RiderTua.com – Tetsuya Harada mengungkapkan satu faktor krusial yang wajib dilatih pembalap MotoGP, sekaligus menegaskan alasan mengapa peluang Ai Ogura untuk meraih gelar juara dunia sebenarnya masih terbuka lebar. Absennya Ai Ogura dari seri MotoGP Aragon ternyata belum membuat peluangnya dalam perebutan gelar juara dunia tertutup. Mantan juara dunia GP250, Tetsuya Harada, justru melihat situasi tersebut dengan cukup optimistis. Menurutnya, musim masih menyisakan banyak balapan sehingga satu seri yang dilewatkan Ogura belum cukup untuk menghapus peluangnya.
▶Daftar Isi
- 1. Tetsuya Harada Soroti Absennya Ai Ogura dan Pentingnya Latihan dengan Motor MotoGP
- Ogura Absen Setelah GP Inggris
- Harada Melihat Perbedaan Para Kandidat Juara
- Gaya Martin Mengingatkan Harada pada Sakata
- Mengapa Latihan dengan Motor Sungguhan Penting?
- Motor Komersial Belum Bisa Menggantikan Motor Balap
- Simulator Belum Bisa Menggantikan Sensasi Motor
- Keuntungan Pembalap Eropa
- Motor MotoGP Makin Berat dan Cepat
- Regulasi 850cc Akan Mengubah MotoGP
Tetsuya Harada Soroti Absennya Ai Ogura dan Pentingnya Latihan dengan Motor MotoGP
Pandangan itu disampaikan Harada melalui kolom web serialnya di WEB Young Machine edisi ke-166. Dalam pembahasannya, pria yang dikenal dengan julukan “Cool Devil” tersebut tak hanya membicarakan Ogura, tetapi juga menjelaskan mengapa latihan menggunakan motor sungguhan tetap memiliki peran penting bagi pembalap MotoGP modern.

Ogura Absen Setelah GP Inggris
Sebelumnya, Ai Ogura dari tim Trackhouse mengalami kecelakaan dan gagal finis pada seri ke-12 di GP Inggris. Bagi Harada, kejadian seperti itu memang menjadi salah satu konsekuensi yang harus dihadapi pembalap yang terus berusaha membalas tekanan hingga batas maksimal.
Namun, absennya Ogura di seri berikutnya tak serta-merta membuat peluangnya dalam perebutan gelar menjadi tertutup. Seri ke-13 di GP Aragon berlangsung tanpa kehadiran pembalap tersebut karena cedera yang dialaminya ketika menjalani sesi latihan.
Meski demikian, Harada menilai jumlah balapan yang masih tersedia membuat peluang Ogura tetap terbuka. Musim juga baru berjalan sekitar separuh perjalanan, sehingga kehilangan satu seri belum cukup untuk mengubah seluruh persaingan kejuaraan.

Harada Melihat Perbedaan Para Kandidat Juara
Sementara itu, GP Inggris justru menghasilkan kemenangan bagi rekan satu tim Ogura, Raul Fernandez. Harada menilai performa Fernandez masih belum sepenuhnya stabil karena sangat dipengaruhi suasana hati atau mood.
Di sisi lain, Jorge Martin dari Aprilia Racing menunjukkan pendekatan yang berbeda. Harada melihat Martin sebagai pembalap yang sangat konsisten dan mampu terus berada di barisan depan. Menurutnya, perbedaan antara pembalap yang pernah menjadi juara dunia dan yang belum meraih gelar bisa terlihat dari cara mereka menghadapi persaingan.
Menariknya, Harada sebelumnya memperkirakan Marco Bezzecchi, yang juga membela Aprilia Racing, akan tampil dominan pada awal musim. Namun, Bezzecchi dinilai masih beberapa kali terlihat terburu-buru.
Martin justru memperlihatkan ketenangan yang berbeda. Harada menilai pembalap tersebut sudah belajar dari kesalahan musim lalu, ketika kecelakaan yang dialaminya sendiri menggagalkan peluangnya dalam perebutan gelar.

Gaya Martin Mengingatkan Harada pada Sakata
Karena itulah, Harada melihat ada karakter tertentu dalam cara Martin menghadapi kejuaraan. Gaya dan atmosfer yang ditunjukkannya dianggap mirip dengan Kazuto Sakata, yaitu selalu memperhitungkan poin dan tak memaksakan diri ketika situasi memang tak mendukung.
Kemampuan mengendalikan diri seperti itu, menurut Harada, menjadi salah satu ciri khas pembalap yang sudah pernah merasakan gelar juara dunia. Bukan hanya soal seberapa cepat seorang pembalap mampu melaju, tetapi juga bagaimana ia menentukan kapan harus mengambil risiko dan kapan harus mengamankan hasil.
Harada sendiri mengaku pernah mencoba menerapkan perhitungan strategis setelah menjadi juara dunia GP250 pada 1993. Namun, pengalaman kemudian mengajarkan bahwa rencana di dunia balap tak selalu berjalan sesuai perkiraan.
Kerusakan mesin, masalah teknis, hingga kesalahan pribadi bisa mengubah jalannya sebuah persaingan. Pengalaman tersebut menunjukkan betapa rumitnya menjaga konsistensi sepanjang musim.

Mengapa Latihan dengan Motor Sungguhan Penting?
Pembahasan Harada kemudian bergeser pada persoalan yang juga berkaitan dengan absennya Ogura, yakni latihan pembalap MotoGP di luar pekan balapan.
Harada melihat kasus cedera saat latihan pada era MotoGP modern cukup menonjol dibandingkan zamannya. Namun, ia tak menilai pembalap masa kini menghadapi risiko yang lebih tinggi secara keseluruhan.
Justru, menurut pengalamannya, pembalap di era Harada menjalani sangat banyak sesi tes di antara jadwal balapan. Yang membedakan adalah motor yang digunakan. Saat itu, mereka dapat mengendarai motor balap sungguhan dengan kecepatan penuh dalam sesi tes.
Bahkan, intensitas latihan seperti itu sangat tinggi. Karena dunia balap pada masa tersebut masih jauh lebih tertutup dan belum ada media sosial, jadwal tes yang padat tak banyak diketahui publik.
Bagi Harada, intensitas tersebut juga berarti tingkat risiko cedera yang harus dihadapi pembalap pada masanya cukup besar.

Motor Komersial Belum Bisa Menggantikan Motor Balap
Kini, batasan dalam aturan tes membuat kesempatan pembalap untuk mengendarai motor MotoGP di luar pekan balapan menjadi jauh lebih terbatas. Sebagai gantinya, pembalap melakukan latihan fisik menggunakan motor komersial 1000cc atau 600cc di sirkuit maupun motocross untuk kegiatan di medan off-road.
Namun, Harada menilai semua bentuk latihan menggunakan sepeda motor tetap memiliki risiko kecelakaan. Latihan di gym dan bersepeda tentu memberikan manfaat bagi kondisi fisik, tetapi menurutnya latihan langsung menggunakan motor tetap menjadi pilihan terbaik.
Alasannya bukan semata-mata karena otot harus bekerja. Mengendarai motor juga melatih kemampuan tubuh merespons kejadian dalam kecepatan tinggi secara spontan.
Kecepatan mata dalam menangkap situasi, kemudian tubuh mengirimkan sinyal kepada otak untuk diproses secara tepat, menjadi bagian yang sangat penting. Sistem transmisi saraf tersebut harus terus dilatih agar respons pembalap tetap sesuai dengan kondisi yang dihadapi.

Simulator Belum Bisa Menggantikan Sensasi Motor
Harada kemudian menjelaskan bahwa latihan tersebut sulit digantikan hanya dengan simulator. Di balap mobil, perkembangan simulator sudah sangat maju, bahkan memungkinkan munculnya pembalap dari dunia gim.
Namun, pendekatan tersebut sulit diterapkan dengan cara yang sama pada balap motor. Pembalap membutuhkan interaksi fisik secara langsung dengan motor, termasuk merasakan gaya gravitasi atau G-force ketika motor dimiringkan.
Karena itu, latihan menggunakan motor utama pada kecepatan balap yang sebenarnya tetap memiliki nilai yang berbeda. Ada pengalaman fisik dan respons tubuh yang tak sepenuhnya bisa digantikan oleh simulator.

Keuntungan Pembalap Eropa
Di tengah persoalan tersebut, Harada juga menyoroti keuntungan yang dimiliki pembalap Eropa. Di sana tersedia banyak sirkuit dengan panjang sekitar 1–2 kilometer yang dapat digunakan untuk berbagai kegiatan.
Budaya otomotif yang tinggi membuat fasilitas tersebut ramai digunakan untuk acara gokart, mobil, maupun motor. Harada bahkan pernah terkejut ketika melihat sebuah acara latihan motor di Eropa yang dihadiri sekitar 1.000 unit motor dalam satu akhir pekan.
Artinya, keberadaan sirkuit yang dekat dan mudah dijangkau memberikan keuntungan tersendiri bagi pembalap Eropa. Mereka memiliki lebih banyak kesempatan untuk tetap berinteraksi dengan kendaraan dan lingkungan sirkuit.

Motor MotoGP Makin Berat dan Cepat
Meski latihan dengan motor penting, Harada juga melihat adanya perubahan karakter motor MotoGP yang membuat tuntutan fisik semakin besar.
Peningkatan performa ban dan penggunaan perangkat aerodinamis membuat kecepatan di tikungan meningkat. Pada saat yang sama, bobot motor juga bertambah sehingga energi benturan ketika terjadi kecelakaan menjadi semakin besar dan memberikan beban lebih tinggi kepada pembalap.
Harada membandingkannya dengan motor GP500 pada masa lalu. Motor GP500 memiliki bobot minimum hanya 115 kg, sedangkan NSR500 yang pernah dikendarainya memiliki bobot 130 kg.
Sebaliknya, motor MotoGP saat ini memiliki bobot 157 kg. Bagi Harada, angka tersebut sudah terasa sangat berat.
Kombinasi bobot, perangkat aerodinamis, dan kecepatan tinggi membuat motor lebih sulit dikendalikan ketika kehilangan kendali. Energi yang muncul dalam situasi tersebut juga menjadi sangat besar.

Regulasi 850cc Akan Mengubah MotoGP
Kondisi itu akan kembali berubah ketika regulasi MotoGP musim depan mulai diterapkan. Kapasitas mesin akan turun menjadi 850cc, sementara bobot minimum motor juga akan diturunkan menjadi 153 kg.
Perubahan regulasi tersebut bukan hanya akan mengubah karakter motor. Susunan pembalap juga diperkirakan mengalami pergeseran.
Namun, untuk saat ini, pesan Harada mengenai Ogura tetap jelas: satu kali absen belum menutup jalan menuju gelar juara dunia. Dengan musim yang masih panjang, peluang pembalap Jepang tersebut masih terbuka.
Pada saat yang sama, pembahasan Harada mengingatkan bahwa menjadi pembalap MotoGP bukan hanya soal menjaga kebugaran. Kemampuan tubuh dan otak untuk bereaksi terhadap motor pada kecepatan tinggi juga membutuhkan latihan yang nyata. Dan menurut pengalaman sang mantan juara dunia, bagian itu tetap sulit digantikan oleh latihan apa pun yang tak melibatkan motor secara langsung. (rt)












