Home MotoGP Jack Miller: Ban Belakang Michelin Sangat Menentukan Performa Motor MotoGP

    Jack Miller: Ban Belakang Michelin Sangat Menentukan Performa Motor MotoGP

    Jack Miller - Yamaha M1 V4
    Jack Miller - Yamaha M1 V4

    RiderTua.com – Para pembaca setia RiderTua di mana pun berada, Jack Miller merupakan salah satu pembalap di grid yang memiliki pengalaman di MotoGP dengan 4 pabrikan berbeda yakni Honda, Ducati, KTM dan sekarang Yamaha.

    Yamaha menggunakan mesin in-line 4 silinder selama 12 tahun berkompetisi di kelas utama, dengan memenangkan 8 gelar dunia yang terakhir diraih Fabio Quartararo pada 2021. Tapi tahun depan mesin tersebut akan dipensiunkan dan akan diganti mesin V4 yang baru, sama seperti 4 pabrikan lain di MotoGP.

    Jack Miller: Ban Belakang Michelin Sangat Menentukan Performa Motor MotoGP

    Jack Miller
    Jack Miller

    Ketika Jack Miller ditanya, apa yang membuat perbedaan paling besar? “Ban Belakang,” tegasnya. Rider tim Pramac itu menegaskan bahwa karakter ban belakang Michelin sangat menentukan performa motor MotoGP. Potensi ban ini sebenarnya sangat besar, tapi terbilang cukup sensitif. Ban harus benar-benar ‘menempel’ ke aspal dengan cara yang tepat dan bisa digunakan di semua fase tapi tidak boleh terlalu dipaksakan. Jika set-up motor dan gaya balap cocok maka keuntungan yang diperoleh pembalap besar sekali.

    Konten promosi pihak ketiga – hasil dapat berbeda untuk setiap individu.

    Miller menjelaskan, “Maksud saya, itu indikasi yang jelas. Ban belakang berubah 2 atau 3 tahun yang lalu. Sebenarnya sejak lama selalu cenderung mengarah kesana, seiring Michelin terus mengembangkan ban belakang ini. Tetapi untuk mendapatkan potensi maksimal dari ban belakang saat ini, kita perlu memastikan ban tersebut menapak di aspal. Kita harus menggunakan ban belakang untuk pengereman, di tengah tikungan, dan akselerasi.”

    Raul Fernandez - Jack Miller
    Raul Fernandez – Jack Miller

    “Tetapi pada saat yang sama, kita tidak boleh membebani ban secara berlebihan. Rentang kerjanya sangat sempit, tetapi ketika sudah optimal, performanya luar biasa. Jika kita dapat memaksimalkan potensinya, itu akan membuat perbedaan besar,” imbuh rider asal Australia itu.

    Ke’sensitif’an ban belakang Michelin inilah yang membuat performa motor MotoGP dapat berubah drastis dari satu seri ke seri lainnya. “Jika kita bisa masuk ke rentang kerja tersebut, hasilnya akan luar biasa. Seperti yang kita lihat di beberapa balapan akhir pekan, beberapa motor bisa ‘on’ tapi di akhir pekan berikutnya mereka ‘off’. Kami yang menunggangi Yamaha paling bisa merasakannya. Ketika trek tidak punya cengkeraman terbaik atau saat tim lain tidak dapat menggunakan ban belakang soft, kami cenderung memiliki performa yang lebih baik,” ungkap Miller.

    Jack Miller - Pedro Acosta
    Jack Miller – Pedro Acosta

    Rider berusia 30 tahun itu melanjutkan, “Karena kami tidak mendapatkan keuntungan maksimal dari ban soft seperti yang lainnya, jadi saat kami tidak menggunakannya, dampaknya tidak terlalu terasa buat kami. Sementara tim lain terus mengeluh tidak bisa mengerem dengan baik tanpa ban belakang soft, dan berdasar pengalaman saya dengan KTM, rasanya memang seperti itu. Ketika kita tidak menggunakan ban soft, rasanya nyaris seperti kita melepas rem. Karena kita tidak mampu memanfaatkan bagian belakang motor untuk membantu menghentikan motor sebesar biasanya.”

    Kini Yamaha akan menghadapi tugas berat, mencoba mengalahkan para rival yang telah berkompetisi di MotoGP dengan mesin V4 setidaknya selama 1 dekade. Namun Miller yakin Yamaha mampu menghadapi tantangan tersebut. “Tentu saja. Mereka telah mengerahkan semua upaya pada proyek baru ini,” tegasnya.

    Jack Miller - Pramac Yamaha
    Jack Miller – Pramac Yamaha

    Selain mengembangan mesin V4 yang baru, pada 2026 Yamaha juga dituntut mengembangkan mesin 850cc dengan ban Pirelli untuk persiapan menyambut MotoGP era baru yang akan berlaku mulai 2027.

    Miller mengatakan, “Jelas, motor-motornya akan berubah pada 2027 tetapi mereka harus melakukan sesuatu. Dan Yamaha secara proaktif melakukan sesuatu untuk tetap kompetitif. Sehingga pada 2027, mereka akan memiliki lebih banyak data. Para insinyur Yamaha telah bekerja keras selama 18 bulan terakhir. Dan mereka mungkin akan terus bekerja keras selama 24 bulan ke depan. Begitulah yang terjadi dalam ‘permainan’ ini. Ini semua adalah proses pembelajaran, untuk masa depan yang tidak terlalu jauh.”

    BTW, kemenangan terakhir mesin Inline diraih Alex Rins dengan Suzuki pada 2022 di Valencia.

    © ridertua.com

    Konten promosi pihak ketiga – hasil dapat berbeda untuk setiap individu....

    TINGGALKAN BALASAN

    Silakan masukkan komentar Anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini