Rossi: Meski Tak Pernah Menang di Ducati Saya Tak Menyesalinya

RiderTua.com – Dalam sebuah wawancara, Valentino Rossi mengakui bahwa 1 atau 2 tahun lalu, pensiun dari balap motor membuatnya khawatir. Bahkan selama liburan musim panas Juli 2021, pembalap asal Italia itu sempat berpikir akan menunggangi Desmosedici di tim MotoGP Ducati miliknya. Namun pada usia 42 tahun, Rossi dengan berat hati memutuskan untuk mengundurkan diri dan menyerahkan pekerjaan ini kepada adiknya Luca Marini dan muridnya Marco Bezzecchi. The Doctor memastikan bahwa dia tidak menyesali apa pun yang telah dia lakukan dalam karirnya. Namun dia mengakui bahwa dia gagal mencapai beberapa target. Salah satunya memenangkan gelar ke-10. Namun itulah kehidupan, tidak semua keinginan manusia harus dan akan terwujud..

Rossi: Meski Tak Pernah Menang di Ducati Saya Tak Menyesalinya

“Ya, jujur ​​saja, saya belum siap untuk berhenti dari MotoGP pada 2019 dan 2020. Karena saya ingin mencoba segalanya dan bertarung untuk meraih kemenangan dan podium lagi,” ujar Rossi yang terakhir kali meraih gelar dunia pada 2009.

Sebagai pengingat, Rossi meraih kemenangan terakhirnya di GP Belanda-Assen pada 25 Juni 2017. Kemudian dia menemukan peluang untuk menang di Sepang pada 2018, tetapi Marc Marquez memberinya banyak tekanan. Rossi finis sebagai runner-up. Dan di Texas pada 2019 dia kalah 0,462 detik dari pemenang Alex Rins (Suzuki).

Rossi menambahkan, “Sekarang saya sudah pensiun. Saya bisa mengatasi kekhawatiran saya. Jelas saya tidak senang akan hal itu, saya tidak menyangkalnya. Tetapi saya juga tahu, bahwa saya tidak akan bahagia jika saya tidak mengundurkan diri sampai akhir tahun 2022. Karena saya ingin membalap 20 tahun lagi!”

Setelah pengumuman pengunduran dirinya pada 5 Agustus 2021, Rossi ingin menggunakan paruh kedua musim untuk merehabilitasi dirinya yang gagal pada tahun 2020 dan paruh pertama musim yang lemah pada 2021. Dan dengan dua kali finis di posisi ke-10 di Misano dan Valencia, sebenarnya Rossi berhasil pensiun dengan terhormat.

Di Valencia, Rossi finis tepat di depan teman sekaligus muridnya Franky Morbidelli yang finis ke posisi 11. Sambil tertawa Valentino berkata, “Sekarang saya bisa memberi tahu Franco, ‘Selama saya membalap, saya lebih cepat dari kamu’.”

Saat Rossi ditanya, apakah ada yang dia sesali terkait keputusan yang pernah dia buat dalam karier yang panjangnya? “Tidak, jujur saya tidak menyesal. Tentu, 2 tahun yakni 2011 dan 2012 dengan Ducati sangat sulit bagi saya, karena kami tidak pernah memenangkan balapan. Tapi itu adalah tantangan yang menarik. Pembalap Italia dengan motor Italia, itu adalah sebuah tantangan. Bahkan kemenangan bersama Aprilia di kelas 125 dan 250 cc berhasil menunjukkan kepuasan luar biasa bagi saya. Jika kami menang dengan Ducati, itu akan tercatat dalam sejarah,” tegasnya.

Namun Rossi tidak berhasil masuk daftar juara di MotoGP bersama Ducati, setelah sukses meraup kemenangan di Honda dan Yamaha. “Yang saya sesalkan adalah hilangnya gelar ke-10. Dan saya ingin meningkatkan rekor 199 podium MotoGP menjadi 200,” ujar pembalap asal Tavullia-Italia itu, yang juga ingin mematahkan rekor Agostini sepanjang masa dengan 122 kemenangan GP.

“Setidaknya saya berhasil membuat Ago gemetar dan ketar-ketir selama beberapa tahun,” ujar Valentino sambil tertawa.

Rossi melanjutkan, “Saya kehilangan gelar ke-10, karena saya pikir saya pantas mendapatkannya. Pada tahun 2015 saya memiliki tingkat membalap dan kecepatan. Tapi saya kalah dalam dua kali pertarungan gelar MotoGP di balapan final di Valencia, yakni saat melawan Nicky Hayden pada 2006 dan Lorenzo pada 2015. Itu tidak bisa diubah lagi. Dan secara keseluruhan, saya tidak bisa mengeluh tentang catatan keseluruhan karir saya.”

Related Articles

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Trending Post

Latest Articles

Gerakan Literasi Nasional

Ayo Kita Dukung

Archives

You cannot copy content of this page

%d bloggers like this: