RiderTua.com – Veda Pratama memang gagal lolos ke Q2 pada sesi practice Aragon tadi malam, tapi data mengungkap potensi yang sebenarnya… Hasil akhir Practice Moto3 Grand Prix Aragon memang belum berpihak kepada Veda Pratama. Pembalap Honda Team Asia itu harus mengakhiri sesi di posisi ke-20 dengan catatan waktu terbaik 1 menit 58,660 detik.
Posisi tersebut membuat Veda gagal mengamankan tempat langsung di Q2. Namun, jika hanya melihat klasifikasi akhir, gambaran mengenai performa pembalap Indonesia itu belum sepenuhnya terlihat… Data resmi Moto3 justru memperlihatkan cerita lain..!
Di balik posisi P20, ada potensi waktu yang sebenarnya cukup menarik ketika sektor-sektor terbaik Veda digabungkan. Dari sinilah Practice Veda di Aragon layak dibaca lebih dalam, bukan sekadar dari angka posisi akhirnya.
Masalahnya Bukan Karena Semua Sektor Lambat
Catatan waktu terbaik Veda pada sesi Practice adalah 1:58,660, terpaut 1,187 detik dari David Almansa yang menjadi pembalap tercepat.
Sementara untuk batas zona aman menuju Q2, posisi ke-14 ditempati Hakim Danish dengan waktu 1:58,362. Artinya, Veda hanya terpaut 0,298 detik dari posisi terakhir yang memberikan tiket langsung ke Q2.
Selisihnya memang terlihat kecil. Tetapi data Best Partial Times menunjukkan bahwa Veda sebenarnya memiliki kecepatan di beberapa bagian sirkuit yang cukup kompetitif.
Catatan sektor terbaik Veda Pratama adalah:
T1: 34,107 detik
T2: 34,156 detik
T3: 20,136 detik
T4: 29,882 detik
Jika empat sektor terbaik itu dijumlahkan, Veda memiliki potensi waktu ideal 1:58,281.
Angka tersebut tentu bukan berarti Veda otomatis mampu mencatat waktu itu dalam satu lap. Sektor terbaik bisa saja dicetak pada lap yang berbeda. Namun, data ini memberi gambaran penting: kecepatan untuk berada jauh lebih dekat dengan zona Q2 sebenarnya ada.
Secara hitungan waktu ideal, Veda hanya terpaut sekitar 0,081 detik dari catatan posisi ke-14, bahkan potensinya secara matematis berada jauh lebih tinggi dibanding posisi akhirnya.. Di sinilah letak perbedaan antara melihat klasifikasi biasa dan membaca data performa secara lebih dalam.

Lap Terbaik Datang di Tengah Run Kedua
Melihat Chronological Analysis of Performances, Veda memulai sesi dengan catatan 2:03,727 pada lap pertama. Setelah itu, waktunya langsung bergerak turun.
Lap kedua mencatat 1:59,355, kemudian meningkat menjadi 1:58,815 pada lap ketiga. Veda kembali memangkas waktu menjadi 1:58,672 pada lap keempat.
Setelah sebuah lap lebih lambat di lap kelima, Veda memasuki rangkaian berikutnya dengan peningkatan yang cukup menarik.
Pada lap ketujuh, ia mencatat 1:58,813. Lalu, pada lap kedelapan, Veda akhirnya membukukan waktu terbaiknya, 1:58,660.
Artinya, Veda memang mampu menemukan peningkatan kecepatan dalam perjalanan sesi. Catatan terbaiknya tidak langsung muncul sejak awal, melainkan setelah ia mulai membangun ritme.. Namun, setelah lap kedelapan tersebut, ia belum berhasil kembali menembus waktu terbaiknya.
T1 dan T2 Sempat Menjanjikan, Tapi Lap Tidak Menyatu
Bagian paling menarik justru terlihat pada percobaan berikutnya… Pada lap ke-12, Veda mencatat sektor terbaiknya di T1 dengan 34,107 detik, sekaligus sektor terbaik di T2 dengan 34,156 detik.
Dua sektor awal itu menunjukkan bahwa Veda masih memiliki kecepatan untuk mencoba memperbaiki waktu terbaiknya… Masalahnya, kecepatan tersebut tidak berlanjut secara utuh hingga satu lap selesai.
Pada lap yang sama, T3 justru mencatat 23,397 detik, jauh dari sektor terbaiknya yang mencapai 20,136 detik. Akibatnya, peluang membentuk satu putaran cepat kembali hilang.
Inilah gambaran paling jelas dari sesi Practice Veda… Potensi kecepatannya ada, tetapi sektor-sektor terbaik tersebut belum berhasil dipadukan dalam satu lap yang utuh.
Jika melihat catatan sektor terbaik, posisi P20 memang terasa belum menggambarkan seluruh potensi yang muncul sepanjang sesi. Namun dalam Practice yang menentukan tiket langsung menuju Q2, potensi saja tentu tidak cukup. Yang dibutuhkan adalah satu putaran bersih ketika seluruh sektor terbaik bisa muncul dalam waktu yang hampir bersamaan.
P20 Jadi Hasil, Tapi Data Memberi Harapan Lain
Veda akhirnya harus menerima posisi ke-20 dalam klasifikasi Practice. Dengan demikian, pembalap Indonesia itu belum berhasil mengamankan tiket langsung menuju Q2.
Meski begitu, selisihnya dengan posisi ke-14 sebenarnya hanya 0,298 detik. Bahkan data sektor memperlihatkan potensi waktu ideal 1:58,281.
Tantangan terbesar Veda kini bukan sekadar mencari tambahan kecepatan baru. Data Practice justru menunjukkan bahwa sebagian kecepatan tersebut sudah ada… Pekerjaan berikutnya adalah menyatukan T1, T2, T3, dan T4 dalam satu putaran yang bersih.
Jika Veda mampu membuat sektor-sektor terbaiknya muncul secara lebih bersamaan pada sesi berikutnya, posisi P20 di Practice belum tentu menjadi gambaran sebenarnya mengenai batas kemampuan pembalap Honda Team Asia tersebut di MotorLand Aragon.

Top Speed Veda Masih Cukup Kompetitif
Data top speed Practice juga menunjukkan bahwa Veda mencatat kecepatan maksimum 242,9 km/jam. Angka tersebut memang belum menjadi yang tertinggi dalam sesi, dengan Eddie O’Shea mencapai 247,4 km/jam, tetapi kecepatan Veda masih berada dalam kelompok yang cukup rapat.
Menariknya, 242,9 km/jam juga dicatat sejumlah pembalap lain yang berada lebih tinggi dalam klasifikasi, termasuk Adrian Fernandez. Karena itu, hasil P20 Veda tampaknya tidak bisa semata-mata dikaitkan dengan kekurangan kecepatan di trek lurus. Data ini justru memperkuat gambaran sebelumnya: kecepatan Veda sebenarnya sudah ada di beberapa bagian lap, tetapi sektor-sektor terbaik tersebut belum berhasil dikumpulkan menjadi satu putaran sempurna.
Singkatnya, hasil akhirnya memang kurang bagus. Tapi data resmi menunjukkan bahwa Practice Veda Pratama tidak sesederhana angka P20 di klasifikasi.
Baca: Hasil Practice Moto3 Aragon 2026: 14 Rider Lolos Q2, Veda ke Q1

▶Daftar Isi
Veda Pratama Potensi Finish 10 Besar?
~ Hasil P20 memang menjadi gambaran resmi Practice, tetapi belum tentu menggambarkan batas sebenarnya dari kemampuan Veda Pratama di MotorLand Aragon. Data sektor menunjukkan potensi waktu yang lebih baik, sementara top speed 242,9 km/jam juga memperlihatkan bahwa Veda masih memiliki kecepatan yang cukup kompetitif di lintasan lurus.~
~ Di sisi lain, balapan memiliki variabel yang berbeda dibanding Practice. Traffic pada sesi latihan, lap yang belum bersih, proses adaptasi Veda sebagai rookie di Aragon hingga manajemen ban saat race bisa membuat hasil akhir berubah drastis. Pembalap yang cepat dalam satu lap belum tentu memiliki race pace terbaik, sementara mereka yang berada di belakang pada Practice masih bisa naik ketika balapan berlangsung. Karena itu, P20 belum menutup peluang Veda untuk memperbaiki posisi secara signifikan. Dengan kecepatan yang terlihat dari data Practice, target finis di 10 besar masih bisa dianggap realistis jika ia mampu menemukan ritme, menjalani kualifikasi dengan baik, dan memanfaatkan dinamika balapan.~













