RiderTua.com – Tak seperti biasanya dimana Fabio Di Giannantonio selalu menjadi pembalap Ducati terdepan tatkala mereka dipecundangi Aprilia. Namun di GP Inggris akhir pekan lalu, rider VR46 Ducati itu hanya menjadi pembalap Ducati terbaik ke-2 setelah Alex Marquez. Diggia hanya finis ke-5 di sprint dan ke-6 di Grand Prix, sementara rider Gresini Ducati dua kali finis di posisi ke-4 dalam 2 balapan di Silverstone.
“Saya sudah melakukan apa yang bisa saya lakukan semaksimal mungkin. Saya berusaha menghemat ban belakang semaksimal mungkin untuk tahap akhir balapan. Saya berhasil menjaga ban belakang dengan baik. Tapi akibatnya, saya terlalu membebani ban depan,” ujar rider berusia 28 tahun itu.
Fabio Di Giannantonio Mengakui: Saat Ini Ducati Hanya Nomor 2

Fabio Di Giannantonio mengaku bahwa sepanjang musim dia selalu menghadapi masalah ban. “Hal ini selalu terjadi di setiap balapan sejak awal musim. Sudah lama saya katakan bahwa kami harus meningkatkan paket motor kami. Paket ini sebenarnya bagus. Tapi saat ini, ibaratnya ‘selimut kami terlalu pendek’ atau dalam artian kami tidak bisa mengatasi semua masalah sekaligus,” jelasnya.
“Kalau kami menekan ban depan terlalu keras, bagian depan motor kehilangan grip dan balapan kami pun berakhir. Agar bagian depan motor bekerja sebagaimana mestinya, akhirnya kami menggunakan ban belakang secara berlebihan. Situasi ini sulit dikelola.”
“Pada race hari Minggu, bagian depan motornya sempat kehilangan grip (tergelincir) sebanyak 10 hingga 12 kali. Padahal sehari sebelumnya atau saat sprint race, situasinya justru terbalik. Saat itu performa bagian depan motor sangat bagus, tapi saya benar-benar menghabiskan ban belakang,” imbuh rider asal Roma Italia itu.
Aprilia sukses mendominasi GP Inggris dengan menyapu bersih podium dalam dua balapan di Silverstone, sementara itu tidak ada pembalap Ducati yang finis di 3 besar. Ironisnya, ini bukan kali pertama hal tersebut terjadi musim ini.

“Saat ini, kekuatan kami hanya nomor 2. Aprilia adalah nomor 1. Kami tahu Aprilia akan tampil kuat di sini, namun kami melihat adanya selisih performa yang cukup besar. Aprilia berhasil mempertahankan level tinggi ini selama sekitar 1 tahun, dan keempat pembalap mereka semakin sering berada di posisi depan. Kami sesekali ‘nyempil’ di antara mereka. Namun saat ini, kami tertinggal satu langkah. Itulah kenyataannya,” tegasnya menggambarkan perubahan kekuatan di MotoGP setelah bertahun-tahun Ducati mendominasi.
Apakah ini disebabkan karena karakteristik sirkuit? Diggia tidak sepenuhnya menganggap perbedaan tersebut hanya disebabkan oleh karakter sirkuit Silverstone. Memang, selisih performa antara Aprilia dan Ducati terlihat sangat besar di Inggris. Namun dia yakin, Ducati masih bisa kembali bersaing dalam level yang sama di sirkuit lain.

Usai GP Inggris, Diggia masih berada di peringkat 5 dengan perolehan 199 poin hanya tertinggal 1 poin dari Marc Marquez yang berada di peringkat 4 sekaligus menjadi pembalap Ducati teratas dalam klasemen. Diggia sendiri terpautΒ 41 poin dari pemimpin klasemen Jorge Martin dan unggul 15 poin atas Raul Fernandez (peringkat 6) yang sukses menjadi pemenang ke-12 di Silverstone.












