Francesco Guidotti: Zarco Pembalap yang ‘Hemat Energi’

RiderTua.com – Francesco Guidotti, berujar balap MotoGP saat ini banyak menguras tenaga dan Zarco adalah pembalap yang hemat energi… Mulai 1 Januari 2022, Francesco Guidotti akan berperan sebagai manajer tim yang baru di KTM Factory Racing setelah 10 tahun di Pramac Ducati. Dia akan bekerja dengan duo pembalap Brad Binder (peringkat 6 di klasemen 2021) dan Miguel Oliveira (peringkat 14). Ketika dia ditanya mengenai pembalapnya terdahulu Johann Zarco, Guidotti mengatakan, “Johann Zarco membalap dengan sangat hemat energi dan membuang sedikit energi dengan gaya balapnya. Tapi terkadang dia kalah dengan gayanya itu.” Hemat maksudnya kurang agresif gitu? atau memang sering low bat.. 😀

Francesco Guidotti: Zarco Pembalap yang Hemat Energi

Pria berusia 49 tahun itu bertemu dengan beberapa rekan senegaranya di KTM. Misalnya dengan mantan insinyur Ducati Fabiano Sterlacchini, yang baru bergabung dengan pabrikan asal Munderfing itu sebagai ‘Kepala Teknologi MotoGP’. Dan Marco Bertolatti yang telah berkompetisi di Aprilia Racing di Kejuaraan Dunia Superbike. Mereka memainkan peran penting dalam keberhasilan Gelar Dunia Max Biaggi dan Sylvano Guintoli dan juga berpartisipasi dalam kembalinya MotoGP pada tahun 2015 dan 2016.

Bersama Johann Zarco dan Jorge Martin, Guidotti meraih sukses besar yang tak terduga di tahun 2021. Duo ini menggantikan Jack Miller dan Pecco Bagnaia, yang menggantikan Andrea Dovizioso dan Danilo Petrucci di tim pabrikan Lenovo Ducati.

Berkat Jorge Martin, Pramac merayakan kemenangan MotoGP untuk pertama kalinya sejak awal kerjasama dengan Ducati di GP Spielberg-1. Pramac melewati musim yang paling sukses dengan menorehkan 5 pole position (Martin 4 kali, Zarco 1 kali), 1 kemenangan, dengan total 8 podium (Martin 4 kali, Zarco 4 kali). Dan dalam klasemen Kejuaraan Dunia, Zarco berada di peringkat 5 dan Martin ke-9. Guidotti sekarang mencari tantangan baru di KTM.

Setelah awal musim yang kuat dengan 4 kali finis di tempat ke-2 dalam 7 balapan pertama, Zarco menjadi tumpuan harapan terkuat Ducati di MotoGP. Tapi setelah periode kelemahan dan mengalami kemunduran, rider asal Prancis itu tergelincir kembali ke peringkat 5 dan dikalahkan oleh Pecco Bagnaia (ke-2) dan Miller (ke-4).

Guidotti menyoroti tidak konsistennya pembalap berusia 31 tahun itu, yang sudah mengalami fase seperti itu di musim Moto2 keduanya bersama Ajo dan setelahnya bersama Tech3-Yamaha di Kejuaraan Dunia MotoGP.

Francesco Guidotti mengatakan, “Terkadang Johann kalah. Maka itu akan sulit. Tapi itulah karakteristik banyak pembalap yang berada di grid. Ini telah terlihat berkali-kali dalam beberapa tahun terakhir. 2020 adalah pengecualian, karena itu adalah musim yang singkat dengan hanya 14 balapan.”

“Tetapi pada 18 hingga 20 balapan, banyak pembalap merasa sulit untuk mempertahankan level tinggi sepanjang musim. Pembalap yang bisa melakukan ini biasanya memenangkan kejuaraan dunia. Bahkan jika kita gagal dalam 2 atau 3 balapan, kita hampir tidak bisa memenangkan gelar. Kami belajar dari itu.”

Di Red Bull KTM, Zarco juga menderita kebugaran fisik yang buruk pada 2019. “Ya, balap MotoGP semakin menuntut fisik setiap tahun. Siapapun yang telah terbiasa membalap dengan cara tertentu dan Johann membalap dengan sangat hemat energi dan membuang sedikit energi dengan gaya balapnya akan menderita di beberapa titik. Jika kita ingin benar-benar cepat dengan motor ini, sebagai pembalap kita harus memiliki lebih banyak kekuatan dan energi dari tahun ke tahun,” imbuhnya.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Trending Post

Latest Articles

Gerakan Literasi Nasional

Ayo Kita Dukung

Archives

You cannot copy content of this page