RiderTua.com – Di MotoGP Aragon tahun lalu, Alex Marquez crash setelah bertabrakan dengan Pecco Bagnaia pada lap 17. Insiden tersebut kemudian viral dan menjadi berita utama di media-media olahraga. Pada akhirnya kakaknya Marc Marquez keluar sebagai pemenang di depan Jorge Martin dan Pedro Acosta.
Kini situasinya telah berbeda. Menjelang GP Aragon, Alex berada di peringkat 2 dalam klasemen sekaligus menjadi penantang serius bagi Marc Marquez. Dengan hanya tertinggal 24 poin dari kakaknya itu, rider Gresini Ducati itu masih memiliki peluang untuk menggeser Marc dari puncak klasemen.
Alex Marquez : Saya Tidak Tertarik dengan Masalah yang Dihadapi Pembalap Pabrikan Ducati
Menjelang GP Aragon, Alex Marquez mengatakan, “Baik balapan di Jerez, Le Mans, atau Silverstone, bagi kami tidak ada bedanya. Meskipun hanya berjarak 1,5 jam dari rumah, saya melihatnya sebagai balapan seperti balapan di trek lainnya. Tetapi ini seri yang paling saya suka. Karena saya sangat menyukai lay outnya dan sudah sangat mengenal sirkuitnya. Kami dulu sering melakukan uji coba di sini ketika masih di Moto3 dan Moto2.”

Siapa pesaing terberatnya? “Marc adalah Marc. Dia melaju dengan kecepatan 101 persen di trek mana pun. Satu-satunya hal yang dapat saya lakukan adalah memberikan tekanan sebanyak mungkin dan mengeluarkan kemampuan terbaik saya dan paket saya. Jujur, saya tidak tertarik dengan masalah para pembalap pabrikan dengan perkembangan terbaru pada GP25. Menurutku, saat ini saya memiliki motor terbaik di lintasan dan dalam hal ini saya juga sangat senang Ducati membiarkan GP24 tetap sama,” jawab Alex Marquez.
Terkait tes MotoGP yang digelar pada hari Senin usai balapan, rekan setim Fermin Aldeguer itu menegaskan, “Sejauh yang saya tahu, tes hari Senin akan digunakan untuk fokus bekerja dengan motor yang sudah ada. Tidak ada pembaruan yang direncanakan. Namun itu tidak masalah. Hal yang sama terjadi di Jerez, tes di sana juga singkat tetapi sangat efektif.”
Tes hari Senin di Aragon justru jauh lebih penting bagi Pecco Bagnaia, Marc Marquez, dan Fabio Di Giannantonio. Dimana mereka bertiga, khususnya Bagnaia terus kesulitan untuk mengeluarkan potensi penuh dari Desmosedici GP25.






