RiderTua.com – Di dunia balap, nama Gunther Steiner emang udah lekat banget sama Formula 1. Tapi sekarang, pria berusia 61 tahun yang udah kenyang pengalaman di dunia reli, F1, sampai NASCAR ini lagi memulai babak baru dalam kariernya setelah resmi jadi bos baru tim Tech3.
Uniknya, walau jam terbangnya udah segudang di berbagai ajang balap, Steiner justru ngaku ngerasa kayak anak baru alias “rookie” pas mulai kenal lebih dekat sama dunia MotoGP.
Gunther Steiner Bongkar Kesalahan Lama MotoGP, Punya Pesan Tegas untuk Liberty Media
Pengalaman barunya itu membuka sudut pandang yang sama sekali berbeda tentang olahraga roda dua paling bergengsi di dunia. Dari luar, ia mengira sudah memahami bagaimana kehidupan seorang pembalap profesional. Akan tetapi, setelah terlibat langsung di lingkungan balap motor ini, Steiner sadari bahwa ada banyak hal yang sebelumnya luput dari perhatiannya.

Salah satu hal yang paling membuatnya terkejut adalah tingkat komitmen para pembalap Moto-GP dalam jalani persiapan sebelum turun ke lintasan. Ia ngakuin sempat meremehkan apa yang harus dilakukan para rider untuk tetap berada di level tertinggi. Kenyataannya, kehidupan mereka jauh lebih berat dibanding bayangannya.
Menurut Steiner, perbedaan paling mencolok terlihat dari cara pembalap MotoGP dan Formula 1 menjalani latihan. Di F1, perkembangan teknologi memungkinkan pembalap menghabiskan banyak waktu di simulator. Jika terjadi kesalahan atau bahkan menabrak dinding virtual, sesi latihan tinggal diulang tanpa konsekuensi fisik.
Namun, kondisi tersebut sangat berbeda di Moto-GP. Para pembalap tetap harus berlatih langsung gunakan sepeda motor, termasuk motor cross, demi jaga kemampuan dan kondisi fisik mereka. Di sinilah risiko sebenarnya muncul. Kesalahan kecil saat latihan bisa berujung pada kecelakaan yang nyata, bukan sekadar mengulang simulasi.

Situasi tersebut membuat Steiner menilai para pembalap Moto-GP menghadapi ancaman cedera hampir sepanjang waktu, bahkan ketika tak sedang menjalani akhir pekan balapan. Jika seorang pembalap Formula 1 mengalami insiden di simulator, latihan bisa langsung dimulai kembali. Sebaliknya, ketika pembalap Moto-GP terjatuh saat latihan menggunakan motor, yang datang bukan kesempatan kedua, melainkan ambulans.
Pandangan tersebut membuat Steiner semakin menghargai dedikasi para rider Moto-GP. Baginya, risiko fisik yang mereka tanggung setiap hari menjadi bukti bahwa olahraga ini menuntut keberanian sekaligus komitmen yang luar biasa tinggi. Bukan hanya saat lampu start menyala, tetapi juga dalam setiap sesi latihan yang mereka jalani sepanjang musim.
Di sisi lain, pengalaman barunya juga membuat Steiner melihat persoalan lain yang selama ini menurutnya kurang mendapat perhatian. Ia menilai pengelolaan MotoGP pada masa sebelum kedatangan Liberty Media terlalu berfokus pada pengembangan produk balap itu sendiri. Upaya meningkatkan kualitas kompetisi memang penting, tetapi menurutnya ada aspek lain yang justru tertinggal.

Steiner berpendapat bahwa sisi komersial dan hubungan dengan para penggemar tak mendapatkan perhatian yang semestinya. Padahal, sebuah kejuaraan dunia tak hanya membutuhkan persaingan yang menarik di lintasan, tetapi juga cara yang tepat untuk menghadirkan pengalaman yang lebih dekat kepada para penikmat olahraga tersebut.
Menurutnya, MotoGP sebenarnya sudah memiliki semua elemen yang dibutuhkan untuk memikat penonton. Persaingan yang ketat, keberanian para pembalap, hingga risiko besar yang selalu mengiringi setiap balapan membuat olahraga ini memiliki daya tarik yang sangat kuat. Masalahnya bukan terletak pada produknya, melainkan bagaimana produk tersebut diperkenalkan kepada publik yang lebih luas.
Maka tak mengherankan bila Steiner menyampaikan pesan yang cukup tegas kepada Liberty Media sebagai pemilik baru MotoGP. Ia menilai perusahaan tersebut tak perlu mengubah atau membuat MotoGP menjadi lebih menarik. Baginya, MotoGP sudah memiliki kualitas yang mampu “menjual dirinya sendiri” tanpa perlu mengubah esensi olahraga tersebut.
Sebaliknya, tugas utama Liberty Media adalah memastikan keunggulan MotoGP dapat terlihat oleh lebih banyak orang. Steiner menekankan bahwa fokus terbesar seharusnya berada pada pemasaran, promosi, dan cara menampilkan olahraga ini kepada dunia. Dengan strategi marketing yang lebih kuat, ia yakin potensi MotoGP bisa berkembang jauh lebih besar tanpa harus mengorbankan identitas yang selama ini membuatnya begitu istimewa.

Pandangan itu sekaligus memperlihatkan kesan pertama Steiner pas resmi gabung di paddock MotoGP. Datang dengan modal pengalaman segudang di berbagai ajang balap, dia malah nemuin kalau olahraga yang satu ini sebenarnya udah punya modal produk yang luar biasa banget.
Sekarang, harapannya simpel aja: bukan buat ngubah-ngubah MotoGP, tapi lebih ke gimana cara nunjukin ke dunia luar betapa serunya olahraga ini lewat strategi marketing yang lebih oke dan perhatian yang lebih gede buat para fans-nya.














