Dulu, Yamaha YZR-M1 Motor yang ‘Ramah’ Pembalap

RiderTua.com – Dulu, Yamaha YZR-M1 dianggap sebagai motor yang sangat ‘ramah’ terhadap pembalap. Hal ini dibuktikan oleh Johann Zarco dan Folger yang mencapai beberapa hasil fantastis dengan Yamaha M1 di musim rookienya pada tahun 2017. Begitu juga dengan Quartararo dan Morbidelli, yang masing-masing memenangkan 3 balapan dengan model tahun 2019 di Petronas-Yamaha pada musim 2020. Hebatnya lagi, Morbidelli berhasil dinobatkan sebagai runner-up. Sekarang Managing Director Yamaha Motor Racing Lin Jarvis, sejauh ini senang dengan penampilan rookie MotoGP Darryn Binder. Tapi di sisi lain, dia ingin Andrea Dovizioso secepatnya dapat menyesuaikan gaya balapnya dengan M1..

Setelah memenangkan 5 balapan dan 3 podium, Fabio Quartararo berhasil meraih gelar dunia MotoGP untuk Yamaha pada 2021. Tetapi sayang, rekan setimnya Maverick Vinales menorehkan hasil yang bertolak belakang dengan rider asal Prancis itu. Dan setelah penampilannya yang buruk di Sachsenring, Vinales mengeluh bahwa Yamaha M1 hanya kompetitif 4 kali dalam setahun. Kemudian usai GP Spielberg-2 pada bulan Agustus, pembalap asal Spanyol itu memutuskan berpisah dengan Yamaha.

Sementara itu, Morbidelli dan Valentino Rossi masing-masing menempati peringkat 17 dan ke-18 dalam klasemen. Setelah Vinales hengkang, Morbido menggantikannya di tim pabrikan. Dan tempat Franky di tim Petronas digantikan oleh Dovizioso yang mencetak 12 poin dalam 5 balapan di 2021 (mulai balapan di GP Misano).

Lin Jarvis selaku Managing Director Yamaha Motor Racing, mengamati fenomena serupa tahun ini. Selain Fabio Quartararo, tidak ada pembalap Yamaha yang mampu mencapai performa terbaik. Tidak Morbidelli, tidak juga Dovizioso yang sama-sama menunggangi motor pabrikan tahun 2022. Sementara Darryn Binder berhasil finis di tempat ke-10 dalam wet race di Mandalika bersama tim WithU Yamaha.

M1 Dulu dan Sekarang

Yamaha YZR-M1 dulu dikenal sebagai motor yang sangat ramah terhadap pembalap. Namun pada musim 2022, hanya Quartararo yang lebih baik dari pembalap M1 lainnya.. Lin Jarvis mengakui, “Ya, saya setuju. Saat ini 3 pembalap Yamaha lainnya kesulitan mendapatkan hasil yang mereka inginkan. Sejauh ini, setidaknya penampilan 2 dari 3 pembalap lainnya mengecewakan. Kita berbicara mengenai rookie Darryn Binder terlebih dahulu. Kenaikan langsung dari Moto3 ke MotoGP adalah langkah besar yang menuntut banyak darinya.”

“Tapi dia berada di zona, di mana 4 rookie lainnya yang punya pengalaman di Moto2 berada. Bahkan dia peringkat ke-2 di Rookie Award. Jadi dia tidak membalap dengan buruk. Sekarang kita akan melihat, bagaimana dia terus berkembang seiring berjalannya musim. Darryn sedang dalam proses belajar. Motornya adalah model 2021. Tetapi karena kami belum meningkatkan performa mesin, pada dasarnya memiliki kekuatan yang sama dengan rekan satu merek.”

Manajer asal Inggris itu menambahkan, “Jika kita berbicara tentang Andrea Dovizioso, dia sedang mencari solusi. Perbedaannya, dia punya pengalaman selama 8 tahun di Ducati dan menjadi tes rider di Aprilia selama 6 bulan pada tahun 2021. Dan Dovi kembali ke Yamaha setelah hampir 9 tahun. Selain itu, dia bukan lagi pembalap muda, tapi dia masih harus belajar menaklukkan Yamaha lagi. Dia terbiasa mengendalikan Ducati yang punya cara yang berbeda.”

“Di Yamaha, kami kesulitan saat ada kekurangan grip di trek. Kemudian menjadi lebih halus dengan M1. Setiap pembalap menginginkan lebih banyak grip. Tapi kecepatan sejati Yamaha berasal dari gaya balap yang berbeda. Quartararo berhasil menguasainya dengan sempurna dan mampu mengubah gaya balapnya. Meniru Fabio bukanlah hal mudah. Saat Dovizioso membalap di Tech3-Yamaha 2012, dia sangat cepat. Saat itu dia masih memiliki kecepatan menikung di motor 250cc. Dia perlu mencari cara untuk nge-push motornya dengan benar. Jadi dia mencari set-up yang berbeda.”

Dan di sisi lain, Franco Morbidelli masih sangat kesulitan. Jarvis menjelaskan, “Dengan Franky, kami mencoba membantunya untuk kembali menemukan agresivitas dan daya juangnya seperti yang dia tunjukkan pada tahun 2020. Saat ini dia sedang mencari solusi untuk membuatnya merasa lebih nyaman di atas motor. Tetapi pada titik tertentu, dia harus berhenti mencari tapi cepat beradaptasi dengan mengubah gaya balap, dia harus membalap lebih agresif. Karena sudah jelas, motor punya kapasitas untuk melaju lebih kencang (dengan Quartararo).”

Related Articles

2 COMMENTS

  1. Sebenarnya YZF M1 itu memang masih ramah pembalap kok bahkan buat rookie sekalipun cuma masalahnya kecepatan mereka jg masih sama seperti dulu masalah mereka timbul karena kompetitor udah maju dua langkah..nah ketika mereka ingin lebih cepat dgn motor yg sama timbulah masalah ..ban spaning lah kurang grip lah pokoknya tetek bengek yg dikeluhkan VR46 lah..

  2. Geometri M1 terlalu condong ke depan, dengan level dimana teknologi suspensi sekarang ga mungkin bisa atasi.
    Di dunia ini,cuma Jeremy Mcwilliams sama Yukio Kagayama yang tau cara atasi masalah ini.
    Andai Yamaha mau

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Trending Post

Latest Articles

Gerakan Literasi Nasional

Ayo Kita Dukung

Archives