RiderTua.com – Pit Beirer (direktur olahraga KTM) menegaskan bahwa pihaknya jelas sangat menyayangkan kepindahan Pedro Acosta ke Ducati untuk 2027. Gimana tidak, lha wong Acosta selama ini tumbuh besar bersama KTM. Rider asal Murcia Spanyol itu bergabung dengan pabrikan asal Austria itu mulai dari CEV Moto3 Junior World Championship (2018-2020), Red Bull Rookie Cup (2019-2020), kemudian naik ke Moto3 (2021), Moto2 (2022-2023), dan akhirnya ke MotoGP (2024-2026). Dan dalam kurun waktu tersebut Acosta sukses memenangkan 3 juara dunia yakni Red Bull Rookies Cup pada 2020, Moto3 pada 2021, dan Moto2 pada 2023.
Dalam kurun waktu 3 tahun bersama KTM, Acosta belum pernah sekalipun menang balapan MotoGP. Dia hanya meraih beberapa podium. RC-16 belum menjadi motor kompetitif seperti yang diinginkannya. Untuk itulah, dia memutuskan menerima pinangan tim pabrikan Ducati Lenovo untuk 2027 dan 2028 sekaligus menjadi rekan setim baru dari juara dunia 9 kali Marc Marquez.
Pit Beirer (KTM): Kerja Keras Kami Memoles Pedro Acosta Dinikmati Ducati, Wajar Kalau Kami Dapatkan Pembalap Top Ducati Sebagai Imbalannya

Meski begitu, Pit Beirer mengaku sangat menghormati keputusan Acosta dalam menentukan masa depan karir balapnya. “Dia adalah bintang baru di paddock ini. Kami melakukan segalanya dengan benar. Menempatkannya di Rookies Cup, lalu memenangkan gelar dunia Moto3 dan Moto2. Kami jeli dalam memilih talenta yang tepat. Dia adalah ‘sang pilihan’. Dan kehilangan dia, tentu saja bukan bagian dari rencana kami. Kami telah berjuang keras untuk mempertahankannya,” ujar bos asal Jerman itu.
Beirer melanjutkan, “Namun, kami benar-benar harus menghormati keputusannya, karena menurut saya krisis yang dialami KTM juga turut berperan. Saya yakin, hal itu menyebabkan ‘kerusakan’ yang tidak bisa kami perbaiki pada 2025, saat kami harus membalap selama lebih dari separuh musim dengan material lama. Kami tidak bisa menyediakan motor baru seperti yang telah kami janjikan kepadanya. Kami harus mengakui bahwa saat itu kami belum cukup baik untuk memberinya keyakinan agar tetap bertahan.”
Tapi sebagai gantinya, KTM mendapatkan 2 pembalap top Ducati yakni Alex Marquez dan Fabio Di Giannantonio untuk 2027 dan 2028. “Yah, kami telah membentuk dan memoles seorang pembalap yang luar biasa untuk Ducati. Jadi, menurut saya wajar jika kami mendapatkan pembalap hebat dari Ducati sebagai gantinya. Saya sangat senang, bangga, dan antusias karena kedua pembalap ini. Alex dan Diggia memutuskan untuk bergabung dengan kami,” ujar Beirer.
Beirer menambahkan, “Hal ini juga menunjukkan bahwa kami tidak hanya harus berusaha mempertahankan apa yang sudah kami miliki. Ada pembalap lain yang melirik kami, menaruh kepercayaan pada kami, dan datang bergabung. Mereka berdua datang kepada kami, dan kami merasa memikul tanggung jawab besar untuk membuat mereka bahagia serta memastikan mereka bisa tampil kompetitif.”
Setelah meraih hasil-hasil yang memuaskan pada 2020, KTM mengalami penurunan performa yang cukup signifikan. Hal ini diperparah dengan kriris keuangan yang mereka alami pada 2024. “Menurut saya, seluruh tim di departemen balap kami di seluruh dunia dan di semua kelas balap sudah melakukan pekerjaan yang luar biasa, karena ada tekanan besar mengingat situasi yang ada. Meski begitu, kami semua tetap fokus dan terus bekerja keras. Kami berhasil meraih banyak gelar dunia serta kemenangan, sembari menjaga proyek MotoGP kami tetap hidup dan sehat. Tapi tentu saja, kami tidak puas dengan hasil saat ini,” ungkap Beirer.
Mantan pembalap yang saat ini berusia 53 tahun itu melanjutkan, “Kami ingin meraih hasil yang lebih baik di MotoGP. Di kelas balap lainnya di seluruh dunia, pada dasarnya kami berada di posisi terdepan. Namun pada akhirnya, kami dinilai berdasarkan hasil MotoGP karena ajang ini disiarkan di televisi, mendapat banyak sorotan media, dan juga karena proyek ini melibatkan banyak orang serta biaya yang sangat besar. Jadi, kami harus sukses di MotoGP. Hal itu sudah sangat jelas.”
“Kami berhasil meraih beberapa kemenangan di MotoGP, dan itu membuktikan bahwa proyek ini tidak gagal. Saat kami masuk ke MotoGP sebagai perusahaan yang berasal dari dunia motocross, orang-orang berpikir mustahil bagi kami untuk meraih hasil apik disini. Saya ingat betul saat kami memulai dengan catatan waktu 3,5 detik lebih lambat dibandingkan Marc Marquez dan Honda di Qatar. Dan target kami adalah untuk memangkas selisih waktu tersebut.”

“Jadi, saya bisa mengatakan bahwa pencapaian tertinggi kami adalah sudah pernah menang di kelas ini. Ini merupakan bukti kerja keras luar biasa dari orang-orang hebat di tim kami. Di sisi lain, tentu saja kita ingin terus berada di level tersebut. Begitu menang dan berhasil naik podium, kita pasti ingin terus berada di posisi itu. Dan itulah sisi yang membuat frustrasi dari MotoGP. Terkadang, kita sendiri tidak melakukan kesalahan besar apa pun. Hanya saja, pembalap dan tim lain terus membuat ke majuan, selangkah demi selangkah. Jika kita tidak mengambil langkah yang sama pada saat yang bersamaan, kita akan tertinggal,” jelasnya.
Tahun depan dimulai era baru di MotoGP dengan banyak perubahan regulasi. “Ini adalah kesempatan yang sangat unik bagi kami. Kami sudah lama berkecimpung di MotoGP, jadi kami harus memberikan hasil nyata. Motor 850cc ini benar-benar proyek baru yang dimulai dari nol, dan kami mencurahkan seluruh pengetahuan MotoGP kami ke dalam mesin baru ini. Tidak ada lagi alasan terkait motornya. Ini adalah motor baru, pembalap baru, dan struktur timnya pun agak berbeda. Jadi, saya seperti menekan tombol reset. Jadi saya tidak sabar menantikan tahun depan,” pungkas Pit Beirer.

Setelah 12 seri musim 2026, Acosta menjadi pembalap KTM dengan menempati peringkat 7 dengan perolehan 163 poin atau tertinggal 16 poin dari Marc Marquez yang berada di peringkat 4. Sementara rekan setimnya Brad Binder berada di peringkat 13 dengan 72 poin.












