RiderTua.com – Dr. Samuel Antuna, spesialis bedah ortopedi dan traumatologi dari Rumah Sakit Ruber Internacional yang pernah mengoperasi lengan Marc Marquez mengungkapkan kondisi fisik juara dunia 9 kali itu pasca menjalani operasi berkali-kali. Dari penjelasannya terungkap bahwa Marquez berhasil menyesuaikan gaya balap dan latihan fisiknya dengan lengan yang masih jauh dari kata normal. Dan yang lebih mengejutkan lagi, menurutnya lengan itu tidak akan pernah bisa kembali normal dan memiliki kemampuan seperti sebelum cedera.
Bahkan saat Marquez meraih gelar dunianya yang ke-9 tahun lalu, saat itu sebenarnya lengan kanan dan kirinya sudah memiliki perbedaan kekuatan yang signifikan. Operasi-operasi sebelumnya pada tulang humerus (lengan atas) dan bahunya meninggalkan dampak permanen. Meski begitu, saat itu rider berusia 33 tahun itu masih mampu mencapai kondisi fisik yang membuatnya bisa balapan tanpa merasakan kesakitan.
▶Daftar Isi
Dr. Samuel Antuna: Lengan Marc Marquez Tidak akan Pernah Normal Lagi, Kekuatannya Hanya Tinggal 50 Persen Saja!
Dr. Samuel Antuna menjelaskan, “Saya tidak berani mengatakan bahwa saat itu lengan kanannya baik-baik saja. Tetapi dia tetap bisa balapan, dia tidak merasakan ketidaknyamanan yang terlalu parah, meskipun lengannya tetap lemah. Kekuatan yang bisa dia hasilkan dengan lengan kanannya tidak sebanding dengan kekuatan lengan kirinya.”

Namun keseimbangan yang berhasil dia pertahankan hancur usai crash di Mandalika. Crash tersebut menyebabkan dislokasi akromioklavikular (sendi yang menghubungkan tulang selangka dengan bahu) disertai cedera tulang di dasar prosesus korakoid dan menandai babak baru dalam riwayat medisnya.
Dr. Antuna mengatakan, “Crash di Indonesia berarti harus memulai segalanya dari awal. Bagi seseorang yang memacu kendaraan dengan kecepatan 350 km/jam, sangatlah penting agar cedera seperti itu sembuh dengan sempurna guna menghindari komplikasi jangka panjang. Pemulihan dari dislokasi tersebut memakan waktu sekitar 4 bulan, namun crash itu juga menyebabkan masalah lain yang awalnya lebih sulit untuk dideteksi.”
Saat crash terjadi, sebuah potongan tulang yang bertahun-tahun sebelumnya digunakan untuk menstabilkan bahu Marquez bergeser dari posisinya. Dia tetap bisa balapan, tetapi dia mulai mengalami kesulitan mengendalikan lengannya. Selain itu, dia merasakan nyeri dan bahunya terasa tidak stabil saat mengendarai motor.
Awalnya, Marqeuz sendiri tidak tahu apa penyebabnya. “Marc terus membalap dan terus berjuang meraih kemenangan. Namun dia kesulitan mengendalikan lengannya, yang menyebabkan rasa sakit dan berujung pada crash,” ungkap Dr. Antuna.
Setelah dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, akhirnya terungkap penyebab pastinya yakni potongan tulang tersebut ternyata menekan salah satu saraf utama pada lengan. “Kami memastikan bahwa salah satu saraf terpenting di lengan yakni saraf radial mengalami tekanan dinamis akibat potongan tulang tersebut. Dampaknya bisa langsung terasa saat berkendara. Pada posisi tertentu saat balapan atau sesi latihan, Marc akan kehilangan kendali penuh atas lengannya, dan itulah sebabnya dia mengalami crash,” jelas Dr. Antuna.

Setelah diagnosis tersebut dipastikan, Marquez harus kembali menjalani operasi. Dalam operasi tersebut tim dokter juga melibatkan Andres Maldonado, seorang spesialis saraf perifer. Mereka mengangkat potongan tulang yang menekan saraf tersebut serta melepas beberapa sekrup yang tertanam dibahunya.
Saat ini keadaan Marquez tidak hanya bergantung pada kondisi tulang dan sendi saja. Serangkaian operasi yang sudah dijalaninya juga memengaruhi kondisi otot-ototnya serta mengubah cara kerja mekanis lengan kanannya.
Dr. Antuna mengidentifikasi beberapa otot yang terdampak, namun masalah terbesar ada pada otot bisep. Sebelum crash di Mandalika, sebenarnya Marquez sudah belajar untuk mengompensasi sebagian besar kekurangan tersebut.
“Otot latissimus dorsi Marc memang kuat, namun mengalami perubahan mekanis. Otot teres major juga terdampak atau dengan kata lain terjadi perubahan pada otot. Namun masalah terbesarnya adalah hilangnya kekuatan pada otot bisep. Kondisinya memang tidak sempurna, namun kompensasinya berjalan dengan baik. Dislokasi akromioklavikular dan cedera saraf yang muncul kemudian, menghancurkan keseimbangan tersebut,” tegas Dr. Antuna.
Dampak dari semua cedera dan operasi yang dialami Marc Marquez kini juga terlihat secara fisik. Bentuk ketiak kanannya yang mencolok dalam foto yang diunggah Marquez, ternyata memiliki penjelasan medis yang berkaitan langsung dengan banyaknya operasi yang pernah dia jalani. “Cekungan di ketiak kanannya itu bukan bekas gigitan hiu. Itu adalah akibat dari sejauh mana otot-otot tersebut dimanipulasi, dilepaskan, dan diposisikan ulang selama serangkaian operasi itu berlangsung,” jelas Dr. Antuna sambil tersenyum.

Dr. Antuna juga meluruskan satu hal penting terkait foto tersebut bahwa Marquez tidak kehilangan otot apa pun. Namun otot trisep, latissimus dorsi, teres major, dan otot dada (pectoralis) semuanya terdampak oleh berbagai operasi yang berbeda. “Tidak ada otot yang hilang, tetapi kondisinya tidak sempurna. Otot-otot itu mengalami sedikit atrofi dan perubahan bentuk, itulah sebabnya kekuatan lengan kanannya tidak sebesar lengan kirinya,” tegasnya.
Bisa Pulih Tapi Tak Lagi Sama!
Sulit untuk menentukan secara pasti, berapa persentase kemampuan yang masih dimiliki lengan tersebut, bahkan bagi dokter spesialis sekalipun. Alasannya, Marc Marquez memiliki kemampuan luar biasa untuk menutupi keterbatasannya sehingga sulit mengukurnya dengan angka pasti. “Lengan itu sangat terbatas kekuatannya, terutama pada otot bisep. Menurut saya, anggapan bahwa Marc saat ini membalap dengan ‘satu setengah lengan’ secara akurat mencerminkan kondisi lengan kanannya,” ungkap Dr. Samuel Antuna.
Situasi ini belum sepenuhnya bersifat final, mengingat operasi terakhir baru dilakukan 3 bulan lalu. “Kondisi bisep akan terus membaik, namun proses pemulihan pada usia 33 tahun tidak secepat atau sebaik saat berusia 22 tahun. Masih ada peluang untuk pulih, tapi lengan itu sama sekali bukan lengan yang normal dan tidak akan pernah kembali normal,” tegasnya.
Lebih lanjut, Dr. Antuna menjelaskan sejauh mana keterbatasan lengan Marquez saat ini. “Marc kesulitan bermain padel, itu saja sudah menjelaskan segalanya. Jika Marc adalah Carlos Alcaraz, dia pasti sudah harus pensiun dari dunia tenis profesional. Sulit untuk menjelaskan hanya berdasarkan kondisi fisiknya, bagaimana Marquez mampu terus mengendarai motor MotoGP dan bersaing memperebutkan kemenangan di tengah keterbatasan tersebut,” ujarnya.

Dr. Antuna melanjutkan, “Marc berusaha mengimbangi semua kekurangan ini dengan berlatih lebih keras lagi, serta menyesuaikan cara membalapnya dengan kondisi lengannya saat ini. Setelah semua yang kami lalui dan pelajari bersama, sekarang dia menjadi lebih dewasa dan lebih banyak berpikir matang sebelum mengambil keputusan. Secara medis, sulit untuk memahami apa yang dilakukan Marc dan bagaimana dia bisa terus memenangkan balapan.”
Saat ini atau menjelang GP Misano akhir pekan ini, Marc Marquez berada di peringkat 2 hanya tertinggal 19 poin dari pemimpin klasemen Jorge Martin. Dengan 9 seri atau 18 balapan tersisa, ada banyak peluang bagi juara dunia MotoGP 7 kali itu untuk mempertahankan gelar dunianya sekaligus meraih gelar dunianya yang ke-10 musim ini. Semoga saja enggak crash dan cedera lagi.












