Quartararo: Sasis Baru Membuat Motor Yamaha-nya Semakin di Depan

0

RiderTua.com – Tanggal 20 April kemarin, Fabio Quartararo genap berusia 22 tahun. Kemenangan GP Portugal yang dia raih hari Minggu lalu, merupakan kado ulang tahun terindahnya. Dengan dua kemenangan berturut-turut yang diraihnya, pembalap asal Prancis itu berhasil mengkudeta Johann Zarco sebagai pemimpin Kejuaraan Dunia dengan 61 poin. Tapi Fabio tak boleh melupakan musim 2020 (saat itu masih di tim Petronas Yamaha SRT), dimana dia kuat di awal musim namun menurun di paruh kedua hingga akhir musim. Saat ini, dia mengalami kejadian yang sama persis seperti musim 2020, dimana dia menang dalam dua balapan awal musim berturut-turut di Jerez. Kemudian penampilan Fabio terus merosot dan tak mampu menahan tekanan. Pada akhirnya dia hanya duduk di peringkat 8 Kejuaraan Dunia MotoGP 2020.

Quartararo: Sasis Baru Membuat Motor Yamaha-nya Semakin di Depan

Pada tahun 2019, ‘El Diablo’ mengakhiri musim debutnya di Kejuaraan Dunia MotoGP dengan sangat mempesona. Dia berhasil duduk di posisi ke-5 secara keseluruhan. Performa pembalap yang kini memperkuat tim pabrikan Yamaha itu bak bintang jatuh. Dia berhasil meraih 6 kali sebagai pole position dan 7 kali naik podium.

Setelah menyelesaikan musim 2020 yang mengecewakan, pembalap asal Prancis itu didampingi seorang psikolog olahraga selama jeda musim dingin. Hasilnya bisa dilihat, saat Fabio balapan pertama kali sebagai rider tim pabrikan. Kini dia semakin matang dan secara mental juga semakin terkontrol. Apakah dia merasa berbeda sekarang dibandingkan tahun lalu setelah dua kemenangan berturut-turut?

Pasca kemenangannya di Portugal, Fabio Quartararo mengatakan, “Ya, kemenangan saya ini merasa sangat berbeda dibanding tahun lalu. Jika saya bisa memenangkan dua balapan pertama berturut-turut dengan keunggulan 4 detik, maka saya rasa itu akan terus berlanjut. Tetapi rider lain juga bekerja sangat keras untuk dapat mengalahkanku dan menggantikanku. Sekarang saya hanya memikirkan balapan demi balapan.”

“Ketika saya memenangkan dua balapan pertama di Jerez tahun lalu, saya teriak ‘Wow, saya yang pertama di Kejuaraan Dunia.’ Sebelumnya saya belum pernah berada di posisi itu. Itu amazing bagiku. Sekarang saya tidak memikirkan Kejuaraan Dunia. Saya hanya memikirkan balapan berikutnya dan terus melaju. Secara mental, latihan bersama psikolog membuahkan hasil yang memuaskan. Saya rasa, latihan yang dia berikan kepada saya semuanya berhasil.”

Pembalap pabrikan Yamaha itu melihat ada kemajuan yang siginifikan pada Yamaha M1. Pembaruan pada M1 juga merupakan faktor keberhasilannya. Fabio menjelaskan, “Saya merasa lebih baik dengan sasis baru, dan memberi saya lebih banyak umpan balik. Itu satu hal yang membuat saya bisa melaju lebih cepat. Jika saya tidak memiliki perasaan itu, saya kalah seperti di Valencia tahun lalu. Itu adalah bencana besar.”

“Pada balapan Qatar kedua, saya sempat bilang bahwa saya memiliki perasaan yang sangat hebat tentang bagian depan. Itu bagus untuk manuver overtake. Ketika kami datang ke Portugal, kami memiliki perasaan yang persis sama. Tikungan 3, Tikungan 1, di mana saya menyalip Alex (Rins-Suzuki) saya merasa berada di limitnya,” imbuhnya.

“Tetapi saya merasakan setiap gerakan di depan, semuanya baik-baik saja. Dari segi elektronik, semua oke. Saya mencoba membalap dengan kecepatan terbaik. Pada saat yang sama, saya juga harus melindungi ban hingga akhir balapan. Itu saja. Ini hanya tentang memacu diri sendiri hingga mencapai batasnya.”

Leave a Reply