RiderTua.com – Semester pertama tahun ini diakhiri dengan penurunan penjualan di segmen LCGC hingga 18,4 persen. Nampaknya segmen ini masih terus tergerus hingga bulan lalu, sementara pasar roda empat terus diisi oleh model ramah lingkungan.
▶Daftar Isi
Penjualan LCGC Terus Menurun Hingga Juni 2026?
Mobil LCGC menjadi pilihan bagus bagi konsumen yang mencari mobil dengan harga terjangkau, dan dulu ada berbagai macam pilihan yang ditawarkan. Namun kini pilihannya hanya tersisa lima model saja, itupun empat diantaranya merupakan produknya Toyota dan Daihatsu, masing-masing menjual dua model LCGC. Honda menjadi satu-satunya merek yang melawan dominasi keduanya di segmen tersebut dengan Brio Satya.

Meski hanya tersisa lima model di segmennya, mobil LCGC masih terjual cukup banyak setelah tahun 2020. Namun sejak tahun 2024 penjualan tiap tahunnya terus menurun, dan ini juga terlihat hampir tiap bulannya hingga semester pertama tahun ini, dimana hasil yang didapat turun 18,4 persen dari tahun lalu di periode yang sama. Dari 68.038 unit di tahun 2025 turun menjadi 55.506 unit, cukup drastis dari yang dibayangkan.
Toyota melihat tren penurunan ini terjadi akibat kelas menengah di pasar mobil yang tertekan akibat sejumlah faktor, entah itu karena harga mobil yang mahal atau penyebab lainnya. Kalau pasar kelas menengah tertekan, alhasil pasar di bawahnya seperti segmen mobil entry level juga ikut tertekan, dan inilah yang membuat segmen LCGC menurun penjualannya. Jelas produsen tidak bisa berbuat apapun untuk mencegahnya, bahkan dengan memberikan diskon untuk mobilnya sekalipun.

Mobil Ramah Lingkungan Murah
Sebenarnya yang menjadi biang kerok penurunan penjualan ini yaitu makin banyaknya mobil ramah lingkungan yang dibanderol terjangkau di Indonesia. Melihat dari banyaknya mobil listrik murah yang diluncurkan disini, tentu tidak mengherankan mengapa mobil LCGC terus menurun penjualannya. Belum lagi kini sudah ada mobil PHEV dengan harga lebih murah di pasarnya, termasuk mobil hybrid.
Banyak merek asal China yang meramaikan pasar mobil ramah lingkungan dengan meluncurkan sejumlah mobil unggulannya disini. Meski tidak menimbulkan perang harga, tapi dampak dari banyaknya mobil murah di pasar tersebut sudah mulai terasa sampai ke segmen LCGC. Sementara merek Jepang sepertinya kesulitan untuk mengejar kompetitornya, walau mereka masih unggul di pasar mobil hybrid.

Tetap Jualan
Walau di tengah kondisi seperti sekarang, Toyota, Daihatsu, dan Honda masih tetap menjual mobil LCGC di Indonesia. Honda sendiri harus sendirian menghadapi dominasi Toyota dan Daihatsu hanya mengandalkan satu model saja, yaitu Brio Satya, meski modelnya masih bisa melawan model seperti Sigra-Calya dan Agya-Ayla. Namun penjualannya juga ikut menurun belakangan ini, dan sepertinya mereka harus menyegarkan modelnya sebelum hasil yang didapatnya turun drastis.
Sejauh ini, Calya menjadi mobil LCGC terlaris di segmennya, mengungguli kembarannya sendiri, Sigra. Memang tidak biasanya Calya yang menjadi model nomor satu di segmen LCGC, karena biasanya Sigra yang selalu memimpin, walau Brio Satya juga sempat memimpin segmen tersebut. Tapi dengan penjualan keduanya yang menurun akibat sejumlah kondisi di pasarnya, Calya kini merebut posisi pertama.

Entah apakah segmen ini bisa bertahan sampai beberapa tahun ke depan, sementara mobil murah di pasar mobil ramah lingkungan semakin banyak jumlahnya. Penurunan ini bakal terus menurun hingga kurang dari 100 ribu unit kalau tidak ada penanganan lebih lanjut, seperti memberikan insentif khusus untuk mobil LCGC seperti dulu atau semacamnya. Hanya saja insentif ini pernah diberikan dulu, sebelum akhirnya dihentikan karena dianggap bisa terjual lebih dari 100 ribu unit tiap tahunnya.
Jelas ini membuat harga mobil LCGC terus meningkat tiap tahunnya, meski kebanyakan masih dibanderol kurang dari Rp 200 jutaan. Meski begitu, model seperti Brio Satya sudah tembus angka tersebut, dan model lainnya seperti Calya dan Agya bakal menyusul setelahnya. Sementara Daihatsu berusaha keras mempertahankan harga Sigra dan Ayla yang masih di bawah Rp 200 juta.












