Ban Michelin Baru Jadi Tantangan Ducati, Marc Marquez Terpaksa Jalani ‘Survival Race’ di Silverstone
RiderTua.com – Ada satu foto yang langsung ramai jadi bahan omongan setelah balapan Sprint Race MotoGP Inggris 2026 di Silverstone kelar… Bukan soal selebrasi podium atau duel sengit di lintasan, tapi kondisi ban belakang motor Ducati milik Marc Marquez yang kelihatan terkikis pasca balapan selesai.
“Marc Marquez mengaku sudah merasakan ada yang tidak beres dengan ban belakang sejak lap ketiga Sprint Race Silverstone. Awalnya ia mencoba mengejar rombongan depan, tetapi setelah menyadari performa ban terus menurun, targetnya langsung berubah. “Balapan ini berubah menjadi survival race,” ujar Marc. Alih-alih mengambil risiko mengejar posisi, ia memilih mengamankan poin karena menurutnya tak ada gunanya memaksakan diri hanya untuk finis ketujuh atau bahkan gagal membawa pulang poin. Kini, fokus Ducati adalah mencari penyebab masalah ban tersebut sebelum balapan utama digelar.”
▶Daftar Isi
- 1. Marc Marquez Ungkap Ban Belakang Bermasalah Sejak Lap 3, Ducati Kehilangan Performa di Silverstone
- Ban Baru Michelin Mengubah Karakter Persaingan
- Ambisi Marc Marquez Berubah Sejak Lap Ketiga
- Fokus Berubah dari Menyerang Menjadi Mengamankan Poin
- Ducati Kehilangan Keunggulan
- Pekerjaan Rumah Ducati untuk Balapan Utama
Marc Marquez Ungkap Ban Belakang Bermasalah Sejak Lap 3, Ducati Kehilangan Performa di Silverstone
Foto tersebut seolah menjadi gambaran nyata apa yang dialami Ducati sepanjang Sprint Race. Ketika Aprilia mampu tampil kompetitif hingga finis, para pembalap Ducati justru mengalami penurunan performa yang semakin terasa memasuki paruh kedua lomba. Bagi Marc Marquez, balapan itu bahkan berubah menjadi sekadar upaya bertahan hingga garis finis.

Ban Baru Michelin Mengubah Karakter Persaingan
Situasi yang dialami Ducati tak lepas dari perubahan yang dibawa Michelin di Silverstone. Untuk Grand Prix Inggris, Michelin menghadirkan ban belakang kompon soft dengan karkas yang lebih kaku dibanding ban soft yang digunakan pada beberapa putaran sebelumnya.
Perubahan ini sudah dipersiapkan jauh sebelum akhir pekan balapan. Michelin menyesuaikannya dengan perubahan kalender Silverstone yang bergeser dari akhir Mei menjadi awal Agustus, sehingga karakter suhu lintasan ikut berubah.
Karkas yang lebih kaku dirancang agar lebih tahan terhadap perubahan bentuk dan kenaikan suhu saat digunakan. Namun, ban tersebut juga memiliki rentang suhu kerja ideal atau operating window yang menjadi penentu performanya.
Di sinilah perbedaan mulai terlihat. Sebagian motor mampu menjaga ban tetap bekerja di kondisi optimal, sementara motor lain justru kesulitan mempertahankan performanya sepanjang balapan.

Ambisi Marc Marquez Berubah Sejak Lap Ketiga
Marc Marquez sebenarnya memulai Sprint Race dengan target mengejar rombongan terdepan. Ia mengaku mencoba meningkatkan kecepatan pada lap-lap awal agar bisa bergabung dengan para pembalap di depan. Namun rencana tersebut berubah hanya dalam hitungan lap.
“Pada lap ketiga saya mencoba mengejar rombongan depan. Tapi saat itulah saya menyadari ada sesuatu yang tidak beres dengan ban belakang,” ujar Marquez.
Sejak momen itu, pendekatan balapnya berubah total.
Alih-alih terus memaksa menyerang, juara dunia delapan kali tersebut memilih mengelola kondisi ban agar tetap bisa mencapai garis finis.
“Saya mulai mengelolanya, tetapi tetap saja. Saat itulah saya melihat balapan ini berubah menjadi survival race,” katanya.

Fokus Berubah dari Menyerang Menjadi Mengamankan Poin
Masalah ban belakang membuat Marquez harus berpikir berbeda dibanding biasanya.
Ia tidak lagi mengejar posisi demi posisi, melainkan mulai menghitung risiko yang mungkin terjadi apabila terus memaksakan kecepatan.
“Anda mulai berpikir, mengapa harus mengambil risiko untuk finis ketujuh atau bahkan tidak mendapatkan poin?” ungkapnya.
Pernyataan tersebut memperlihatkan bagaimana kondisi ban benar-benar memengaruhi strategi balapan Ducati di Silverstone. Ketika cengkeraman mulai menurun, pilihan paling realistis adalah menjaga motor tetap stabil hingga finis.

Ducati Kehilangan Keunggulan
Kondisi yang dialami Marquez juga sejalan dengan performa Ducati secara keseluruhan pada Sprint Race. Karakter Desmosedici yang dikenal agresif dalam menyalurkan tenaga ke roda belakang tampaknya tidak menemukan kecocokan dengan karakter ban baru Michelin di Silverstone.
Sebaliknya, Aprilia mampu memanfaatkan ban tersebut dengan jauh lebih baik. Perbedaan performa bahkan terlihat dari catatan waktu putaran, ketika Marc Marquez kehilangan sekitar tujuh per sepuluh detik per lap dibanding KTM milik Pedro Acosta maupun Honda yang dikendarai Joan Mir.
Situasi itu semakin memperjelas bahwa akhir pekan di Silverstone bukan semata soal tenaga mesin atau kecepatan motor, melainkan kemampuan setiap paket motor menjaga ban tetap berada pada rentang suhu kerja yang ideal.

Pekerjaan Rumah Ducati untuk Balapan Utama
Sprint Race memang sudah berakhir, tetapi pekerjaan Ducati justru baru dimulai. Marc Marquez menegaskan timnya harus memahami penyebab ban belakang kehilangan performa begitu cepat sebelum balapan utama digelar.
“Untuk besok, kami harus mencari tahu penyebabnya,” kata Marquez.
Ucapan itu sekaligus jadi penutup yang ngegambarin betapa beratnya tantangan Ducati di Silverstone. Kalau Aprilia berhasil nemuin racikan yang pas sama ban baru Michelin, Ducati justru masih harus kerja keras nyari jalan keluar supaya masalah serupa nggak ngembali ngehambat performa mereka di balapan utama.












