RiderTua.com – Halo pembaca setia RiderTua. Tanpa keraguan sedikit pun, Massimo Rivola (CEO Aprilia Racing) menegaskan bahwa aerodinamika bergaya ‘F-Duct’ milik mereka sepenuhnya legal. Oleh karena itu, dia tidak akan terkejut jika konsep tersebut akan ditiru rival mereka di MotoGP.
“Saya melihat banyak media terutama fotografer, cukup senang mengamati motor kami dari dekat. Saya tidak tahu apakah pabrikan lain akan meniru kami, tapi ini bukan pertama kalinya terjadi,” ungkap Rivola.
Massimo Rivola: ‘F-Duct’ Aprilia Sepenuhnya Legal, Akankah Ditiru Pabrikan Lain? Ini Bukan Pertama Kali

Dua ventilasi kecil di atas winglet depan RS-GP yang terhubung dengan saluran keluar udara di kedua sisi motor yang berada tepat didekat posisi tubuh pembalap, menjadi sorotan. Ventilasi keluar tersebut terletak di bawah siku pembalap saat mereka dalam posisi membungkuk di trek lurus. Bagian tersebut dilengkapi dengan lapisan karet di sekelilingnya. Teorinya, karet tersebut membantu pembalap menutup ventilasi saat berada di lintasan lurus, sehingga aliran udara bisa di blokir atau dialihkan untuk mendapatkan keuntungan aerodinamis tertentu.
Di MotoGP ada aturan yang melarang penggunaan perangkat aerodinamis yang bergerak. Namun larangan ini lebih mengacu pada perangkat yang bisa diatur secara aktif atau berubah bentuk karena beban, bukan karena pengaruh posisi tubuh pembalap.
Tidak ada protes yang dilayangkan setelah Marco Bezzecchi mendominasi dan meraih kemenangan di GP Thailand pada hari Minggu. “Tidak, itu sepenuhnya legal. Jadi saya sangat tenang,” tegas Rivola.

Apa sebenarnya fungsi dari F-Duct? Ada berbagai teori tentang fungsi sebenarnya dari sistem tersebut. Salah satunya sebagai alat pendingin dan sistem yang membuat wingket kehilangan efek aerodinamis (wing-stalling). Rivola mengaku bahwa performa aerodinamis adalah salah satu kunci keberhasilan RS-GP yang tampil nyaris sempurna pada race hari Minggu di Thailand.
4 pembalap Aprilia finis di 5 besar. Satu-satunya yang memecah dominasi itu adalah Pedro Acosta dari KTM. Namun Marc Marquez yang nyaris meraih podium, mengalami kerusakan roda belakang di lap ke-21 dari 26 lap.
Rivola mengatakan, “Kami mendorong pengembangan aerodinamika dengan cukup keras. Pada saat yang sama, kami berpikir bahwa selalu ada sedikit penyesuaian di sana-sini. Detail kecil membuat perbedaan, kita dapat melihat bahwa bentuk motornya cukup berbeda dibandingkan tahun lalu.”

“Mengingat betapa sulitnya membuat paket aerodinamika yang baru, yang paling saya suka adalah setiap kali kami memperkenalkan aerodinamika baru, selalu langsung bekerja dengan baik bagi para pembalap. Hal ini menunjukkan bahwa simulasi komputer (CFD) dan terowongan angin (wind tunnel) kami bekerja dengan baik, sehingga cara kerja kami semakin baik. Saya sering mengatakan hal ini, tetapi setiap tahun kami menjadi pabrikan yang lebih baik. Kika pabrikannya semakin baik, maka performa kita juga akan semakin baik,” pungkas bos asal Italia itu.
Meski Marco mendominasi balapan akhir pekan di GP Thailand, namun dia gagal finis dalam sprint karena crash. Untuk itulah, dia hanya menempati peringkat 2 dalam klasemen terpaut 7 poin dari Pedro Acosta yang memimpin setelah menang dalam sprint dan finis ke-2 dalam race utama.

Namun jika kompetitor ingin memperkenalkan ‘F-Duct’ mereka sendiri, mereka hanya bisa melakukan satu pembaruan aerodinamis selama 1 musim. Kecuali Yamaha, karena mereka satu-satunya pabrikan yang masih menghuni peringkat D dalam konsesi sehingga diizinkan melakukan dua pembaruan.









