RiderTua.com – Brian Uriarte adalah salah satu pendatang baru yang menjanjikan di kelas Moto3. Meski statusnya sebagai rookie, namun rider berusia 18 tahun itu tak gentar ketika harus duel langsung melawan pembalap yang sudah berpengalaman sekelas Maximo Quiles yang saat ini memimpin klasemen.
Uriarte berhasil memenangkan 2 balapan dalam debutnya di kejuaraan dunia yakni di GP Mugello dan Sachsenring. Setelah 12 seri, saat ini rider tim Red Bull KTM Ajo itu berada di peringkat 4 sekaligus menjadi rookie terbaik dalam klasemen dengan perolehan 127 poin tertinggal hanya 19 poin dari rekan setimnya Alvaro Carpe.
βΆDaftar Isi
Brian Uriarte: Karena Alasan Inilah, Akhirnya Ayah Saya Memilih Balap Motor Aspal untuk Saya
Perjalanan Brian Uriarte di dunia balap profesional tak lepas dari cawe-cawe sang ayah. Dia mengaku bahwa dirinya nyaris saja terjun di dunia motocross. Obrolan sang ayah dengan temannya yang seorang pembalap motocross mengubah arah kariernya. Saat itu Uriarte masih berusia 10 tahun, namun dia tampil hebat baik di lintasan tanah maupun aspal.

“Ayah saya menghadapi dilema, karena saya cepat di kedua kelas tersebut. Jadi, beliau berkonsultasi dengan seorang temannya yang hampir menjadi pembalap profesional motocross. Temannya itu bilang kepada ayah saya, bahwa lebih baik saya memilih balap motor aspal karena prospeknya lebih besar,” jelas Uriarte.
Nasihat itu menjadi titik balik. Sejak saat itu, Uriarte perlahan meninggalkan motocross dan fokus pada balapan di sirkuit. Meski akhirnya memilih balapan di aspal, motocross tetap menjadi bagian penting dalam pembentukan kemampuan balapnya dan porsi latihannya jauh lebih banyak di lintasan tanah dibandingkan aspal.
“Sepanjang pekan saya hanya berlatih motocross. Saya baru turun di balapan aspal saat akhir pekan,” jelasnya. Alasannya, karena di Cantabria (kota asalnya) hampir tidak ada sirkuit balap kecepatan. Sebaliknya, daerah itu memiliki banyak lintasan motocross yang dibuat dari pasir bekas tambang, sehingga dia lebih mudah berlatih di sana.
Latihan dan pengalaman di lintasan tanah ternyata mempertemukan Uriarte dengan banyak pembalap yang kini menjadi nama besar di dunia motocross. “Francisco Garcia akan pindah ke Kawasaki tahun depan. Dulu saya pernah balapan dan bertarung melawannya. Saya juga pernah melawan Carlos Prat, Joel Canadas, dan banyak pembalap Spanyol lainnya yang kini berkompetisi di level tertinggi motocross,” kenangnya.
Walaupun kini fokus di Moto3, kecintaan Uriarte terhadap motocross tidak pernah hilang. Dia selalu mengikuti perkembangan kejuaraan motocross Amerika Serikat maupun MXGP dan dia mengidolakan Jett Lawrence dan Jeffrey Herlings. “Saya sangat menyukai Jett. Bagi saya, Jett adalah GOAT (Greatest of All Time atau yang terbaik sepanjang masa). Saya suka gayanya. Dan Jeffrey Herlings akan selalu menjadi idola motocross saya,” ungkapnya.

Masuk ke Kejuaraan Dunia ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Meski datang sebagai salah satu talenta terbaik generasinya, Uriarte mengaku awal musim debutnya penuh kesulitan. Masalah yang dia hadapi bukan hanya soal performa. Beberapa crash dan cedera ringan juga menggerus rasa percaya dirinya. Di sisi lain, tekanan untuk segera mendapatkan hasil bagus justru memperburuk situasi.
“Awal musim benar-benar sulit bagi saya. Saya sempat kesulitan menguasai motor. Saat itu mentalitas saya juga tidak dalam kondisi terbaik. Sulit rasanya ketika segala sesuatunya tidak berjalan lancar,” ungkap rider Spanyol itu.
Justru masa-masa sulit itulah yang menjadi pelajaran terbesar dalam kariernya. Uriarte akhirnya menyadari bahwa dia terlalu terobsesi dengan hasil. Dia pun mengubah cara berpikirnya. “Begitu saya sadar bahwa saya melakukan sesuatu yang salah, saya mengubah pola pikir saya. Sejak saat itu, saya yakin kemampuan saya sudah jauh meningkat,” tegasnya.
Perubahan tersebut langsung terlihat di lintasan. Uriarte mulai tampil lebih konsisten, semakin sering berada di barisan depan, hingga akhirnya meraih kemenangan Kejuaraan Dunia pertamanya di Mugello. Kemenangan di Mugello menjadi bukti bahwa dia sudah siap bersaing di level tertinggi Moto3.Β Dia melakukan manuver agresif di tikungan ‘Savelli’ yang menjadi kunci keberhasilannya memimpin balapan menjelang fase akhir.
“Saya mengambil risiko besar di tikungan itu karena saya tahu bahwa ketika memasuki tanjakan menuju chicane terakhir, saya harus berada di posisi pertama,” jelasnya. Strategi itu pun berhasil dengan sempurna. Dia mampu menciptakan gap yang cukup besar dari rivalnya dan melintasi garis finis sebagai pemenang. “Saat melintasi garis finis perasaan saya luar biasa. Saya tidak bisa memercayainya. Saya sangat bahagia,” ujarnya.
Kemenangan di Sachsenring atau tepat sebelum libur musim panas, menjadi bukti bahwa perkembangan Uriarte memang nyata. Hasil itu melengkapi tren positifnya sepanjang musim debutnya di Moto3, yang menurutnya sendiri sudah jauh melampaui ekspektasinya.
Selain kecepatan murni, Uriarte menyadari ada satu faktor yang sangat penting dalam perkembangannya yaitu suasana di dalam tim. Menurutnya, merasa nyaman dengan semua orang yang bekerja di garasinya merupakan syarat mutlak agar bisa tampil maksimal.
“Menurut saya, hal terpenting adalah merasa bahagia di garasi dan membuat semua orang di garasi juga merasa bahagia. Saat kita melakukan pekerjaan dengan baik di lintasan, semua orang bekerja dengan lebih gembira. Itu membantu karena mereka jadi semakin bersemangat untuk bekerja,” jelasnya.
Cara berpikir seperti ini justru lahir dari masa-masa sulit yang Uriarte alami di awal musim. “Saya rasa periode ketika saya paling banyak belajar dalam karier saya adalah awal musim saat saya kesulitan, sering terjatuh, dan mengalami cedera ringan,”Β ungkapnya.

JuniorGP Menjadi ‘Sekolah’ Terbaik Sebelum Terjun ke Moto3
Brian Uriarte juga menilai bahwa pengalamannya berkompetisi di JuniorGP menjadi salah satu alasan utama mengapa dia mampu cepat beradaptasi di Kejuaraan Dunia. Menurutnya, ajang tersebut menjadi persiapan yang sempurna sebelum naik ke Moto3. “Di sana saya belajar bagaimana rasanya bekerja dengan tim profesional, tim yang setara dengan tim Kejuaraan Dunia,” jelasnya.
Hasil-hasil dalam beberapa tahun terakhir pun memperkuat argumennya. Semakin banyak pembalap lulusan JuniorGP yang mampu menembus Kejuaraan Dunia dan langsung bersaing memperebutkan kemenangan di musim pertama mereka di Moto3.
Selain Uriarte, Maximo Quiles dan Hakim Danish juga berhasil memenangkan balapan sebagai rookie. Sementara pembalap lain seperti Alvaro Carpe, Valentin Perrone, dan Veda Ega Pratama juga sejak awal menunjukkan bahwa mereka mampu bersaing di barisan depan. “Level persaingan di JuniorGP saat ini sangat tinggi, sehingga saat tiba di Kejuaraan Dunia, kita sudah sangat siap,” tegas Uriarte.
Menurut Uriarte, perbedaannya dengan masa lalu sangat jelas. Pembalap muda generasi sekarang datang dengan pengalaman lebih banyak sehingga mampu beradaptasi jauh lebih cepat di kelas yang tidak memberi banyak waktu untuk belajar.
Sebelum GP Silverstone, Uriarte sempat menempati peringkat 2 dalam klasemen dan menganggap Maximo Quiles menjadi tolok ukur utamanya. Dia mengakui kehebatan murid Marc Marquez itu, namun dia juga optimis bahwa mengalahkannya bukanlah hal yang mustahil. “Quiles adalah tolok ukurnya. Namun dia sudah punya pengalaman 1 tahun dan itu sangat membantu. Sementara saya masih rookie,” tegasnya.
Perkembangan mental Uriarte menjadi kunci dalam memangkas selisih poin dengan pemimpin klasemen. Menjelang balapan di Silverstone, Uriarte mengumpulkan poin lebih banyak dibandingkan pembalap lain dalam 5 balapan sebelumnya. “Sejak mengubah mentalitas, saya jadi menikmati balapan dan mulai mendekati pemimpin klasemen,” jelasnya.

Walaupun tidak ingin terlalu terobsesi dengan perebutan gelar dunia, Uriarte juga tidak menyembunyikan ambisinya. Dia percaya Quiles memang berada di level yang sangat tinggi, tetapi bukan berarti tidak bisa dikalahkan. “Dia tampil di level yang sangat tinggi, tetapi bukan berarti tak terkalahkan. Saya pernah mengalahkannya di balapan terakhir, jadi mengapa tidak mencoba mengejar ketertinggalan poin dan mungkin bersaing memperebutkan gelar juara? Siapa tahu,” pungkasnya.
Kalimat terakhir itu menggambarkan dengan sempurna perjalanan karir balap Brian Uriarte. Anak yang dulu hampir menghabiskan seluruh kariernya di dunia motocross kini justru menjadi salah satu harapan terbesar Moto3. Keputusan yang diambil saat usianya baru 10 tahun, setelah obrolan sederhana antara ayahnya dan seorang teman, ternyata sepenuhnya mengubah arah hidupnya.












