3 Samurai Jepang, Honda di Titik Terendah, Yamaha One Man Show, Suzuki?

MotoGP RiderTua.com – Sebelum jeda musim panas MotoGP, Honda dan Yamaha sama-sama mencetak angka nol. Dua ikon sepeda motor asal Jepang itu mengalami kegagalan bersejarah yang sangat kontras dengan pencapaian beberapa dekade lalu. Di masa lalu, Honda selalu mengklaim kemenangan di GP Sachsenring. Sebelum kemenangan beruntun Marc Marquez sejak 2013, Dani Pedrosa juga menang disana 3 tahun sebelumnya . Mulai dari Mick Doohan hingga Valentino Rossi dan Barros hingga Sete Gibernau, para pembalap Honda berhasil merayakan total 17 kemenangan di sirkuit GP Jerman yang berkelok-kelok sejak 1998, lebih banyak dari merek lain mana pun. Sementara Suzuki tidak akan banyak cerita lagi dan ‘tutup buku’ sejarah balap tahun depan..

Honda di Titik Terendah, Yamaha One Man Show

Hingga Juni 2022, saat Yamaha merayakan kemenangan dominan dengan Fabio Quartararo, para kru tim Honda membersihkan pit dengan wajah murung. Tidak satu pun dari empat pembalap Honda yang mampu mencetak poin satu pun.

Taka Nakagami crash, Pol Espargaro menyerah karena kesakitan, dan ride height device milik Alex Marquez macet. Sementara itu Stefan Bradl (pengganti Marc Marquez) adalah satu-satunya pembalap Honda yang mencapai garis finis, namun sayang hanya finis ke-16 atau yang terakhir dan tanpa poin.

Ini adalah pertama kalinya sejak 1982, dimana pendatang baru saat itu: Freddie Spencer bersama juara bertahan Marco Lucchinelli dan anak didik HRC Takazumi Katayama, dan Freddie naik podium pada percobaan pertama di Argentina. Hanya di seri ketiga tidak ada Honda di 10 besar (seperti yang dipersyaratkan oleh sistem poin saat itu). Sejak saat itu, selama 4 dekade, tidak ada satu balapan pun di mana setidaknya satu Honda tidak finis dalam poin.

Sebagai gambaran, dalam periode yang sama, Honda meraih 24 gelar konstruktor (melampaui MV Agusta) dan sebagian besar kemenangan balapan. Itu bukan keberuntungan.

Namun kegembiraan Yamaha tidak berlangsung lama, karena nasib yang sama menimpa mereka hanya seminggu kemudian di Assen. Quartararo menyerah setelah dua kali crash dalam balapan. Sementara tiga rekannya melanjutkan musim bencana Yamaha baik secara individu dan kolektif. Untuk ketiga kalinya musim ini, tak satu pun dari mereka (Franco Morbidelli, Andrea Dovizioso dan Darryn Binder) yang meraih satu poin pun.

Untuk tim pabrikan Yamaha, ini adalah kegagalan total pertama sejak 1985 (jika kita tidak menghitung balapan yang diisi oleh ROC atau Harris-Yamaha).

Jadi kedua raksasa balap modern tersebut terjerembab dalam waktu singkat. Tak seorang pun di departemen balap Jepang, akan menganggap enteng masalah ini. Terutama bukan para insinyur yang sekarang dalam bahaya serius untuk dipindahkan dan mengakhiri karir mereka di departemen yang merancang suku cadang untuk perlengkapan bagasi.

Dalam kedua kasus alasannya sama. Tentu saja kebangkitan pabrikan Eropa, tidak hanya diwujudkan oleh Ducati dan KTM, tetapi bahkan tahun ini oleh Aprilia. Dan keunggulan dengan 8 Ducati di lintasan jelas merupakan faktor penting.

Tapi yang benar-benar penting, Honda dan Yamaha menghilang ke dalam lubang desain yang sama. Mereka membuat motor balap yang hanya bisa dimenangkan oleh satu pembalap.

Honda sudah seperti itu selama 7 tahun terakhir. Dapat dimengerti, karena Marc Marquez brilian sejak awal dan semua pengembangan terfokus padanya. Tapi kecemerlangannya yang menyembunyikan kondisi RC213V yang semakin berkurang.

Akibatnya sejumlah pembalap papan atas yang keterampilannya tidak diragukan lagi, menderita. Cal Crutchlow adalah salah satu dari mereka, satu-satunya pembalap Honda lainnya yang memenangkan balapan setelah 2017. Dia dan yang lainnya termasuk Jorge Lorenzo berakhir di gravel yang selalu menyakitkan. Pada awal akhir musim 2020, motornya juga ‘menggigit’ Marc dan sejak itu Honda kalah. Hal ini juga ditunjukkan oleh upaya suram dan banyaknya crash pembalap Honda lainnya tahun ini.

Yamaha telah mengikuti jalan yang sama. Seperti Rossi atau Lorenzo sebelumnya, Quartararo mempunyai kemampuan khusus dalam menggunakan corner speed dan teknik halusnya untuk mengimbangi kurangnya akselerasi dan top speed. Tapi dia unik. Baik Morbidelli maupun Dovizioso, keduanya runner-up MotoGP, tidak mampu mendekatinya. Akibatnya, mereka hanya mengikuti.

Perkembangan ini terjadi secara bertahap. Pada tahun 2020, Morbidelli memenangkan tiga balapan dan menjadi runner-up dengan motor yang sudah berusia 1 tahun. Pada tahun 2022, seperti Quartararo, murid VR46 itu duduk di M1 spek pabrikan saat ini, tetapi mengalami kesulitan bahkan untuk mendapatkan poin.

Beruntung Yamaha mampu meyakinkan ‘Fabio Fantastique’ untuk memperpanjang kontrak selama 2 tahun lagi. Dan betapa beruntungnya Marc yang seharusnya tampil menyerang lagi tahun depan, bukan tahun ini. Jika tidak, mantan pemimpin MotoGP itu akan berada dalam masalah serius.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Trending Post

Latest Articles

Gerakan Literasi Nasional

Ayo Kita Dukung

Archives

You cannot copy content of this page