RiderTua.com – Balik lagi bareng RiderTua. Setelah menutup musim 2025 dengan gemilang dan hasil tes pramusim 2026 yang menjanjikan, Marco Bezzecchi tampil sangat pede pada balapan pertama di GP Thailand. Rider pabrikan Aprilia itu tampil mendominasi sejak hari pertama dan bahkan meraih pole position di hari Sabtu, namun sayangnya dia crash dalam sprint race. MarcoBezz#72 mampu membalikkan keadaan pada race hari Minggu. Mulai dari start hingga garis finis dia tak tersentuh, melesat kedepan tanpa ada seorang rival pun yang mampu mengejarnya. Dia meraih kemenangan dengan brilian.
Meski begitu, Bezzecchi tak mau besar kepala. Dia menekankan bahwa satu balapan saja tidak cukup untuk menilai kekuatan semua pabrikan. Menurutnya, harus menunggu beberapa balapan lagi agar bisa benar-benar melihat peta persaingan musim ini. Banyak yang memprediksi musim ini akan menyajikan duel sengit antara 2 pabrikan Italia, Ducati vs Aprilia. Namun rider berusia 27 tahun itu yakin persaingan perebutan gelar dunia tidak hanya melibatkan 2 pabrikan itu saja. Menurutnya, Ducati akan tetap menjadi tolok ukur dan berada dalam tekanan untuk mempertahankan gelar dunia.
Marco Bezzecchi: Jika Kita Memulai dengan Rasa Takut, Kita Sudah Kalah Sejak Awal

Aprilia mengumumkan perpanjangan kontrak Marco Bezzecchi untuk 2 tahun atau hingga akhir 2028 bahkan sebelum musim berjalan. Dia menegaskan bahwa keputusan tersebut diambil berdasar pada kepercayaan timbal balik antara dirinya dan tim. Tahun lalu, Aprilia tetap merekrutnya dan mempercayainya meskipun dia baru saja melewati musim yang sulit.
Bezzecchi juga mengaku bahwa tahun ini dia sempat mendapat tawaran lain sebelum memutuskan untuk bertahan di Aprilia. Tapi prioritasnya adalah menemukan stabilitas dalam proyek yang solid dan berorientasi ke masa depan, dimana hal ini hanya dia temukan di Aprilia. Selain itu dia sangat menghargai dukungan penuh dari sang CEO Massimo Rivola kepadanya. Secara terbuka Rivola menyatakan keyakinannya bahwa kerja sama antara Bezzecchi dan tim bisa menghasilkan hasil luar biasa.
Soal Marc Marquez, Bezzecchi sadar betul bahwa juara dunia 9 kali itu adalah lawan yang akan sulit dikalahkan. “Tanpa ragu, dia favorit. Dia adalah juara bertahan. Ini akan menjadi pertarungan yang sulit,” ujarnya.

Pada saat yang sama, Bezz menegaskan bahwa rasa takut bukan bagian dari mentalitasnya sebagai pembalap. Hal ini dia buktikan di lintasan, dimana Bezzecchi tidak gentar sedikit pun saat duel melawan Marquez. “Jika kita memulia dengan rasa takut, kita sudah kalah sejak awal,” tegas rider asal Rimini Italia itu.
Di paddock MotoGP, Bezzecchi terkenal sebagai pembalap yang sangat berdedikasi pada pekerjaannya, berkarakter kuat, dan ceplas ceplos. Ia sendiri mengakui bahwa deskripsi ini sangat cocok untuknya.
Dalam perkembangan karir balapnya, ada banyak sosok penting yang mempengaruhi perkembangannya sebagai pembalap. Salah satu yang paling menonjol adalah sang guru Valentino Rossi. Sebagai murid VR46 Riders Academy, Bezzecchi punya kesempatan untuk belajar langsung dari sang legenda MotoGP serta menerima saran dan masukan dari banyak pembalap senior lainnya.
Namun peran keluarga terutama ayahnya Vito Bezzecchi, sangat penting dalam perkembangannya sebagai pembalap. Sejak dia kecil, ayahnya selalu menanamkan nilai kerja keras. Marco kecil sering dibawa ke bengkel dan ayahnya selalu menemaninya saat balapan. Hingga detik ini, ayahnya tetap menjadi tim pendukung terdekatnya. “Dia selalu menemani saya ke balapan dan mengenal saya seperti telapak tangannya sendiri,” jelas Marco.

Tampaknya, tahun depan sabahatnya Pecco Bagnaia akan menjadi rekan setim baru Bezzecchi di Aprilia. Kedua rider Italia itu sama-sama menjadi muridnya Rossi. Di luar trek balap, mereka berdua kerap menghabiskan banyak waktu bersama. Tapi Bezzecchi menegaskan bahwa persahabatannya dengan Pecco tidak mengubah apa yang terjadi di lintasan. “Kami berteman baik, tetapi di lintasan kami adalah rival,” uajrnya sambil tersenyum.
Ada satu kebiasaan Bezzecchi yang tidak banyak diketahui. Dia suka baca buku. Salah satu buku terakhir yang dibacanya adalah biografi Michael Jordan (legenda NBA). Dia mengaku sangat kagum pada sosok pemain basket tersebut karena mentalitas yang selalu ingin kompetitif dan obsesi besarnya untuk menang. Namun rider berjuluk Simply the Bezz itu mengatakan bahwa mustahil membandingkan dirinya dengan atlet sekelas Jordan. “Tidak mungkin membandingkan diri kita dengan seorang ‘bintang’. Saya hanyalah Marco Bezzecchi,” pungkasnya.









