RiderTua.com – Omongan Mauro Grassilli yang menilai kalau kritik Pecco Bagnaia udah melemahkan semangat tim Ducati itu kayak ngebawa kita balik ke enam tahun lalu. Waktu itu, Andrea Dovizioso juga beberapa kali secara terbuka ngeritik arah pengembangan Desmosedici. Biarpun konteks teknisnya beda, keduanya punya benang merah yang menarik: pas kritik pembalap sampai keluar dari garasi dan jadi konsumsi publik, hubungan sama Ducati pelan-pelan bakal masuk ke fase yang gak mudah.
Mauro Grassilli (Direktur Olahraga Ducati) mengaku bahwa musim 2025 menjadi titik balik dari hubungan Pecco Bagnaia dan Ducati. Pembalap yang meraih 2 gelar dunia MotoGP untuk Ducati tersebut, terus menerus mengeluhkan Desmosedici GP25 miliknya. Rider Italia itu mengaku kesulitan menemukan feel pada bagian depan motornya. Pecco menyelesaikan musim di peringkat 5 dalam klasemen, setelah meraih 2 kemenangan grand prix dan 2 kemenangan sprint serta 10 podium lainnya.
Banyak yang mengkritik bahwa keterpurukan Pecco tahun lalu bukan karena motornya namun karena ‘kalah mental’ setelah menjadi rekan setim Marc Marquez. Mengapa? Karena Marquez berhasil meraih gelar dunia dengan motor yang sama.
▶Daftar Isi
Mauro Grassilli: Kritikan Keras Pecco Bagnaia, Melemahkan Semangat Tim Ducati

Mauro Grassilli mengatakan, “Saya rasa musim 2025 adalah tahun yang sulit bukan hanya bagi Ducati tetapi juga bagi Pecco. Itu adalah alasan utama yang membuat kami, baik Ducati sebagai pabrikan maupun Pecco sebagai pembalap, memutuskan untuk tidak melanjutkan kerja sama lagi.”
Grassilli mengaku bahwa masalah yang muncul bukan hanya soal hasil di lintasan. “Tak diragukan lagi, 2025 adalah tahun yang penuh tantangan. Bukan hanya dari perspektif olahraga, tapi juga dari perspektif hubungan di dalam tim. Sayangnya, kami mengalami masalah yang membuat kami yakin bahwa kerjasama di masa depan sudah tidak memungkinkan lagi,” ungkapnya.

Grassilli juga menyayangkan kritikan keras yang dilontarkan Pecco terhadap Ducati sepanjang musim. “Beberapa pernyataannya cukup keras. Pada dasarnya, pembalap adalah pemimpin tim. Dan ketika seorang pemimpin, dengan satu atau lain cara, membuat pernyataan yang terkadang melemahkan tim, itu tentu berdampak cukup besar dan mempengaruhi situasi dalam tim,” tegas bos asal Italia itu.
Tahun depan, Pecco akan bergabung dengan tim pabrikan Aprilia dengan meneken kontrak 2+2 (2 tahun dan opsi perpanjangan 2 tahun). Sebagai gantinya, Ducati merekrut Pedro Acosta dari KTM. Mauro Grassilli mengaku sudah lama mengincar rider berusia 22 tahun itu.
“Ini sudah berlangsung cukup lama. Situasinya seperti dua orang jatuh cinta, tapi hanya bisa saling melirik dari kejauhan. Kami saling memperhatikan, saling memberi isyarat, dan kami saling mendekati satu sama lain. Ketika kami punya kesempatan untuk bertemu, rasanya seperti cinta pada pandangan pertama,” ungkapnya sambil tertawa.

Grassilli yakin bahwa Acosta adalah pilihan yang sempurna untuk Ducati. “Kami tidak melihat paspor, kami tidak melihat kewarganegaraan. Tapi kami hanya melihat performa di lintasan, sikap dan pendekatan sebagai pembalap, dan kemampuan untuk memenangkan hati para penggemar Ducati,” jelasnya.
Pengganti Paolo Ciabatti itu melanjutkan, “Bagi kami, konsumen dan penggemar adalah hal yang paling penting. Dan Pedro punya semua kualitas yang dibutuhkan. Tidak diragukan lagi dia sangat cepat dan sangat agresif dalam arti positif. Menurut saya, dia memiliki semangat ‘Desmo’ yang sama dengan kami. Tinggal membuat dia menyadari hal itu.”
Banyak yang bilang bahwa hadirnya Acosta bersama Marquez akan menghadirkan persaingan internal yang cukup sengit di dalam garasi Ducati. Namun Grassilli tak menganggapnya sebagai masalah.

“Gesekan memang harus ada. Seperti yang selalu dikatakan Gigi Dall’Igna, ‘lebih baik memiliki dua pembalap kuat didalam tim dan mencoba mengelola mereka, ketimbang memiliki dua pembalap kuat sebagai lawan di tim lain’. Jadi mungkin akan ada sedikit gesekan, karena mereka berdua adalah pembalap yang sangat kuat. Saya sudah mengenal Marc dengan baik, tapi Pedro masih kurang. Tetapi kami akan mencoba mengatasinya sebaik mungkin. Saya yakin mereka adalah profesional,” pungkasnya.
Memasuki libur musim panas, Marc Marquez menempati peringkat 3 terpaut hanya 18 poin dari pemimpin klasemen Jorge Martin (Aprilia), sementara Acosta ke-7 dalam klasemen.
Ingat Masa lalu Era Dovizioso
Ucapan Mauro Grassilli yang menilai kalau kritik Pecco Bagnaia udah melemahkan semangat tim Ducati itu kayak bawa kita balik ke ‘era Desmo-Dovi‘ dulu. Waktu itu, Andrea Dovizioso juga beberapa kali blak-blakan ngeritik arah pengembangan Desmosedici di depan publik.
Biarpun konteks teknisnya beda, keduanya punya benang merah yang menarik: pas kritik pembalap keluar dari dalam garasi dan jadi konsumsi publik, hubungan sama Ducati pelan-pelan bakal masuk ke fase yang gak mudah.

Pada era Dovizioso, sorotan utamanya tertuju pada karakter Desmosedici. Selama beberapa musim menjadi penantang gelar dunia, Dovizioso secara konsisten mengkritik kelemahan motor saat melibas tikungan. Menurutnya, pengembangan Ducati terlalu berorientasi pada tenaga mesin dan aerodinamika, sementara masukan mengenai aspek sasis belum sepenuhnya mendapat perhatian.
Hubungan yang awalnya berfokus pada diskusi teknis perlahan berubah menjadi semakin dingin. Situasi tersebut akhirnya mencapai puncaknya pada 2020, ketika kerja sama kedua belah pihak berakhir setelah kontraknya tidak diperpanjang.
Pola ‘Pecat’ Dovi Mirip dengan ‘Depak’ Pecco..
Kini, pola yang hampir serupa kembali terlihat bersama Bagnaia. Bedanya, fokus kritik sang juara dunia bukan lagi soal karakter sasis, melainkan hilangnya grip ban belakang pada motor GP25. Keluhan itu berulang kali disampaikan kepada publik dan menjadi salah satu isu yang terus mengiringi perjalanan Ducati sepanjang musim.
Namun, bagi manajemen Ducati, persoalannya tampaknya bukan semata isi kritik tersebut. Melalui pernyataan Grassilli, terlihat bahwa perhatian mereka juga tertuju pada dampak yang ditimbulkan ketika evaluasi itu disampaikan secara terbuka.
Bagi Ducati, pembalap memang menjadi sosok sentral di lintasan, tetapi juga merupakan figur yang memimpin tim di garasi. Karena itu, setiap pernyataan yang muncul di ruang publik dinilai memiliki pengaruh terhadap motivasi para teknisi dan mekanik yang bekerja di balik layar.
Di sinilah benang merah antara era Dovizioso dan Bagnaia menjadi semakin jelas. Keduanya sama-sama menyampaikan kritik terhadap arah pengembangan motor, tetapi yang kemudian menjadi sorotan adalah bagaimana kritik tersebut dipersepsikan mampu memengaruhi keharmonisan internal tim.

Jika disandingkan, kemiripan kedua situasi itu cukup mencolok…!
Pada era Dovizioso, kritik diarahkan pada filosofi teknis Desmosedici, khususnya mengenai karakter motor saat memasuki tikungan. Sementara itu, Bagnaia lebih banyak menyoroti persoalan grip ban belakang yang menurutnya menghambat performa GP25.
Respons Ducati juga memperlihatkan pola yang serupa. Hubungan Dovizioso dengan internal tim perlahan merenggang hingga negosiasi kontraknya berhenti. Kini, melalui pernyataan Grassilli, Ducati secara terbuka mengakui bahwa komentar Bagnaia dinilai memberi dampak terhadap moral tim.
Kesamaan itulah yang membuat banyak pengamat melihat adanya pola yang berulang di Borgo Panigale. Masukan teknis tetap memiliki nilai penting dalam proses pengembangan motor, tetapi ketika kritik berkembang menjadi konsumsi publik dan dinilai memengaruhi situasi internal, respons Ducati terlihat jauh lebih tegas.

Dari dua periode yang berbeda itu, muncul satu gambaran yang konsisten mengenai filosofi kerja Ducati. Diskusi teknis tetap menjadi bagian penting dalam pengembangan Desmosedici, tetapi menjaga soliditas tim juga dianggap sebagai prioritas. Karena itulah, komentar Grassilli mengenai Bagnaia bukan hanya berbicara tentang satu musim kompetisi, melainkan sekaligus mengingatkan kembali pada kisah yang pernah dialami Andrea Dovizioso beberapa tahun sebelumnya… sebuah pola yang kini kembali menjadi perbincangan di lingkungan Ducati.
Apa bener Ducati ngulang pola yang sama? penulis pribadi sih belum bisa mastiin. Cuma waktu yang bisa ngejawab semuanya… Tapi, kemiripan antara kasus Dovizioso sama Bagnaia ini menurut saya cukup menarik buat jadi bahan diskusi. Bisa aja pembaca punya sudut pandang yang beda, dan justru di situ serunya ngeliat gimana sejarah kadang kayak keulang lagi, walaupun gak pernah bener-bener sama persis.(rt)












