Home MotoGP ‘Diam dan Ngebutlah’ ! Kalimat Sakti, Walau Sengak Tapi Terbukti di GP...

    ‘Diam dan Ngebutlah’ ! Kalimat Sakti, Walau Sengak Tapi Terbukti di GP Jerman

    alberto puig jorge lorenzo ramon aurin repsol hondaRiderTua MotoGP – Masih ingat dengan ungkapan tegas petinggi tim balap Honda Alberto Puig. Hal itu dia ungkapkan menyikapi komentar Lorenzo bahwa RC213V terlalu sulit dan hanya cocok bagi Marquez. Reaksi Puig tak kalah sengak dengan mengatakan “Jika pembalap datang ke Honda dan memakai motor Honda, tutup mulut dan kendarai saja”.. Diam dan Ngebutlah

    Jorge Lorenzo adalah DNA nya Yamaha Stoner Jiwa nya Ducati dan Honda Roh nya Marquez

    Konten promosi pihak ketiga – hasil dapat berbeda untuk setiap individu.

    Mungkin kita bisa berkaca pada rekam jejak seorang Casey Stoner. Pembalap dengan filosofi unik ini secara garis besar berpendapat bahwa bukan motor yang harus diubah sesuai keinginan kita, namun pembalaplah yang harus menyesuaikan dengan motornya. Hasilnya? hanya Stoner yang bisa juara dunia dengan motor tersulit Desmosedici GP7 yang terkenal liar. Pindah pabrikan Honda (2011) juga langsung juara dunia.

    Marc Marquez sepertinya hampir mirip dengan kondisi itu. Bisa dibilang kerja sama insinyur dan pembalap bagus Honda memberi motor yang sesuai dengan gaya balapnya ( atau Marc yang menyesuaikan).

    Insinyur Mesin dan Juru Masak

    Koki atau juru masak adalah orang yang kerjanya menyiapkan makanan untuk disantap.. Bedanya “Koki Balap” menyajikan sebuah teknologi yang mereka temukan pada motor seperti sasis ( bukan sosis), elektronik dan part canggih. Dan mereka adalah orang-orang yang pintar meracik piranti balap itu. Apakah racikan sesuai dengan selera pembalap? ada dua kemungkinan pembalap akan menyesuaikan atau kebetulan klop. Akan sulit dan butuh waktu lama jika pembalap meminta menu sesuai selera mereka bukan?. Sementara koki balap dari tim lain dengan menu andalan mereka sudah berkembang pesat!.. Mungkin tanpa berpanjang lebar pembaca akan bisa melanjutkan analogi ini…

    Cal Crutchlow Marah Besar Diperlakukan Tidak Layak oleh Honda dan Marquez

    Terbukti di GP Jerman

    Pembalap Honda Cal Crutchlow yang sering mengeluh bahwa RC213V adalah motor sulit akhirnya podium di Jerman. Bahkan dengan kondisi cedera. Dia berkelakar apakah setiap jelang balap harus cedera agar bisa selalu naik podium. Sepertinya dia sudah tidak keluhkan motornya karena apa?. Tanpa ekspektasi tinggi karena terluka, dan dia geber motornya begitu saja tanpa harapkan hasil apik…. Cal mulai “Diam dan Ngebut”..

    Hal ini juga kita lihat di tim Ducati antara Petrucci dan Dovi ( rider project leader), di KTM antara Espargaro dan Zarco (melawan karakter motor). Bahkan filosofi HRC mungkin yang paling keras yaitu “Insinyur yang berkuasa menentukan motor … Bukan pembalap”…!. Sudah menjadi rahasia umum bahwa Honda memang menomor duakan peran pembalap (bukan mengabaikan).

    Mungkin kita juga tidak mengesampingkan kemampuan dan pengalaman seorang pembalap. Masukan Rossi untuk Yamaha terbukti mampu membuat tim Garputala tekuk Honda di 2004, Valentino Rossi berhasil membuktikan bahwa peran pembalap penting, bukan motornya saja. Valentino Rossi berhasil membawa Yamaha menjadi motor terbaik melebihi Honda.

    Diam dan Ngebutlah

    Lalu kenapa sekarang berbeda? Sekarang adalah 80% pertarungan teknologi. Lihatlah tim sekelas Ducati yang lakukan riset dengan biaya tidak sedikit. Ditunjang dengan regulasi yang membuat motor setara. Maka yang terbaik adalah kerja sama pembalap dengan insinyur. Insinyur yang meracik motor canggih dan cepat.. Pembalap? Diam dan Ngebutlah !

    © ridertua.com

    Konten promosi pihak ketiga – hasil dapat berbeda untuk setiap individu....

    TINGGALKAN BALASAN

    Silakan masukkan komentar Anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini