RiderTua.com – Marco Bezzecchi saat ini memimpin klasemen MotoGP dengan perolehan 142 poin. Sejak paruh kedua musim 2025 hingga 6 seri pertama musim 2026, rider tim pabrikan Aprilia itu menunjukkan performa kuatnya dan tampil konsisten di setiap balapan. Musim ini saja, dia memenangkan 3 grand prix berturut-turut dan dua kali finis ke-2 dalam 6 seri pertama (tidak termasuk sprint). Yang terakhir dia finis di posisi ke-4 di GP Catalunya..
“MotoGP adalah impian hidup saya. Tak mungkin ada kebahagiaan lain yang bisa menyamai apa yang saya rasakan saat mengendarai motor MotoGP. Ini satu-satunya hal yang memberi saya emosi yang begitu kuat,” ujar MarcoBezz.
Ritual Unik Marco Bezzecchi Sebelum Start: Saya Selalu Membisikkan Sesuatu untuk Menenangkan Motor Saya
Lebih lanjut Marco Bezzecchi menjelaskan, “Sensasi yang kita rasakan saat mengerem dan saat tubuh bagian atas kita seperti melayang di udara, itu luar biasa. Tenaga yang kita rasakan sangat besar. Semuanya terjadi dengan sangat cepat. Kita benar-benar merasakan suara motor dan memahami kecepatannya, itu luar biasa.”

Ada satu momen yang membuat adrenalin Bezzecchi memuncak. “Momen yang paling memacu adrenalin adalah saat start. Ketika start, jantung kita berdebar kencang dan terasa sangat menegangkan. Kita benar-benar sendirian di atas motor. Sampai lampu padam, tubuh kita sedikit gemetar. Saya mencoba menenangkan diri sendiri dan juga motor saya. Saya membisikkan beberapa kata kepada motor lalu bersiap untuk ‘take off’,” imbuh rider berusia 27 tahun itu.
Bezzecchi tak menampik bahwa targetnya jelas menjadi juara dunia musim ini. “Saya rasa setiap pembalap MotoGP bermimpi menjadi juara dunia, saya juga memimpikannya. Masih terlalu dini untuk mengatakan bahwa saya menungggangi motor terbaik dan sebagainya. Tapi yang pasti, itulah yang saya perjuangkan. Setiap kali saya naik motor, saya memimpikannya setiap hari di rumah, sejak kecil,” ujar rider berjuluk Simply the Bezz itu.
Untuk mewujudkan impiannya berkarir di dunia balap motor, Bezzecchi juga harus mengorbankan beberapa hal dalam hidupnya. “Setiap orang harus mengorbankan sesuatu dalam hidupnya. Semua pekerjaan yang harus dilakukan, masa-masa sulit ketika semuanya tidak berjalan sesuai rencana, tekanan media, dan juga tekanan dari para penggemar. Ini seperti pedang bermata dua,” jelasnya.

Murid Valentino Rossi itu melanjutkan, “Di satu sisi dukungan mereka sangat luar biasa, tetapi di sisi lain kita juga merasa bertanggung jawab untuk memberikan segalanya pada mereka. Saya adalah tipe orang yang memberi banyak tekanan pada diri sendiri. Tapi memiliki tekanan seperti itu adakah sebuah previlege.”
Namun menurut Bezzecchi pengorbanan tersebut sangat sepadan tatkala bertemu langsung dengan fans. “Dukungan dari fans adalah sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang. Ekspresi wajah mereka saat melihat kita, itu seperti membayar semua pengorbanan dan kerja keras yang sudah kita lakukan. Tatkala saya berada di luar rumah, hampir semua orang mengenali saya dan memandang saya dengan cara berbeda, rasanya aneh. Karena pada dasarnya, saya sama seperti mereka,” ungkap putra Vito Bezzecchi itu.
Di luar lintasan, Bezzecchi adalah sosok yang sederhana. “Saya hanya bekerja keras saat mengendarai motor. Selain itu, saya seperti orang lain pada umumnya. Di luar dunia motor, saya orang yang sangat santai, seperti yang biasa dilihat. Dulu waktu masih muda, saya juga sangat berantakan. Tapi sekarang sudah sedikit lebih baik. Saya senang bisa menjalani pekerjaan yang dulu saya impikan. Tapi menurutku ini bukan pekerjaan, karena mengendarai motor bukanlah sesuatu yang saya anggap sebagai pekerjaan. Itu adalah passion saya,” pungkas rider bernomor start 72 itu sambil tersenyum.

Akhir pekan lalu, Bezzecchi dan rekan-rekannya yang tergabung dalam VR46 Riders Academy melakukan latihan di Misano bersama sang guru Valentino Rossi.
Wah kalau pas di bisikin nurut gak masalah, kalau pas melawan gimana :)






