RiderTua.com – MotoGP Belanda 2026 kemarin bener-bener jadi akhir pekan yang menguras tenaga banget buat Alex Marquez. Perjuangan dia di lintasan Assen gak cuma berat karena ketatnya persaingan balap, tapi juga karena kondisi fisiknya sendiri yang belum pulih total. Sepanjang balapan, pembalap Gresini Racing ini harus mati-matian menahan rasa sakit di tubuhnya. Tapi hebatnya, dia tetep bisa bertahan sampai garis finish dan amankan posisi kelima, sebuah hasil yang rasanya berharga banget… baik buat diri dia sendiri maupun buat tim.
▶Daftar Isi
Manuver Agresif Bakal Dapat ‘Karma’? Alex Marquez Kirim Sindiran ke Di Giannantonio dengan ‘Bumerang’
Sejak awal pekan balapan seri Belanda, Alex memang datang ke Assen dengan kondisi yang jauh dari ideal. Cedera yang dialaminya beberapa waktu lalu masih menyisakan rasa nyeri, terutama di bagian bahu dan lengan. Situasi itu membuat balapan jadi jauh lebih berat dibanding biasanya.
Meski demikian, pembalap asal Cervera tersebut tetap menunjukkan mental pantang menyerah. Start hingga finis, ia terus bertahan di rombongan depan sambil berusaha mengelola kondisi tubuhnya yang semakin terkuras setiap lap.

Usai balapan, Alex bahkan ngaku sempat berpikir untuk akhiri balapan lebih awal. Rasa sakit yang terus meningkat membuatnya hampir menyerah ketika balapan sisakan sekitar sepuluh lap.
“Awalnya saya menikmati balapan, tetapi sekitar sepuluh lap jelang finis saya sebenarnya ingin berhenti. Jujur saja, saya sudah tak sanggup lagi,” ungkap adik Marc Marquez tersebut kepada media.
Namun, keinginannya untuk terus membawa pulang poin membuatnya bertahan di atas motor Ducati Desmosedici miliknya. Adrenalin saat berada di kelompok depan jadi motivasi tambahan yang membuatnya terus memaksa tubuhnya bekerja meski kondisinya sudah tak nyaman.

Alex akui sensasi yang ia rasakan sepanjang balapan berubah drastis. Jika pada awal lomba ia masih bisa menikmati pertarungan di lintasan, memasuki paruh kedua balapan semuanya berubah jadi perjuangan melawan rasa sakit.
“Campuran antara menikmati dan menderita, tetapi lebih banyak menderitanya. Mungkin saya hanya menikmati bagian awal balapan. Setelah itu saya benar-benar kesakitan dan lebih andalkan harga diri untuk terus bertahan,” kata rekan Fermin Aldeguer itu…
Rasa bangga terhadap diri sendiri jadi alasan utama mengapa ia memilih tak masuk ke pit dan tetap menyelesaikan balapan. Menurut Alex, selama dirinya masih mampu kendalikan motor tanpa membahayakan pembalap lain, ia merasa wajib memberikan kemampuan terbaik.
Ia bahkan merasa aneh karena catatan waktunya justru sempat membaik di fase-fase akhir balapan.

“Semuanya soal harga diri. Saya ingin memberikan kemampuan maksimal. Bahkan pada akhirnya saya bisa memperbaiki catatan waktu karena semangat untuk tetap bersama rombongan depan mendorong saya terus melaju. Saya juga tak berhenti karena saya tak membahayakan diri sendiri maupun pembalap lain,” jelasnya.
Biar rasa sakit di bagian bahu sama lengannya gak makin parah, Alex pun harus putar otak dan ngubah gaya balapnya. Dia milih buat ambil racing line yang lebih bersih dan halus, terutama pas lagi lewat tikungan-tikungan cepat yang butuh perpindahan arah secara agresif. Menurut Alex, dia emang harus jauh lebih hati-hati banget pas masuk sektor yang cepat supaya gak bikin kesalahan yang bisa bikin kondisi fisiknya makin drop.
“Saya hanya harus lebih memperhatikan sektor cepat dan melakukan perpindahan arah dengan lebih halus serta lebih terkontrol agar tak melakukan kesalahan,” ujarnya.
Meski harus terus melawan rasa sakit, posisi di rombongan depan memberikan motivasi tambahan. Hal itulah yang akhirnya membantu Alex amankan finis di posisi kelima, hasil yang menurutnya sangat positif mengingat kondisi fisik yang sedang dialaminya.

Peringatkan Diggia
Di luar perjuangannya sendiri, Alex juga ikut soroti insiden yang melibatkan sang kakak, Marc Marquez, dengan Fabio Di Giannantonio pada chicane terakhir Assen. Saat mencoba melakukan overtaking, pembalap VR46 tersebut melebar hingga memotong tikungan dan akhirnya dijatuhi penalti karena dianggap dapat keuntungan dengan keluar lintasan.
Alex menilai manuver tersebut terlalu berisiko dilakukan ketika balapan masih menyisakan lima putaran. Menurutnya, aksi seperti itu lebih layak dilakukan pada tikungan terakhir jika memang menjadi kesempatan terakhir untuk merebut posisi. “Tak ada yang perlu dikatakan. Menurut saya, itu bukan manuver yang tepat dilakukan saat balapan masih tersisa lima lap. Manuver seperti itu lebih cocok dilakukan di tikungan terakhir,” tegas Alex.
Ia kemudian memberikan peringatan yang cukup tajam kepada Di Giannantonio mengenai konsekuensi dari manuver yang terlalu memaksakan diri. “Ketika kamu melempar bumerang, kamu juga harus siap kalau bumerang itu akan kembali kepadamu,” sindir Alex, mengingatkan bahwa setiap aksi agresif di lintasan selalu memiliki risiko yang harus ditanggung pembalap itu sendiri… (mirip hukum karma) 🤭

Menurut RT (RiderTua) sih… wajar jika Alex Marquez seperti ‘membela’ sang kakak dalam insiden tersebut. Namun di sisi lain, muncul pertanyaan menarik. Bukankah Marc Marquez sendiri selama bertahun-tahun dikenal sebagai salah satu pembalap paling agresif di MotoGP? Bahkan banyak kemenangan dan duel legendarisnya lahir dari keberanian ambil risiko di area pengereman maupun saat menyalip lawan. Pada akhirnya, MotoGP memang bukan olahraga yang bisa dimenangkan hanya dengan bermain aman. Tanpa agresivitas yang terukur, balapan justru akan kehilangan daya tariknya.
Seorang pembalap juga akan sulit meraih kemenangan jika selalu memilih ‘mengalah’, tidak ngeyel dan hindari duel…. Yang jadi pembeda bukan sekadar agresif atau tidak, melainkan apakah manuver tersebut masih berada dalam batas kontrol, menghormati lawan, dan tak membahayakan pembalap lain. Itulah mengapa garis tipis antara manuver brilian dan manuver yang berujung penalti selalu jadi bahan perdebatan di MotoGP… (rt)
Alex Marquez Peringatkan Di Giannantonio: Manuver Agresif Bisa Berbuah ‘Karma’🤔






