RiderTua.com – Bro-Sis pembaca setia RiderTua. Guido Pini berhasil memenangkan balapan Moto3 pertamanya di COTA dua pekan lalu. Dengan kemenangannya ini, rider Leopard Racing itu naik ke peringkat 4 dengan perolehan 36 poin dalam klasemen.
“Ini adalah akhir pekan yang sangat positif. Saya sudah memiliki feel yang baik pada hari Jumat dan saya merasa nyaman. Kami bekerja keras, fokus pada akhir pekan dan balapan. Karena pada akhirnya, poin didapat pada hari Minggu,” ujar Pini.
Guido Pini: Dengan Didampingi Mantan Manajer Marc Marquez, Saya Ingin Meraih Gelar Dunia Seperti Dia

Guido Pini melanjutkan, “Di sesi kualifikasi, kami start dari posisi ke-5. Startnya tidak begitu bagus. Tetapi dengan kecepatan yang kami miliki, saya tahu kami bisa mengejar. Lalu saya berhasil naik posisi lap demi lap. Maximo Quiles melakukan sedikit kesalahan dan itu memudahkan saya untuk mendekat.”
“Beberapa lap terakhir sangat menegangkan. Saya bahkan mencoba memimpin untuk mengatur ritme saya sendiri. Tetapi di lap terakhir, Carpe menyalip saya. Saya tahu apa pun bisa terjadi, saya tidak menyerah. Pada akhirnya, semuanya berjalan dengan baik. Ini adalah pelajaran lain, jangan pernah menyerah.”
“Kemenangan ini terasa benar-benar lengkap. Sangat istimewa bisa menang di belahan dunia lain dan berbagi hasil apik ini dengan tim, meskipun kami hanya punya waktu singkat untuk merayakannya sebelum kembali ke Eropa. Akan ada waktu untuk merayakan di kesempatan lain,” imbuh rider asal Italia itu.

Selain itu, yang paling bikin Pini bahagia adalah beberapa pembalap MotoGP mengucapkan selamat atas kemenangannya di Austin, termasuk juara dunia MotoGP 2 kali Pecco Bagnaia. “Selalu menyenangkan menerima pesan, terutama dari para pembalap MotoGP dan Pecco adalah yang pertama. Biasanya saya tidak sering membalas pesan, bahkan saya menerima beberapa pesan dari kontak yang tidak saya kenal. Tidak mudah membalas semuanya,” ujar rider berusia 18 tahun itu.
Pini menambahkan, “ββTetapi sangat menyenangkan melihat betapa antusiasnya orang-orang terhadap apa yang saya lakukan, terutama di kelas seperti Moto3 yang terkadang luput dari perhatian. Tidak banyak pembalap Italia yang berada di puncak kelas ini. Jadi saya juga senang membawa Italia kembali ke puncak dan kami berharap dapat mengulanginya lagi.”
Pini menegaskan bahwa kesuksesannya ini tidak datang begitu saja. Ada seorang pembalap yang menjadi inspirasinya dan dia bergabung di agensi manajemen SeventyTwo Motorsports milik Emilio Alzamora (mantan manajer Marc Marquez). “Saya selalu memiliki tim yang luar biasa, dimulai dengan Emilio Alzamora. Mereka banyak membantu saya, dan kami sering bekerja dengan analisis video trek. Itu membantu saya lebih memahami trek dan memungkinkan saya untuk meningkatkan performa di setiap sesi,” ujarnya.
Pini menekankan, “Referensi saya adalah Marc Marquez. Dan dengan didampingi mantan manajernya mungkin membantu saya bekerja dengan cara yang sama. Emilio pernah memenangkan gelar dunia sebagai pembalap dan juga sukses sebagai manajer, jadi dia tahu bagaimana mengarahkan pembalap.”
Setiap balapan menjadi pelajaran penting baginya dan menambah pengalamannya. “Saya belajar soal bagaimana mengelola akhir pekan. Seperti kebanyakan pembalap saya juga berasal dari Junior GP, di mana pembalap menjalani banyak sesi dan otomatis kita jadi hafal sirkuitnya. Namun di Kejuaraan Dunia, kita punya waktu yang sangat terbatas.”

“Di FP2 kita harus langsung cepat sejak awal agar bisa lolos ke Q2. Tahun lalu ketika saya mengalami beberapa kesulitan, saya belajar bahwa bekerja sendiri tanpa mencari slipstream adalah cara yang tepat untuk mendapatkan hasil. Di situlah muncul ‘lompatan mental’ bahwa kerja keras adalah kunci untuk memenangkan balapan,” jelasnya.
Sebagai pembalap yang masih sangat muda, seperti rider muda lainnya, Pini juga punya impian. “Bahkan sebelum mendukung Marc, saya sudah mengidolakan Casey Stoner dan saya ingin balapan melawannya. Saat ini saya ingin masuk ke MotoGP, dan mungkin sampai di sana saat Marc Marquez masih balapan”.
“Itu akan menjadi mimpi yang terwujud. Sama seperti pembalap yang naik ke MotoGP ketika Valentino Rossi masih balapan. Bagi saya yang tumbuh dengan mengidolakan Marc Marquez sejak kecil, bersaing melawannya akan menjadi hal yang luar biasa,” pungkas Guido Pini.









