RiderTua.com – Hai Sobat RiderTua, balik lagi kita bahas dunia MotoGP. Casey Stoner tidak pernah balapan melawan Marc Marquez di lintasan, justru tempatnya di tim Repsol Honda digantikan oleh rider berjuluk Baby Alien itu pada 2013. Seperti yang diketahui, Stoner memutuskan gantung helm alias pensiun dari MotoGP pada akhir 2012 ketika masih berusia 27 tahun. Saat itu dia didiagnosis menderita kelelahan ekstrim yang berdampak pada kondisi fisiknya.
Meski begitu, Stoner mengaku bahwa dia selalu mengamati Marquez. Menurutnya dominasi juara dunia 9 kali itu di MotoGP, bukan hanya soal kecepatan tapi terutama disebabkan oleh kecerdikannya dan pemahamannya tentang bagaimana membangun strategi balapan.
“Tidak ada yang meragukan bakatnya, kecepatannya, atau hal-hal semacam itu. Sama sekali tidak perlu dipertanyakan. Jika ada meragukannya, berarti ada yang salah dengan orang itu. Tetapi menurut saya banyak pembalap yang terjebak dengan kesalahan yang sama. Ya, saat ini memang ada banyak pembalap cepat di luar sana, tetapi saya rasa tidak banyak dari mereka yang menggunakan kemampuan balap mereka sepenuhnya. Di situlah Marc mengalahkan mereka sekarang,” ungkap mantan rider asal Australia itu.

Marc Marquez dan Marco Bezzecchi: Inilah Prediksi Line-up MotoGP 2027 Menurut Mereka
Menariknya, Marquez sendiri tidak memasukkan namanya dalam daftar tersebut. Kocak!!! Ketika ditanya,…
Casey Stoner Membongkar ‘Rahasia’ Kekuatan Marc Marquez yang Tidak Dimiliki Pembalap Lain di MotoGP

Casey Stoner menambahkan bahwa meskipun Marc Marquez tampak tak terkalahkan di lintasan namun dia tetap manusia biasa yang tak lepas dari kekurangan. Sebenarnya Marquez punya kelemahan besar namun tidak ada yang menyadarinya, dan Stoner sendiri bungkam terkait hal itu.
Mantan rider yang saat berusia 39 tahun itu menjelaskan, “Dulu Marc memang punya kelemahan besar yang menurut saya tidak disadari oleh siapa pun, dan saya tetap tidak akan mengatakan apa pun tentang itu. Tetapi cukup mengejutkan bahwa tidak ada yang mampu memanfaatkannya. Saya kira karena semua orang memandangnya seperti ‘bos terakhir’. Alih-alih mencari tahu apa yang harus mereka lakukan, apa yang harus mereka tingkatkan dalam diri sendiri, atau mungkin bagaimana cara melawan Marc, mereka justru hanya melihatnya sebagai lawan yang sangat sulit dikalahkan.”
Pada 2025 Marquez kembali meraih gelar dunia setelah 6 tahun ‘puasa’, lebih lama dari pembalap lain dalam sejarah MotoGP. Terakhir dia menang pada 2019 bersama Honda dan kemudian tidak mampu meraihnya lagi hingga 2025 karena cedera dan kurang kompetitifnya RC213V saat dia kembali.

Marco Bezzecchi: “Kekalahan dari Marc Marquez di Misano Mengajarkan Saya Banyak Hal”
Bezzecchi mengaku bahwa jiwa kompetitifnya tidak hanya dalam pekerjaaan saja tapi sudah…
Stoner berpendapat bahwa jeda waktu antara dua gelar dunia sangat bermanfaat bagi mentalitas Marquez. Faktanya dia sekarang lebih kuat, lebih cerdas, dan lebih matang ketimbang di tahun 2010-an saat dia masih berusia 26 tahun dan secara teori baru memasuki puncak fisik idealnya. Hal ini membuat Marquez bisa menang dengan cara yang lebih strategis, bukan hanya mengandalkan kecepatan murni dan keberaniannya mengambil risiko besar yang selalu identik dengan gaya balapnya di tahun 2010-an.

Stoner mengungkapkan, “Maksud saya, karier MotoGP saya sama panjangnya dengan jeda waktu antara dua gelar dunia terakhir Marquez. Dia sudah lama berada di sana sekarang. Tetapi apa yang telah terjadi selama beberapa tahun terakhir yang sulit baginya adalah membangun tingkat kekuatan, kecerdasan, dan kesabaran yang lebih tinggi. Tampaknya itulah yang menurut saya kurang dimiliki oleh setiap pembalap yang sekarang bersaing dengannya.”
“Sepertinya tidak ada yang benar-benar paham, apa yang dia lakukan di balapan untuk menjaga ban dan melakukan semua hal semacam itu. Mereka hanya melihat Marc dalam satu sisi saja, padahal dia memainkan strategi yang selalu berbeda setiap pekan. Tetapi tema yang sering saya lihat sepanjang muism 2025, yang tidak cukup diperhatikan banyak orang adalah betapa sabarnya dia dalam mengelola ban,” imbuh Stoner.

Jorge Martin: Operasi Terakhir Saya Ditangani oleh Dokter yang Direkomendasikan Marc Marquez
Martin kembali melanjutkan pemulihannya dan baru-baru ini dia berlatih di Sirkuit Aspar…
Menurut Stoner, cara Marquez dalam pengelolaan ban mirip dengan F1 khususnya dengan Max Verstappen. “Ini sedikit seperti Formula 1. Para pembalap terbaik saat ini khususnya Max, ketika memasang ban baru setelah pit stop, dia membutuhkan beberapa lap sebelum mulai meningkatkan kecepatannya. Dan itu memberinya tambahan 10 atau 15 lap yang lebih kuat menjelang akhir stint dan dengan kecepatan yang jauh lebih tinggi setelah menjaga ban dengan perlahan dan halus sejak awal. Saya rasa Marc sudah paham betul apa yang dibutuhkan dari ban MotoGP saat ini dan dia benar-benar sabar dalam memperlakukannya,” jelas Stoner.

Stoner menambahkan bahwa Marquez punya satu kelebihan lagi yakni mengendarai motor tanpa terlalu tergantung pada elektronik. Menurutnya hal ini justru membuat elektronik bekerja lebih efektif di akhir balapan, karena gaya balap Marquez menjaga grip tetap awet.
Stoner menjelaskan, “Satu hal yang menurut saya juga sangat bagus darinya adalah, semua pembalap terlalu mengandalkan elektronik padahal elektronik hanya bereaksi terhadap sesuatu yang telah terjadi. Jadi, jika motor mulai selip atau tergelincir maka elektronik akan mengambil alih kendali. Pada dasarnya Marc hanya mencegah hal itu terjadi sejak awal, sehingga dia bisa menghemat ban semaksimal mungkin. Ketika elektronik mengambil alih, dia tidak perlu lagi menghadapi selip yang tiba-tiba, tetapi jauh lebih lambat dan lebih mudah diprediksi.”

GAK SAT-SET! Kontrak Marc Marquez dengan Ducati Tertunda, Bukan Soal Gaji dan Inilah Alasannya!
Beberapa waktu yang lalu, baik Marquez maupun Ducati mengaku bahwa kesepakatan antara…
“Dan Marquez bisa membuat ban bertahan lebih lama, hingga pada titik di mana ketika elektronik mengambil alih. Saat grip menurun dan elektronik mulai lebih aktif, tingkat cengkeraman Marquez masih jauh lebih tinggi karena dia sangat berhati-hati dalam menjaga ban sejak awal balapan. Saya memperhatikan hal itu balapan demi balapan.”
“Jika melihat kembali, kita dapat melihat kesabarannya yang begitu tinggi terhadap ban, kecuali pada balapan atau trek tertentu di mana dia merasa memiliki kecepatan untuk pemimpin dan mengambil alih kendali. Dan dalam situasi seperti itu, dia seperti menekan tombol dan membuat semua orang bingung karena mereka tidak tahu apa yang dia lakukan.”
“Menurut saya kini dia benar-benar ‘mendengarkan’ motor dan bannya, untuk memahami bagian mana dari balapan yang bisa dimenangkannya. Dan itulah kunci kekuatan Marquez sekarang. Kalau kita melihat balapan belakangan ini, terutama paruh kedua musim lalu, dia selalu sangat kuat di akhir balapan karena dia sangat hati-hati dalam menjaga ban sejak awal. Saya rasa semua orang tidak menyadari hal itu,” imbuhnya.

Davide Tardozzi: 2017 – 2018 Kami Gagal Juara Dunia, Saat Itu Kami Belum Punya Marc Marquez
"Kami menguji banyak suku cadang dan para pembalap puas dengan beberapa komponen…
Minimnya ketergantungan pada elektronik juga merupakan salah satu ciri khas dari gaya balap Stoner, gaya balap yang terbentuk sejak dia balapan di lintasan tanah di Australia yang licin seperti berminyak. “Itu adalah sesuatu yang saya banggakan, bahwa saya tidak butuh elektronik. Saya menemukan sendiri tingkat cengkeraman itu dan akan berkendara ‘didepan’ elektronik. Kalau seorang pembalap mampu memahami di mana batas cengkeraman berada, sedikit lebih dulu daripada elektronik maka dia akan selalu lebih cepat. Karena mereka dapat bereaksi atau sudah siap bereaksi, jauh lebih cepat daripada yang dilakukan elektronik. Elektronik selalu terlambat karena mereka baru bereaksi setelah gripnya hilang,” jelas Stoner.
Stoner melanjutkan, “Jadi saya rasa begitulah cara Marc balapan, dia tidak memberikan tekanan sebesar pembalap lain. Dia jauh lebih cepat menegakkan motornya saat keluar tikungan daripada rider lain. Dia jauh lebih sabar terutama di awal balapan, tidak terlalu membebani ban, sedikit mengurangi kecepatan di tikungan, menegakkan motornya lebih cepat, berakselerasi dengan lebih yakin, tidak membiarkan motornya selip, spin, dan bergerak sehingga tidak terlalu membebani ban.”

“Karena dia mampu berada sedikit ‘didepan’ elektronik, maka ketika cengkeraman ban menurun dan elektronik mulai sedikit lebih aktif, dia masih punya ‘cadangan’ cengkeraman ban yang lebih baik ketimbang rider lain. Itulah yang memungkinkannya untuk menemukan sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh pembalap lain,” pungkas Casey Stoner.

Marc Marquez Satu-satunya Pembalap yang Masuk Top 5 Juara Dunia Termuda dan Tertua
Setelah memenangkan 6 balapan, Marquez sukses meraih gelar dunia MotoGP di musim…






