Home MotoGP Nobuatsu Aoki: Pembalap MotoGP Juga Manusia, Mereka Tidak Diciptakan untuk Melaju di...

    Nobuatsu Aoki: Pembalap MotoGP Juga Manusia, Mereka Tidak Diciptakan untuk Melaju di Atas 300 Km/jam

    Nobuatsu Aoki
    Nobuatsu Aoki

    RiderTua.com – Halo rekan-rekan pembaca RiderTua. Nobuatsu Aoki merupakan mantan pembalap yang pensiun usai balapan bergengsi Suzuka 8 Hours pada 2022. Dia menilai bahwa MotoGP sudah berevolusi selama bertahun-tahun dan terus berkembang.

    “Selama balapan, detak jantung seorang pembalap bertahan di sekitar 180 denyut per menit. Bagi mereka yang paham olahraga ini, ini praktis merupakan detak jantung maksimal. Meskipun mungkin tampak biasa saja, tapi mempertahankan detak jantung mendekati maksimal selama 40 menit balapan, menunjukkan fakta bahwa balap motor adalah olahraga yang sangat berat secara fisik,” jelas Aoki.

    Nobuatsu Aoki: Pembalap MotoGP Juga Manusia, Mereka Tidak Diciptakan untuk Melaju di Atas 300 Km/jam

    Nobuatsu Aoki
    Nobuatsu Aoki

    Nobuatsu Aoki menambahkan, “Pembalap MotoGP tetaplah manusia. Dan manusia tidak diciptakan untuk terpapar kecepatan tinggi seperti itu, melebihi 300 km/jam atau untuk mengendalikan benda bergerak secepat itu. Seberapa pun terbiasanya seseorang, secara bawah sadar dia ‘dipaksa’ untuk merasakan ketegangan sekaligus ketakutan dan otak dituntut bekerja dengan kapasitas penuh. Faktor-faktor inilah yang membuat detak jantung meningkat.”

    Konten promosi pihak ketiga – hasil dapat berbeda untuk setiap individu.
    Brad Binder
    BACA JUGA:

    Mencetak Rekor Baru Top Speed di Mugello, Brad Binder : Motor Seperti Roket

    Brad Binder finis ke-11 dalam balapan sprint setelah kena long lap penalti…

    “Itulah alasan, mengapa ada perbedaan antara individu yang sangat besar. Kabarnya detak jantung Maverick Vinales selama balapan sekitar 120-130 denyut per menit, jadi mungkin dia tidak terlalu tegang. Selain faktor mental, hal itu juga berkaitan dengan fungsi jantung dan paru-paru masing-masing orang. Jadi sulit untuk digeneralisasikan. Tetapi pada dasarnya, pembalap MotoGP juga merasa gugup ketika mereka melaju kencang di dalam mobil, sama seperti orang pada umumnya,” imbuh rider asal Jepang itu.

    MotoGP Rider 2023
    MotoGP RiderΒ 

    Aoki teringat motor 500cc 2-tak yang pernah dia pakai untuk balapan. “Motor 500cc 2-tak yang dulu saya kendarai dirancang untuk mencegah selip. Pada awal 1990-an, daya cengkeram ban masih rendah dan pembalap seperti Freddie Spencer dan Kevin Schwantz bisa dengan mudah melakukan drifting. Tetapi ketika daya cengkeram meningkat, hampir mustahil melakukan drifting dengan motor 500cc. Bahkan jika memungkinkan, peluangnya kecil. Jadi, itu bukan teknik yang mudah dicoba. Karakter motor 500cc saat drifting begitu instan dan khas, sehingga tidak ada cara untuk melatihnya,” jelas Aoki.

    Mantan pembalap asal Jepang itu menegaskan, “Momen paling menakutkan yang membuat jantung berdebar kencang adalah saat motor mulai kehilangan grip dan kita masuk dalam kondisi drifting. Setelah sedikit drifting, kita akan lebih mudah untuk mengendalikan motor. Tetapi moment transisi dari grip penuh ke drifting, itu benar-benar menegangkan.”

    Pecco Bagnaia
    MotoGPΒ 

    Aoki juga membahas perubahan besar pada sistem elektronik. “Dulu, ketika setiap pabrikan dapat mengembangkan ECU (unit kontrol elektronik) sendiri, sistem kontrol traksi sangat efektif. Yang perlu dilakukan pembalap hanyalah berakselerasi keluar dari tikungan dan roda belakang akan secara otomatis mempertahankan putaran 18 persen. Namun setelah MotoGP menggunakan ECU standart, kontrol traksi pada motor MotoGP tidak lagi seefektif dulu. Saat ini pembalap sudah biasa menonaktifkan kontrol traksi dan pengaturannya lebih banyak melalui pemetaan mesin,” jelasnya.

    Aoki menambahkan, “Mesin 2-tak sangat mengandalkan cengkeraman, sementara mesin 4-tak membutuhkan 18 persen slip untuk bekerja optimal. Motor MotoGP saat ini tidak bisa otomatis mempertahankan 18 persen tersebut. Karena itulah pembalap harus berlatih keras dengan jenis motor yang berbeda.”

    Brad Binder - Top Speed
    Brad Binder – Top Speed

    Aoki membantah anggapan bahwa karakter motor bisa dipelajari hanya dengan mengendarai motor yang berkapasitas lebih kecil. “Motor MotoGP saat ini berkapasitas 1000cc. Tetapi jika kita mengendarai motor standar 250cc, apakah akan berperilaku sama pada seperempat rentang putaran mesin? Jawabannya adalah tidak. Pengendalian motor tidak sepenuhnya identik, tergantung pada ukuran mesin atau rentang putaran dan setiap motor memiliki karakteristik uniknya sendiri. Dengan kata lain, satu-satunya cara untuk benar-benar berlatih dengan motor MotoGP adalah dengan langsung mengendarainya,” pungkas Aoki.

    Pada 2027, MotoGP akan mulai menggunakan mesin 850cc, dengan aerodinamika yang dibatasi dan larangan penggunaan ride height device.

    Marc Marquez
    BACA JUGA:

    Ducati Sambut Regulasi 2027 dengan Percaya Diri.. Era Baru MotoGP

    Musim MotoGP 2025 masih belum berakhir, tetapi semua menunjukkan Ducati akan kembali…

    © ridertua.com

    Konten promosi pihak ketiga – hasil dapat berbeda untuk setiap individu....

    TINGGALKAN BALASAN

    Silakan masukkan komentar Anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini