RiderTua.com – Selamat datang lagi di RiderTua, Bro-Sis sekalian, Maverick Vinales sedang mempertimbangkan apakah jalur pengembangannya dengan RC16 adalah yang tepat setelah kekecewaan yang dialaminya di Thailand. Dimana dia memakai motor dengan paket yang berbeda dari semua rider KTM.. Mungkin ingin tampil beda dan bisa menonjol sendiri (kalau berhasil)..
▶Daftar Isi
Ultimatum Maverick Vinales ke KTM: “Kami Bukan Balapan untuk Finish Terakhir”
Musim dingin lalu jadi periode yang sangat berat bagi Maverick Vinales. Pembalap asal Roses ini menjalani pramusim dengan latihan keras, disiplin dan komitmen tinggi. Persiapannya naik level setelah merekrut Jorge Lorenzo sebagai pelatih pribadinya, sebuah kerja sama yang bertujuan meningkatkan aspek fisik sekaligus teknisnya. Berjam-jam di gym, sesi latihan dengan motor, dan perhatian penuh terhadap detail sempat memberi harapan besar untuk awal musim yang menjanjikan..

Namun, latihan yang keras itu tidak mampu membuat Vinales terhindar dari salah satu akhir pekan yang paling membuat frustrasi dalam beberapa waktu terakhir di Thailand.. Tidak ada yang berjalan sesuai rencana. Kurangnya grip jadi masalah utama yang dihadapi motor KTM-nya sepanjang waktu, faktor yang membuatnya tidak bisa menunjukkan potensi yang sempat terlihat saat tes musim dingin..
Kasus Maverick Vinales dalam proyek KTM bisa dibilang unik. Gaya balapnya mendorong ke arah pengembangan yang berbeda dari pembalap lain di tim oranye. Baik dari sisi komponen maupun setingan motor, pembalap Catalan ini telah memilih pendekatan sendiri demi mendapatkan feeling yang lebih halus dan sesuai dengan gaya balapnya. (mungkin dia masih teringat gaya Yamaha).
Pilihan yang Salah?
Pendekatan independen itu, meskipun menjanjikan untuk jangka panjang, namun telah menyebabkan lebih banyak kesulitan di awal musim ini, dan dia bertanya-tanya apakah ini jalan yang tepat atau apakah dia harus kembali ke jalan yang sama dengan rekan-rekan setimnya yang lain. Balapan di Brasil akan jadi penentu penting…

“Di Thailand saya tahu persis apa yang terjadi (tidak kehlanghan arah). Saya bicara apa adanya. Kami tidak bekerja untuk finis terakhir, tetapi untuk berada di depan. Ada KTM di depan, dan itu bukan saya. jadi kami harus berkembang dan bekerja lebih keras,” jelas pembalap asal Roses itu.
Akhir pekan ini dia akan kembali menggunakan pengaturan yang sama seperti di Thailand.. Ini akan menjadi ujian terakhir sebelum memutuskan apakah akan beralih ke RC16 yang digunakan oleh rekan satu pabrikan yang lain.( mungkin melihat Acosta gacor dia jadi goyah)
Debut di Buriram, yang jadi pembuka musim, jelas tidak mencerminkan kerja keras yang sudah ia lakukan sebelumnya.. Pilihan teknis dan setting yang ia ambil tidak memberikan hasil yang diharapkan… ia finis ke-19 di balapan sprint dan ke-16 di balapan panjang hari Minggu, melintasi garis finis 36 detik di belakang pemenang, Marco Bezzecchi, dan lebih dari setengah menit di belakang rekan satu timnya dengan motor yang sama (KTM), Pedro Acosta.

“Di Sepang (Tes) kami memilih jalur pengembangan yang cukup tepat. Namun, setingan itu tidak bekerja di Thailand. Saya akan memberi motor ini kesempatan lagi untuk melihat apakah motor ini terus berkinerja baik dalam kondisi yang berbeda. Jika tidak, kami akan beralih ke motor yang digunakan semua pembalap KTM. Yang paling penting adalah secepat mungkin memahami apakah arah ini benar atau balapan di Thailand cuma kebetulan (tidak cocok),” lanjutnya.
Masalah utamanya adalah grip ban depan. “Perbedaan dengan pembalap lain bukan cuma setingan.. ini sangat berbeda dalam hal sasis dan hal-hal lainnya. Kita perlu memahami apakah ini disebabkan oleh kondisi khusus di Thailand. Saya benar-benar kesulitan dengan cengkeraman ban depan. Kami sudah banyak mengubah motor, tapi efeknya tidak terasa di bagian depan, dan itu jadi masalah utama kami di Thailand.”
“Kami harus mencari solusi dan memahami apakah ini masalah khusus di sirkuit ini atau akan jadi masalah di semua trek.. Kita harus memberinya kesempatan lain. Saya benar-benar percaya ada potensi besar di Sepang. Tetapi di Thailand, ban belakang memiliki grip 90%, dan ban depan hanya 10%,”pungkas Vinales.

Kalau dilihat dari nada bicaranya, ini bukan sekadar curhat biasa….ini sudah masuk fase “deadline internal”. Vinales lagi di persimpangan: lanjut idealisme setup sendiri atau ikut arus KTM biar lebih kompetitif. Balapan berikutnya bakal jadi momen krusial, karena kalau hasilnya masih zonk, besar kemungkinan dia bakal ‘menyerah’ dan balik ke paket standar tim. Menarik sih, ini bukan cuma soal cepat atau lambat, tapi soal ego, feeling, dan arah pengembangan motor ke depan…










