu menyainginya. Rider pabrikan Aprilia itu memimpin klasemen setelah menyapu bersih 3 kemenangan grand prix pertama musim ini..
Meski namanya sedang naik daun, namun kehidupan sehari-hari Bezzecchi mematahkan stereotip paddock. Dia jauh dari kata sombong, penampilannya juga sederhana. Hidupnya rapi dan terstruktur. Sangat kontras dengan citra umum pembalap yang terkenal ‘liar’ di luar lintasan.
Marco Bezzecchi: Saya Pernah Ketumpahan 20 Liter Oli Bekas Saat Servis Motor di Bengkel Milik Ayahku

Tak seperti beberapa pembalap yang memutuskan pindah ke kota lain atau negara lain untuk menunjang mobilitasnya sebagai pembalap, Marco Bezzecchi memutuskan tinggal di rumah yang dibangun di atas tanah milik keluarganya di pinggiran kota Rimini. “Pindah ke kota lain? Untuk apa? Bahkan jika dibayar sekalipun saya tidak mau. Itu terlalu berlebihan, itu bukan untuk saya. Hidup saya ada disini, sendirian tetapi selalu dekat dengan orang tua, teman, dan pelatihku,” ungkap rider berusia 27 tahun itu.
Bezzecchi juga menolak godaan untuk tinggal di kota yang lebih eksklusif seperti Monaco. Prioritasnya adalah stabilitas hidup dan tetap dekat dengan keluarga dan teman-temannya. “Balapan adalah hal terbaik di dunia. Tetapi ketika saya berada di GP, saya tidak sabar untuk pulang. Saya merindukan kehidupan sehari-hari saya,” imbuh rider bernomor start 72 itu.
Percaya atau tidak? Bezzecchi suka merapikan, membersihkan, dan mengatur sendiri rumahnya. Dia bahkan tidak mau ada orang lain yang melakukannya, misalnya meminta jasa ART (asisten rumah tanggga). “Saya melakukannya sedikit demi sedikit karena semuanya harus saya kerjakan sendiri. Saya tidak suka kalau orang lain melakukan pekerjaan di rumah saya,” jelasnya.

Bezzecchi punya seekor anjing pit bull berusia 5 tahun yang dia beri nama ‘Rubik’. Nama itu bukan kebetulan, mengingat dia merupakan penggemar Rubik’s Cube, hobi yang bahkan pernah dia demonstrasikan di depan umum dengan menyelesaikannya dalam hitungan detik.
Kepribadian Bezzecchi juga tercermin dari beberapa koleksi yang tersimpan di rumahnya. Ada motor Aprilia hingga karya seni yang terinspirasi oleh Andy Warhol. Tetapi ada satu barang yang masih belum pernah dia dikenakanyakni tpoi dengan gambar Michael Jordan.
“Karena Jordan memiliki 6 cincin juara, maka sebelum saya mengenakan topi ini, saya harus memenangkan 6 juara dunia. Ya, tentu saja saya akan berfoto dengan topi itu jika saya memenangkan gelar dunia. Saya selalu bilang bahwa itu bukan target saya saat ini. Jujur, saya ingin meraihnya karena saya sudah memimpikannya sepanjang hidup saya,” ujar rider putra Vito Bezzecchi itu sambil tersenyum.
Sejauh ini Bezzecchi berhasil memenangkan 5 grand prix berturut-turut jika dihiung dari GP Portugal 2025 hingga GP Amerika 2026. Selain itu dia juga sukses memimpin 121 lap berturut-turut dalam 5 Grand Prix, sebuah rekor yang jarang terjadi di MotoGP. “Luar biasa, bukan? Saya baru menyadarinya ketika semua orang menulis tentang itu. Kemudian saya baru berpikir, ini suatu pencapaian yang sangat besar. Sebuah kepuasan yang luar biasa,” ujarnya.

Kemampuan Bezzecchi untuk memanfaatkan peluang juga terlihat di Austin. “Target saya bukan memimpin di lap pertama, tapi menang karena saya punya kecepatan. Saya melihat peluang untuk menyalip dan langsung saya ambil. Usai balapan, saya baru diberitahu bahwa saya berhasil mengamankan rekor. Dan saya rasa, ‘wih, hebat!'” imbuhnya.
Meski begitu, Bezzecchi masih belum puas. Dia ingin tetap fokus untuk memperpanjang dominasinya. “Untuk saat ini belum, kami berharap untuk memimpin setidaknya 20 atau 30 lap lagi. Ini akan sulit, tapi saya akan mencoba,” ungkapnya.
Performa kuat Aprilia mengejutkan para rivalnya, bahkan terkadang mereka unggul atas pasukan Ducati. “Saya tidak tahu. Saya tidak terlalu memperhatikan apa yang dilakukan orang lain. Yang jelas kami sudah meningkat,” ujar rider berjuluk Simply the Bezz itu tetap rendah hati.
Kejuaraan penuh ketidakpastian. Untuk itulah Bezzecchi hanya fokus pada kerja internal, baik teknis maupun fisik. “Jadi setiap Jumat pagi ketika kita tiba di sirkuit, selalu jadi tanda tanya. Sedikit tegang. Tapi di situlah letak keseruannya,” imbuhnya.

Sebelum sukses menjadi pembalap top MotoGP, Bezzecchi sempat bekerja di bengkel milik ayahnya. Sebuah pengalaman yang dianggapnya sebagai kunci dalam membentuk pribadinya. “Sekitar 2 tahun. Saat itu saya baru lulus sekolah dan masih balapan di Moto3. Ayahku tidak ingin saya bangun siang. Suatu kali, saya sedang melakukan servis motor dan saya ketumpahan sekitar 20 liter oli bekas. Sekujur tubuh saya menjadi hitam legam seperti burung-burung malang di film dokumenter tentang pencemaran,” ungkapnya sambil tertawa.
Dari pengalamannya itu Bezzecchi bisa memetik pelajaran berharga. “Dan yang terpenting, sekarang saya tahu apa artinya bekerja dengan sungguh-sungguh. Karena kami adalah para profesional, ini adalah komitmen, latihannya berat, tetapi balap motor sangat menyenangkan. Saya sama sekali tidak menganggapnya sebagai pekerjaan,” pungkas murid legenda MotoGP Valentino Rossi itu menutup wawancara.
BTW, setelah 3 seri pertama Bezzecchi memimpin klasemen dengan perolehan 81 poin atau hanya unggul 4 poin atas rekan setimnya Jorge Martin.






