RiderTua.com – Mercedes pastikan Russell akan ngejalani penalti mesin, Baku atau Sepang jadi pilihan eksekusinya.. Mercedes sudah memastikan Kimi Antonelli akan jalani akhir pekan yang sulit di Grand Prix Italia. Pemimpin klasemen F1 itu harus start dari posisi paling belakang di Monza akibat terkena penalti grid (penalti penurunan posisi start) setelah melakukan pergantian komponen power unit (mesin) melebihi alokasi..
▶Daftar Isi
- 1. Setelah Antonelli, Kini Mercedes Siapkan ‘Penalti Mesin’ untuk George Russell
- Antonelli Terpaksa Menjalani Penalti di Monza
- Monza Dinilai Berbeda dari Masa Lalu
- Mercedes Harus Menghitung Jarak Tempuh Mesin
- Russell Kini Menjadi Dilema Berikutnya
- Mercedes Pilih Selesaikan Risiko Selagi Memimpin
- Baku dan Sepang Masuk Perhitungan
- Keputusan Bisa Berubah di Setiap Balapan
Setelah Antonelli, Kini Mercedes Siapkan ‘Penalti Mesin’ untuk George Russell
Namun, persoalan Mercedes ternyata belum berhenti di Antonelli. George Russell juga dipastikan harus ngambil penalti serupa sebelum musim Formula 1 2026 berakhir.
Bedanya, Mercedes hingga kini belum menentukan di balapan mana Russell akan jalani hukuman tersebut. Tim masih nghitung lokasi terbaik untuk ganti unit daya secara penuh sambil meminimalkan kerugian dari penalti posisi grid.
Baku dan Sepang jadi dua kemungkinan yang muncul, meski keputusan akhir belum ditetapkan.

Antonelli Terpaksa Menjalani Penalti di Monza
Penalti Antonelli tak lepas dari masalah keandalan yang dialaminya sejak awal musim. Pebalap Italia itu telah habiskan jatah komponen mesin yang diizinkan setelah ngalamin sejumlah masalah.
Salah satu momen penting terjadi pada GP Barcelona Juni lalu, ketika Antonelli gagal finis akibat masalah pada unit daya.
Dengan kondisi tersebut, Mercedes akhirnya harus ganti unit daya dan menerima konsekuensi penalti posisi grid. Monza pun jadi pilihan tim untuk ngambil langkah tersebut.
Sirkuit Italia itu dianggap memiliki karakteristik yang lebih memungkinkan pebalap bergerak maju setelah memulai balapan dari posisi belakang. Mercedes yakin dampak dari penalti dapat diminimalkan, terutama karena lintasan tersebut memiliki sejumlah peluang untuk melakukan manuver nyalip.
Monza Dinilai Berbeda dari Masa Lalu
Mercedes sebenarnya pernah menyesali keputusan ngambil penalti di Monza pada masa lalu. Andrew Shovlin, Trackside Engineering Director Mercedes, jelaskan bahwa karakter balapan di sana tak selalu cocok untuk strategi seperti itu.
Dalam beberapa musim sebelumnya, tingkat degradasi ban relatif rendah. Mobil juga memiliki karakteristik hambatan angin rendah sehingga sulit dapatkan keuntungan dari towing, sementara efek DRS juga tak terlalu besar.

Namun, Shovlin menilai situasi saat ini sudah berbeda… Menurutnya, Monza kini merupakan sirkuit yang sangat haus energi dan memiliki empat zona nyalip. Pebalap yang bertahan di depan tak akan mudah mempertahankan posisi di seluruh zona tersebut.
Karena itu, jika memiliki mobil yang lebih cepat, Mercedes menilai peluang untuk bergerak maju dari belakang bisa lebih terbuka.
Mercedes Harus Menghitung Jarak Tempuh Mesin
Meski demikian, pemilihan lokasi penalti bukan sekadar soal mencari sirkuit yang mudah untuk nyalip..
Shovlin jelaskan bahwa dasar utama pengambilan keputusan tetap berkaitan dengan kebutuhan perangkat keras. Mercedes telah kehilangan beberapa mesin pembakaran internal pada jarak tempuh yang relatif rendah.. Artinya, tim harus menentukan kapan titik pergantian komponen sudah tak bisa lagi ditunda.
Jika titik tersebut jatuh pada balapan yang dianggap kurang ideal untuk memulai balapan dari posisi belakang, Mercedes dapat mempertimbangkan ngambil penalti lebih awal. Tujuannya jelas, cari kompromi terbaik antara kerugian penalti posisi dan risiko gunakan komponen yang sudah memiliki jarak tempuh tinggi.
Mercedes juga harus nimbang kemungkinan kehilangan poin jika terus mempertahankan unit daya lama. Di sisi lain, ngambil penalti pada waktu yang tepat bisa memberi kesempatan untuk gunakan perangkat keras yang lebih segar dan memiliki performa terbaik hingga akhir musim.

Russell Kini Menjadi Dilema Berikutnya
Setelah memastikan Antonelli akan ngambil penalti di Monza, perhatian Mercedes kini beralih kepada George Russell.
Bradley Lord, Deputy Team Principal Mercedes, nyatakan lokasi penalti Russell belum diputuskan. Namun, menurutnya, kedua pebalap Mercedes memang akan membutuhkan penalti karena sama-sama ngalami masalah pada unit daya.
Russell sendiri ngalami gagal finis di Kanada. Selain itu, ia juga ngalami masalah hingga mobilnya berhenti di Hungaria pada akhir lap kualifikasi. Situasi tersebut bisa memiliki dampak lebih besar apabila terjadi saat balapan.
Mercedes pun ingin menghindari situasi di mana kedua pebalap harus jalani penalti secara bersamaan di Monza.. Karena itulah, tim mulai melihat kemungkinan mengambil penalti Russell pada balapan setelah Italia, terutama di sirkuit yang menawarkan peluang menyalip lebih baik.

Mercedes Pilih Selesaikan Risiko Selagi Memimpin
Ada pertimbangan lain yang membuat Mercedes tak ingin terlalu lama menunda persoalan ini.
Saat ini, tim tersebut memimpin kedua kategori kejuaraan dunia, baik klasemen pebalap maupun konstruktor. Dengan keunggulan tersebut, Mercedes nilai ada kesempatan untuk menyelesaikan persoalan yang berpotensi ganggu sebelum persaingan semakin ketat.
Tim tak ingin masalah pergantian mesin justru jadi beban tambahan apabila selisih poin semakin menyempit pada akhir musim.. Karena itu, Mercedes harus menentukan kapan waktu terbaik untuk menerima kerugian dari penalti, lalu berusaha mendapatkan kembali posisi sebanyak mungkin saat balapan.
Perhitungan ini jadi perpaduan antara risiko keandalan, peluang meraih poin, kondisi perangkat keras, dan karakteristik setiap sirkuit.

Baku dan Sepang Masuk Perhitungan
Berdasarkan pertimbangan tersebut, Baku disebut sebagai salah satu kandidat untuk jadi lokasi penalti George Russell.
Karakteristik lintasannya dianggap memiliki kemiripan dengan Monza dalam hal peluang melakukan manuver nyalip. Russell juga hanya perlu melewati dua seri, Italia dan Spanyol/Madrid, sebelum kemungkinan ngambil penalti di GP Azerbaijan pada akhir September.
Setelah itu, Mercedes juga bisa mempertimbangkan Sepang, yang tahun ini jadi lokasi penyelenggaraan GP Bahrain setelah balapan tersebut dipindahkan dari Timur Tengah. Lintasan Malaysia itu dinilai memiliki banyak peluang nyalip… Namun, Mercedes belum menetapkan pilihan akhir. Sirkuit baru Madrid masih nyimpan banyak ketidakpastian, sehingga tim harus terus memperbarui perhitungan dari satu balapan ke balapan berikutnya.
Keputusan Bisa Berubah di Setiap Balapan
Faktor paling penting bagi Mercedes adalah seberapa lama mereka dapat menunda pergantian mesin Russell.. Setiap balapan nambah jarak tempuh pada unit daya, dan setiap tambahan penggunaan juga membawa risiko yang harus dipertimbangkan. Shovlin menjelaskan bahwa selalu ada probabilitas kegagalan mesin, tetapi perhitungan tersebut tak bersifat tetap.
Kondisinya dapat berubah dari balapan ke balapan… Mercedes dan tim-tim pelanggan akan terus memeriksa unit daya untuk memastikan masalah sebelumnya benar-benar sudah teratasi.

Optimisme untuk gunakan unit daya hingga balapan keenam atau ketujuh, misalnya, bisa meningkat dalam beberapa seri mendatang dibandingkan penilaian saat ini.
Karena itulah, Mercedes tak bisa sekadar menentukan penalti Russell jauh-jauh hari tanpa melihat perkembangan terbaru… Setiap balapan akan memberikan data baru. Dari sana, tim akan kembali nyusun rencana, menilai risiko, serta menentukan kapan George Russell harus mengambil penalti yang kini sudah tak bisa dihindari.
Yang pasti, Mercedes ingin memastikan satu hal: setelah Antonelli memulai balapan dari belakang di Monza, Russell tak ngikuti jejak yang sama pada akhir pekan yang sama jika masih ada pilihan lain yang lebih menguntungkan dan tidak start dari belakang bersamaan… (rt)












