RiderTua.com – Marc Marquez layak dinobatkan sebagai ‘King of MotorLand Aragon’. Setelah memenangkan sprint race, rider Ducati Lenovo itu juga memenangkan Grand Prix hari Minggu. Ini artinya, sejak dia bergabung dengan pabrikan asal Borgo Panigale itu Marquez menyapu bersih semua kemenangan dalam 3 tahun terakhir. Selain itu, dia 5 kali menang di Aragon saat masih membalap untuk Honda. Jadi total, Marquez sudah memenangkan 8 Grand Prix disana.
Start dari posisi ke-2, sebenarnya Marquez menjalani start sesuai rencana. Sama seperti saat sprint race, dia berhasil mengerem lebih lambat dari peraih pole position Marco Bezzecchi di Tikungan 1 dan langsung merebut posisi terdepan.ย Sayangnya, kemudian dia melakukan kesalahan yang cukup fatal. Marquez lupa menonaktifkan rear ride height device yaitu perangkat yang menurunkan bagian belakang motor saat start agar akselerasi lebih maksimal. Akibatnya, bagian belakang Desmosedici miliknya tetap dalam posisi rendah hingga motor menyentuh aspal di Tikungan 3. Kesempatan itu dimanfaatkan beberapa pembalap untuk menyalipnya.
Momen Menegangkan Marc Marquez dan Bezzecchi di 300 Km/Jam: Motor Saling โMenghisapโ

Marc Marquez menjelaskan, “Kemarin, Tikungan 1 adalah kunci kemenangan saya. Dan saya berhasil melakukannya lagi hari ini. Namun, saya membuat kesalahan fatal karena lupa mematikan rear ride height device. Saat saya berakselerasi dari Tikungan 1 menuju Tikungan 2, perangkat belakang itu masih aktif. Kecepatan saya sangat lambat di Tikungan 2 dan 3, sehingga banyak pembalap menyalip saya. Hal itu membuat balapan menjadi lebih sulit.”
Namun, Marquez langsung mengubah fokus untuk mengejar kembali posisi depan. “Begitu keluar dari Tikungan 1 dan sempat memimpin balapan, aku langsung sadar apa yang terjadi. Saya berkata pada diri sendiri, ‘oke, tidak ada gunanya mengeluh sekarang. Cobalah untuk tidak kehilangan terlalu banyak posisi dan bangun kembali ritme balapanmu’,” imbuh rider berusia 33 tahun itu.
Strategi itu berhasil. Marquez kemudian mulai melakukan serangkaian manuver yang impresif. Dia menyalip Jorge Martin di tikungan 15 pada lap pertama. Beberapa lap kemudian, dia menyerang Marco Bezzecchi yang saat itu memimpin balapan di tikungan yang sama. Namun, pembalap Aprilia asal Italia itu tidak menyerah begitu saja dan memberikan perlawanan sengit.

~ Saat duel melawan Bezzecchi terjadi, keduanya mengalami momen yang sangat dramatis di back straight dengan kecepatan sekitar 300 km/jam. “Rasanya sangat aneh, bahkan saat berada di atas motor. Karena pengaruh aerodinamika, pada kecepatan sekitar 300 km/jam ada momen ketika motor kami saling ‘menghisap’. Aku ingin menyalip lewat sisi kanan, tetapi motorku malah tertarik ke arahnya dan kurasa motornya juga tertarik ke arahku,” jelas Marquez.~
Meski Marquez adalah seorang pembalap berpengalaman dengan 9 kali menjadi juara dunia, situasi tersebut sempat membuatnya waswas. “Jika melihat tayangan ulang, terlihat motorku sempat sedikit wheelie saat berada di gigi 6. Itu momen yang menegangkan, tapi menjadi tontonan menarik bagi para penggemar,” ungkap rider asal Cervera Spanyol itu.
Setelah berhasil mengalahkan Bezzecchi, lawan terberat berikutnya adalah Pedro Acosta yang terus menempel ketat Marquez selama beberapa lap. Namun, Marquez masih menyimpan tenaga ekstra karena dia sudah menyiapkan rencana untuk sepertiga akhir balapan. “Saya berusaha menghemat ban di sebagian besar balapan. Rencana saya, kalau tinggal 10 lap lagi dan aku masih memimpin, maka saya akan menaikkan ritme,” ungkapnya.

Marquez benar-benar menjalankan rencananya itu dan berhasil. Dia menambah kecepatan, menjauh dari Acosta, lalu menjaga keunggulannya. Setelah 23 lap, dia melintasi garis finis dengan selisih waktu 1,754 detik di depan pembalap KTM yang tahun depan akan menjadi rekan setim barunya di tim Ducati Lenovo itu.
“Balapan kandang selalu terasa istimewa, dan kemenangan ganda membuatnya jauh lebih istimewa. Saya sudah bilang pada hari Kamis bahwa target saya adalah meraih poin sebanyak mungkin, mendekati angka maksimal 37 poin. Akhirnya saya berhasil meraih seluruh 37 poin itu, jadi saya sangat senang,” ujar Marquez.
Hasil sempurna di Aragon memberikan pengaruh besar pada klasemen pada klasemen pembalap. Sebelum datang ke Aragon, Marquez tertinggal 40 poin dari pemimpin klasemen Jorge Martin. Setelah memenangkan sprint race dan Grand Prix, selisih itu kini tinggal 19 poin. Selain itu, Marquez juga berhasil menyalip Bezzecchi dan naik ke peringkat 2 dalam klasemen. Kemenangan Marquez juga penting bagi Ducati dalam perebutan gelar dunia konstruktor. Kini Ducati hanya tertinggal 15 poin dari Aprilia di klasemen pabrikan.
“Kalau kami ingin punya peluang bertarung memperebutkan gelar dunia, kami tidak boleh membuang poin di sirkuit yang cocok dengan motor kami. Itulah yang berhasil kami lakukan akhir pekan ini. Ini adalah lintasan yang bagus untuk kami dan kami berhasil mendapatkan hasil maksimal,” tegasnya.
Meski berhasil memangkas selisih poin secara signifikan, Marquez belum menganggap persaingan selesai. Dia tetap yakin, para pembalap Aprilia akan kembali tampil kuat di trek yang cocok dengan RS-GP. “Martin memang mengalami sedikit kesulitan akhir pekan ini. Namun, saya yakin Martin dan Marco akan tampil sangat cepat di bagian akhir musim ini,” ujarnya.

Momen paling emosional terjadi setelah balapan selesai. Di depan tribun khusus yang diberi nama ‘Tribun 93′, Marquez merayakan kemenangan bersama ribuan penggemarnya. “Kami ingin memberikan pengalaman yang spesial kepada para penggemar. Bukan hanya soal balapan, tetapi juga menciptakan suasana seperti sebuah pesta. Itulah yang saya sukai. Saya ingin menikmati momen tersebut dan saat berada di lintasan, saya berusaha memberikan 100 persen kemampuan saya,” pungkas kakak Alex Marquez (Gresini Ducati) yang finis di posisi ke-4 dalam race utama di Aragon itu.












