RiderTua.com – T1 memang dijual sebagai mobil hatchback pertama dari BAIC di Indonesia, artinya model ini kembali berhadapan dengan Geely EX2 dkk. Namun BAIC mengaku kalau model anyarnya tersebut sudah ‘beda kelas’ dengan rival terberatnya ini.
▶Daftar Isi
T1 Jadi Modalnya Untuk Jegal EX2 di China
Kehadiran BAIC T1 menjadi awal dari ekspansi lini produknya ke mobil BEV setelah sebelumnya sukses dengan BJ30 HEV. Terlebih modelnya dijual sebagai hatchback, mengingat beberapa model yang dirilis sebelumnya berupa mobil SUV, dan mereka ingin menawarkan sesuatu yang berbeda untuk konsumennya. Hasilnya, T1 menjadi model yang cukup diminati oleh banyak orang karena selain desain dan fiturnya, harga juga menjadi alasan mengapa modelnya jadi buruan konsumen sejak pertama kali dijual.

T1 sendiri merupakan produknya Arcfox, salah satu sub-brand yang dipegang BAIC, dan model ini sempat dijual sebagai Arcfox T1 sebelum diganti menjadi Arcfox Beta T1 setelah facelift. Tetap saja, hatchback tersebut masih menjadi incaran banyak konsumen di kampung halamannya sampai sekarang, sekaligus jadi andalannya untuk menjegal Geely EX2 alias Xingyuan. Memang model ini memegang dominasi cukup besar di pasar BEV disana, dan ini bisa menyulitkan usaha BAIC dalam mengungguli rival terberatnya tersebut.
Sebab EX2 juga sudah hadir di Indonesia, termasuk Chery Q yang baru saja dirilis beberapa minggu lalu. Tapi kalau dibandingkan dengan rival sekelasnya, BAIC T1 dibanderol lumayan lebih mahal ketimbang EX2 dan model Q yang dipatok Rp 200 jutaan. Inilah yang menjadi alasannya mengapa mereka menganggap T1 beda kelas dengan kedua rivalnya tersebut meski sama-sama dijual sebagai mobil hatchback listrik.

Bukan Hatchback?
Di China, T1 memang dijual sebagai hatchback 5 pintu yang dianggap sudah membuatnya setara dengan EX2 dkk. Meski punya dimensi yang hampir sama, T1 berukuran lebih besar ketimbang EX2, dengan dimensi 4.337 mm x 1.860 mm x 1.572 mm, sedangkan EX2 berukuran 4.135 mm x 1.805 mm x 1.570 mm. Ukurannya yang lebih besar ini bisa memberikannya keunggulan pada kapasitas bagasi belakang maupun ruang kaki mobil.
Meskipun begitu, BAIC tetap menganggap T1 bukanlah lawan sepadan bagi EX2 dkk karena perbedaan besar pada dimensinya. Apalagi dari desainnya yang lebih mendekati ke mobil SUV bergaya crossover, dan inilah yang membuatnya menganggap T1 sebagai mobil crossover. Walau ini tidak membuat statusnya sebagai mobil hatchback berubah begitu saja, karena masih ada model lainnya yang bisa menjadi lawan paling sepadan ketimbang EX2 dan Q.

Melawan Dolphin, UT, dan Ora 03
Walau ada perbedaan besar pada dimensi dan desainnya, soal harga T1 masih membuatnya jadi lawan baru bagi hatchback lainnya di Indonesia. Model tersebut berupa BYD Dolphin, Aion UT, dan GWM Ora 03, dimana ketiganya dibanderol lebih dari Rp 300-400 jutaan. Apalagi dengan dimensi yang lebih besar dari EX2 dan Q, ketiga model ini dianggap cukup setara dengan T1.
Tapi kalau melihat dari performa penjualannya, dari ketiga model tersebut hanya UT yang masih laris terjual dalam beberapa bulan terakhir. Ora 03 nyaris tidak terdengar kabarnya setelah diluncurkan tahun lalu, sementara Dolphin mungkin masih tetap laris terjual di segmennya meski dengan hasil penjualan yang tidak sebanyak Atto 1. Berbeda dengan Ora 03 dan UT yang sudah dirakit lokal, Dolphin masih diimpor dari luar negeri, dan begitupun dengan T1.

Namun BAIC sudah berencana untuk merakitnya secara lokal mulai akhir tahun ini, dan ini bisa membuat harganya lebih terjangkau lagi. Entah berapa banyak potongan harga yang akan didapat setelah model rakitan lokalnya dirilis, yang jelas ini masih membuat posisinya di segmen hatchback listrik tidak berubah.
BAIC T1 bisa dikatakan sebagai mobil hatchback yang unik, karena modelnya yang memakai desain ala crossover tapi sebenarnya berupa model hatchback. Ini menjadikannya sebagai ciri khas tersendiri di segmennya.












