RiderTua.com – Halo rekan-rekan pembaca RiderTua. Valentino Rossi adalah seorang legenda balap yang menunjukkan bahwa gairah untuk balap tidak mengenal usia. Dia adalah juara dunia 9 kali (1 kali di kelas 125cc, 1 kali di kelas 250cc, dan 7 kali di MotoGP). Meski pensiun dari MotoGP, namun balap adalah panggilan jiwanya. Saat ini rider berjuluk The Doctor itu berkompetisi di ajang balap mobil ketahanan.
Dalam sebuah wawancara, Rossi menceritakan masa remajanya yang penuh keseruan sekaligus kocak. “Usia saya sekitar 15 atau 16 tahun dan saya bersekolah di Pesaro, itu masa yang sangat indah dalam hidup saya. Saat itu saya tinggal di Montecchio bersama ibu saya (Stefania Palma) dan perjalanan ke sekolah setiap hari tidak mudah. Seharusnya saya naik trem, tetapi rutenya lebih jauh dan saya harus berangkat 20-25 menit lebih awal. Jadi saya sering terlambat dan akhirnya berangkat dengan sepeda motor,” ujar rider bernomor start 46 itu.

Valentino Rossi: 2 Kendaraan (Piaggio Ape dan Zip) Saya Pernah Disita Polisi Dalam Sehari, Bapak Saya Marah!
Masalah muncul ketika musim dingin. Suhu yang dingin dan hujan membuat perjalanannya ke sekolah menjadi tidak nyaman. Saat itulah ayahnya Graziano Rossi memberi ide yang cukup unik. “Kenapa tidak membeli Ape saja? Dengan begitu kamu bisa lebih terlindungi (tidak kehujanan),” ujar Graziano kepada Vale.
BTW, Piaggio Ape adalah kendaraan komersial beroda tiga (mirip Bemo) yang awalnya identik dengan orang tua. Tapi akhirnya menjadi tren di kalangan anak muda. “Di daerah kami, Ape adalah kendaraan untuk orang tua. Misalnya untuk pergi ke kebun. Itu bukan kendaraan untuk anak muda. Tapi saya memutuskan untuk mengikuti saran ayah saya,” ungkapnya.

“Dan dari situlah malah jadi kendaraan bagi anak muda, karena semua teman saya ikutan beli. Yang seru itu bukan kemana kita pergi, tetapi perjalanannya. Bahkan pergi ke Rimini untuk bermain bowling saja, perjalanannya sendiri seperti sebuah petualangan, seperti Indiana Jones,” imbuh Rossi sambil tertawa.
Ape yang dipakai anak muda waktu itu kebanyakan model lama alias vintage, bahkan milik Rossi buatan tahun 1979. Dari situlah muncul cara ‘bersenang-senang’ yang cukup unil. “Kendaraan itu terbuat dari besi, jadi kami bisa saling tabrak pintu atau sportellate,” jelasnya.
Cara nongkrong Rossi dan teman-temannya juga punya gaya sendiri. “Selama istirahat sekolah, kami janjian bertemu di tempat tertentu. Siapa pun yang parkir duluan, yang lain akan parkir dengan cara menabraknya. Begitulah cara kami bersenang-senang,” imbuh Rossi sambil tersenyum.

Namun tidak semuanya menyenangkan. Rossi pernah mengalami masalah dengan pihak polisi. “Dalam satu hari 2 kendaraan saya pernah disita. Pertama, skuter saya. Polisi menyitanya karena saya tidak memakai helm. Saya sempat kabur, tapi mereka menelepon saya di rumah dan berkata, ‘hari Senin bawa skutermu kesini’. Skuter saya Zip warna hijau, jadi gampang dikenali,” ungkapnya.
Masalah belum selesai. Malam itu juga, setelah pergi ke Rimini untuk bermain bowling, kejadian yang sama terulang lagi. “Kami saling bertabrakan (sportellate) lalu polisi datang. Mereka mengejar kami, menghentikan kami di pom bensin dan bertanya, ‘apa yang kalian lakukan?’ Mereka lalu menyita dua Ape kami dan meninggalkan kami tanpa kendaraaan. Ketika ayah saya tahu bahwa skuter dan Ape saya disita polisi di hari yang sama, dia sangat marah. Dan saya pun tidak punya kendaraan lagi,” jelas rider pemilik tim VR46 Ducati itu.
Beberapa tahun kemudian kehidupan Rossi berubah total. Setelah terjun di kejuaraan dunia balap motor, rutinitasnya jauh lebih teratur. “Saya bangun di pagi hari, berlatih, dan latihan dengan simulator di rumah karena besok saya ada tes di Monza. Sebelum tes, biasanya saya melahap sekitar 50 lap untuk membiasakan diri dengan lintasan. Ini bukan sekadar video game biasa, karena levelnya sangat tinggi,” jelasnya.

Papa Giuleitta dan Gabriella itu menambahkan, “Ini buatan Amerika, namanya iRacing. Dimainkan di komputer, bukan konsol. Setirnya sama persis seperti di mobil balap saya. Setirnya bisa dilepas dari mobil lalu memasangnya di simulator. Semua tombolnya sama, jadi kita bisa berlatih. Terkadang saya bermain dengan orang asing. Ini lucu karena saya pakai nama ‘Valentino Rossi 2’ bukan Valentino Rossi, karena nama itu sudah dipakai. Jadi banyak orang tidak tahu itu saya.”
Saat ini, Rossi berkompetisi dalam balap ketahanan (endurance) yang sama sekali berbeda dari MotoGP. “Kami balapan dengan satu mobil untuk 3 pembalap, bergantian. Tuntutan fisik dan mentalnya sangat berat. Begitu kita masuk ke dalam mobil, adrenalin tinggi, gas pol habis-habisan selama 1 atau 2 jam lalu keluar mobil dalam keadaan capek, kaki pegal, lalu melihat jam dan masih tersisa 19 jam 37 menit,” ungkapnya.
Setelah itu ada waktu untuk memulihkan badan. “Setelah turun dari mobil, kita melepas semua perlengkapan, mandi, masuk kamar, lampu dimatikan, pakai penyumbat telinga, dan tidur. Kalau bisa tidur nyenyak, itu bagus. Tapi jika tidak, setidaknya kita bisa beristirahat,” imbuh Rossi.

Momen paling berat justru terjadi saat dini hari. “Kalau giliran kita selesai pukul 1:30 pagi lalu pukul 6:00 pagi kita harus mengemudi lagi. Bahkan kita sampai tidak tahu lagi ada di mana. Di situ kita berpikir, ‘mengapa saya mau melakukan ini?'” pungkas kakak Luca Marini itu.
Dari sekedar saling tabrakan seru pakai Ape di masa muda hingga menghadapi balapan ketahanan ekstrem di masa ‘tua’, Rossi menunjukkan bahwa jiwa kompetitif bukanlah sesuatu yang dapat dilatih tapi sesuatu yang dimiliki sejak lahir.






