RiderTua.com – Pecco Bagnaia menyelesaikan tes di Sepang Malaysia dengan perasaan puas, meskipun catatan waktunya bukan yang terbaik. Pembalap Ducati itu menyelesaikan awal musim tes dengan waktu tercepat kelima di klasifikasi, sekitar 0,5 detik lebih lambat dari Alex Marquez, tetapi justru fokus Pecco pada hal lain, bukan berfikir tentang catatan waktu tercepat…
▶Daftar Isi
Pecco Bagnaia Dipindah ke Tim Satelit Ducati?
Simulasi sprint yang sudah dia lakoni menjadi tolok ukur paling penting bagi Bagnaia. Di situlah ia ingin melihat performanya dan di situlah ia yakin telah melangkah maju secara signifikan. Bagnaia menjelaskannya dengan lugas.. “Kondisi treknya luar biasa… semakin banyak lap yang kita lakukan, kita semakin cepat melaju. Simulasi sprint sangat cepat, ban tidak aus, dan cengkeramannya sangat bagus”.

“Saya rasa ini bukan tolok ukur yang akurat untuk balapan, dan Alex Marquez juga sangat cepat. Saya senang dengan kecepatan saya… tahun lalu saya cepat dalam lap tercepat, tetapi tidak dalam hal kecepatan balapan secara keseluruhan, dan bagi saya, lebih penting untuk melakukan lap yang konsisten dalam latihan daripada sekadar mencetak rekor waktu. Saya puas,” ujar pembalap Italia itu.

Massimo Rivola (Aprilia): Saya Senang Pecco Begitu Kuat di Sini…. Sinyal akan Merapatkah?
"Saya senang, motor 2026 lebih baik ketimbang RS-GP 2025. Sekali lagi ini…
Pendekatan yang dia lakukan lebih berfokus pada isi daripada catatan waktu lap yang mencolok, secara sempurna menggambarkan cara Ducati menghadapi tes musim dingin pertama tersebut.. Bagnaia juga menilai positif arah teknis yang diambil pabrikan Italia itu serta dampaknya terhadap semua pembalap…
“Perubahan yang dibawa oleh Ducati menguntungkan semua pembalap, bukan hanya saya… karena tahun lalu, praktis hanya Marc yang mampu tampil konsisten cepat, sementara yang lain lebih kesulitan. Namun, dengan basis motor ini, semua pembalap dapat memperoleh manfaat, termasuk Alex Marquez, yang sangat sensitif terhadap motor dan kami beruntung memilikinya bersama kami.”

Murid akademi VR46 itu melanjutkan dan membahas konteks sejarah, mengakui posisi kuat Ducati tetapi tidak menutup mata terhadap kebangkitan para rival.. “Saya pikir Ducati telah menjadi motor acuan sejak 2021, mungkin bahkan sebelumnya… selalu menjadi yang paling kompetitif. Seharusnya bisa menang pada tahun 2021, tetapi saat itu masih terlalu kurang berpengalaman. Meski begitu, kita juga harus mengakui bahwa pabrikan lain berkembang pesat, terutama Honda dan Aprilia..”
Dengan ditutupnya tes Sepang, fokus kini beralih ke tes berikutnya di Thailand yang akan sangat menentukan untuk mengonfirmasi ‘feel’ (perasaan) berkendara sekaligus menyempurnakan detail akhir paket 2026.. Bagnaia menegaskan tentang hal ini… “Ini tes yang bagus bagi saya.. bisa benar-benar mengendarai dan memberikan yang terbaik membantu saya memahami motor. Feeling-nya positif.. kita lihat saja di Thailand, karena saya pikir kita masih memiliki ruang untuk perbaikan dan langkah-langkah yang telah kita ambil adalah langkah yang tepat”.
Dia melanjutkan,”Hari ini penting untuk mengklarifikasi beberapa aspek terkait aerodinamika dan lebih memahami apa yang harus diminta menjelang balapan berikutnya di Thailand. Menurut saya, paket 2026 sudah kurang lebih terbentuk dan secara pribadi saya merasa lebih baik dibanding 2025. Di Thailand, sangat penting untuk terus melnjutkan di jalur ini,” katanya..

Pecco Bagnaia: GP26 Motor yang Lebih Baik dari GP25
"Menurutku kami menjalani tes yang sangat baik, baik dari segi suku cadang…
Masa Depan Pecco
Akhirnya Pecco berbicara tentang masa depannya dan rumor tentang kemungkinan dia di pindah ke tim satelit.. “Saya di tim satelit Ducati? Saya percaya diri sebagai pebalap lini terdepan dan ambisi saya jelas.. Tanpa tekanan atau terburu-buru, saya akan membuat keputusan yang menurut saya paling tepat…”

Kalimat itu menyimpan banyak makna yang layak dianalisis dari berbagai sudut… Ducati dipastikan sudah menyiapkan rencana besarnya, dengan proyek tingkat atas yang berpusat pada Marc Marquez dan Pedro Acosta, sementara posisi di luar skema tersebut tidak sejalan dengan pandangannya tentang karier kelas elit..
Menjadi pembalap satelit bukanlah sebuah pilihan karena, pada usianya dan dengan rekam jejaknya, itu berarti menerima peran transisi tepat ketika ia seharusnya menandatangani kontrak terkuat dalam kariernya…
Pindah Yamaha atau Aprilia..?
Masalah opsi tim lain juga tidak sepenuhnya ideal: Yamaha masih belum memberikan jaminan performa kompetitif dalam jangka pendek, sementara Aprilia, meski menawarkan status pebalap pabrikan, belum mampu menyaingi kekuatan teknis maupun finansial Ducati..

Pernyataan di Sepang itu mungkin tidak terdengar seperti ultimatum, melainkan sebuah peringatan bahwa Bagnaia tidak akan menunggu tanpa kepastian dan tidak akan merendahkan posisinya demi menyesuaikan diri dengan rencana yang tampaknya sudah tidak lagi dirancang untuknya.. meskipun itu berarti membuat keputusan yang tidak nyaman dan meninggalkan tempat di mana ia meraih hampir semua kemenangan besar…

Pecco Bagnaia Semakin Pede: Secara Keseluruhan Saya Senang
Sebenarnya, Ducati sempat mengalami masalah kecil dengan suku cadang baru di pagi…






