Bos KTM ‘Angkat Topi’ untuk Ducati, Tekanan Ban? Ducati Tidak Bersalah

RiderTua.com – Ducati memasuki MotoGP musim ke-20 tahun dengan Desmosedici series. Ini bisa menjadi yang tersukses sepanjang masa. Bos KTM, Pit Beirer sangat mengapresiasinya. “Saya harus angkat topi dan mengucapkan selamat kepada rekan-rekan saya di Bologna. Saat ini Ducati punya basis yang sangat baik. Juga, pada saat yang sama ketika motor menjadi begitu kuat, mereka juga punya 8 pembalap di 4 tim di MotoGP untuk melengkapi mereka. Jadi tentu saja ada ketidakseimbangan tertentu, ketika 8 pembalap dibekali motor yang begitu kompetitif. Tapi Manajer Ducati melakukan pekerjaan dengan baik,” ujar bos asal Austrai itu.

Masalah tekanan ban Pecco?.. “Karena semua sensor tidak akurat sehingga nilai pastinya tidak dapat ditentukan secara kredibel. Data bisa diakses semua teknisi tim, tapi bukan untuk mempermalukan tim mana pun, baik di media maupun di depan umum, tetapi untuk belajar bersama. Perdebatan setelah balapan Jerez tidak adil untuk Ducati,” kata bos KTM membela Ducati…

Bos KTM: Angkat Topi untuk Ducati

Seperti diketahui, teknisi dan manajemen KTM tidak selalu sepakat dengan regulasi teknis di MotoGP. Hal itu terungkap pada 2019, saat mereka melakukan protes terhadap spoiler roda belakang setelah kemenangan Andrea Dovizioso, yang tentunya juga diikuti oleh Honda, Suzuki, dan Aprilia.

Dan baru-baru ini kita bisa merasakannya dalam diskusi tentang winglet front ride height devices. Penyesuaian ketinggian berkendara untuk garpu depan disebut KTM sebagai teknologi ‘Zaman Batu’. “Kami lebih suka menginvestasikan ilmu pengetahuan kami dalam penggunaan bahan bakar sintetis. Kami ingin mendorong 100 persen dengan bahan bakar bio terbarukan di MotoGP pada tahun 2026, bukan 2027,” tegas Direktur Motorsport KTM Pit Beirer.

Namun setelah Ducati melakoni awal musim yang kuat, manajer balap KTM tidak menyayangkan pujian dan respek kepada beragam pabrikan dari Borgo Panigale. Dengan Enea Bastianini (peringkat 3), Jack Miller (5), Johann Zarco (6) dan Pecco Bagnaia (7),ada empat pembalap Ducati masuk 7 teratas di klasemen.

Selain itu, The Reds berhasil merayakan 8 podium dengan Bastianini (3 kali), Miller (2 kali) serta Zarco, Bagnaia dan Martin masing-masing 1 kali, tersebar di 3 tim berbeda. Dan rekor kualifikasi juga mengesankan. Desmosedici berada di posisi grid terbaik di 5 dari 7 balapan musim ini. Jorge Martin 2 kali, Bagnaia 2, dan Zarco 1 kali. Di Le Mans, Bastianini dan Miller merayakan kemenangan ganda pertama Ducati musim ini.

Ducati belum pernah memenangkan gelar dunia pembalap sejak Casey Stoner pada 2007, tetapi telah memenangkan gelar Konstruktor pada 2020 dan 2021. Dan sejauh musim ini bergulir, juara dunia Fabio Quartararo (Yamaha) kembali memimpin klasemen pembalap berkat konsistensinya.

Dengan KTM Tech3 Factory Racing, KTM melengkapi tim satelit untuk tahun keempat. Tetapi tim milik Herve Poncharal itu hanya menempati peringkat terakhir di klasemen tim pada tahun 2021 dan sekarang hanya berada di peringkat 12. Karena KTM RC16 masih punya kelemahan, dan KTM menggunakan dua rookie di tim satelitnya yakni Remy Gardner dan Raul Fernandez. Sementara Ducati hanya punya dua rookie di antara 8 pembalapnya yakni Marco Bezzecchi dan Fabio Di Giannantonio.

Kini Ducati telah berhasil merayakan kemenangan dan podium di hampir semua trek dengan mesin MotoGP. Tidak ada pabrikan yang bisa melakukan itu saat ini, kemungkinan besar Aprilia. “Sekarang kami harus menyatukan kepala dan bekerja keras untuk melawan superioritas Ducati,” keluh Pit Beirer.

Mantan pembalap yang menjadi runner-up motorcross 250cc 1999 itu juga sengaja menghindari pembicaraan tentang ban depan Bagnaia yang kurang angin saat meraih kemenangan di Jerez. “Karena saya sangat setuju dengan Gigi Dall’Igna. Dia dengan tepat mengungkapkan bagaimana keadaan dengan masalah ini. Memang benar bahwa ada kebulatan suara di aliansi pabrikan MSMA untuk tidak menjatuhkan hukuman, karena berada di bawah tekanan udara yang direkomendasikan,” ungkap Beirer.

“Karena sensor tidak akurat sehingga nilai pastinya tidak dapat ditentukan secara kredibel. Tahun ini pabrikan memiliki platform terbuka tempat kami mengirimkan semua data kami. Tapi bukan untuk mempermalukan tim mana pun, baik di media maupun di depan umum, tetapi untuk belajar bersama. Kami ingin mengatur pengukuran ban untuk tahun depan dengan sedemikian rupa, sehingga penalti dapat dikenakan jika tekanan ban turun di bawah level yang ditentukan. Perdebatan setelah balapan Jerez tidak adil untuk Ducati,” pungkas bos KTM itu.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Trending Post

Latest Articles

Gerakan Literasi Nasional

Ayo Kita Dukung

Archives

You cannot copy content of this page