RiderTua.com – Seharusnya insentif untuk mobil BEV bisa diberlakukan mulai bulan ini, tapi ternyata ada penundaan lagi. Entah sampai kapan insentifnya ditunda terus, padahal penjualan model jenis ini sempat turun drastis sepanjang bulan lalu.
▶Daftar Isi
Penjualan BEV Bulan Lalu Turun Drastis
Mobil listrik menjadi salah satu jenis mobil ramah lingkungan yang cukup populer di Indonesia belakangan ini, terbukti dari hasil penjualan dalam beberapa tahun terakhir terus meningkat. Namun bulan Mei lalu hasil yang didapat justru menurun drastis, dan ini sudah membuat produsen khawatir kalau penjualannya bakal terus berkurang kalau tidak ditangani. Sebab mobil jenis ini masih tetap dicari banyak orang di pasarnya selain mobil hybrid dan PHEV.

Sebelumnya dikonfirmasi akan ada insentif untuk mobil listrik, dan ini sudah menjadi kabar bagus bagi produsen otomotif di Indonesia. Sebab banyak yang menantikannya sejak akhir tahun lalu, dimana insentifnya sudah tidak diberlakukan lagi sampai sekarang. Beberapa konsumen mulai menunda membeli mobil sampai ada kejelasan dari lanjutan insentif tersebut, tapi penjualannya terlihat masih cukup stabil hingga bulan Mei 2026.
Awalnya pemberian insentif baru ini akan dilakukan mulai bulan Juni, sehingga produsen harus bersiap-siap untuk mematok harga baru untuk model BEV yang dijualnya. Namun ternyata insentifnya ditunda hingga bulan depan karena persiapannya yang belum cukup, dan kini sedang dievaluasi seperti apa persiapan yang dilakukan sebelumnya. Walau pemberian insentif ini tetap diberlakukan untuk 100 ribu unit mobil listrik yang dijual disini.

Penjualan Ikut Terpengaruh?
Penundaan insentif ini jelas bisa menimbulkan dampak serius bagi penjualan mobil BEV di Indonesia, sebab makin banyak konsumen yang menunda membeli mobil baru. Belum lagi dengan potensi menurunnya pertumbuhan ekonomi karena banyak merek yang menunda melakukan investasi BEV disini, jelas ini menjadi sesuatu yang harus dikhawatirkan. Sebab kalau dibiarkan begitu saja, makin banyak merek yang memindahkan produksi mobil BEV-nya ke negara lain, dan paling banyak dipindah ke Vietnam.
Sejauh ini sudah ada beberapa merek yang punya tempat produksi mobil listrik, dari BYD, Chery, GAC Aion, sampai XPeng. Kebanyakan diantaranya berupa merek asal China, sedangkan merek asal Jepang sampai Eropa belum juga merakit modelnya disini meski mereka sudah punya tempatnya. Mereka masih belum memutuskan kapan waktunya untuk merakitnya ketika mereka tetap bergantung pada mobil ramah lingkungan jenis lainnya, seperti hybrid atau PHEV.

Mobil Hybrid Tetap Laris
Kalau dibandingkan dengan mobil listrik, mobil hybrid masih terjual lebih tinggi sampai sekarang, bahkan selisih penjualannya lebih jauh lagi. Jaecoo J5 EV sendiri baru terjual 10 ribu unit hingga bulan lalu, tapi Toyota Kijang Innova Zenix HEV bisa terjual lebih dari 20 ribu unit. Jelas modelnya dihadirkan lebih dulu dari J5 EV, dan harganya juga tidak membuatnya kurang laku di pasarnya meski dibanderol lebih mahal dari Veloz HEV.
Sementara mobil PHEV yang kurang laris terjual, tapi kenaikan penjualannya jauh melebihi mobil listrik dan hybrid hingga ratusan persen dibandingkan tahun lalu. Seperti mobil BEV, lini modelnya kebanyakan dijual oleh merek China, tapi Chery dan Jaecoo yang paling mendominasi. Jelas ini membuat kompetitornya kesulitan menyaingi keduanya kalau penjualannya sudah melebihi 5 ribu unit, terlebih mereka bisa saja menambah lebih banyak modelnya kalau dibutuhkan.

Mobil BEV kini banyak dicari karena dengan harga bahan bakar yang naik, tidak sedikit konsumen mencari mobil yang tidak perlu diisi bensin. Pilihannya juga lebih beragam dari tahun sebelumnya, dimana model MPV, SUV, city car, hatchback, sedan, dan masih banyak lagi sudah disediakan. Harganya juga semakin bervariasi, dan model entry level yang paling sering dicari.
Entah apa nantinya insentif BEV ini benar-benar bisa diberlakukan bulan depan, karena kalau tidak penjualannya sudah nggak bisa tertolong lagi. Walau ini juga tergantung dari kondisi pasarnya.






