RiderTua.com – Danilo Petrucci berkompetisi di kelas MotoGP selama 10 tahun yakni mulai dari 2012 hingga 2021. Tidak seperti pembalap MotoGP pada umumnya yang mengawali karir balapnya dengan berlaga di kelas Moto3 atau Moto2 terlebih dulu, rider Italia itu justru mengawali karirnya di European Superstock 600 Championship pada 2007. Kemudian naik ke kelas FIM Superstock 1000 Championship pada 2010 dan sukses menjadi runner-up pada 2011.
Lalu Petrux dipromosikan naik ke MotoGP pada 2012. Dalam kurun waktu 1 dekade di kelas utama, Petrux pernah membalap untuk 3 pabrikan berbeda yakni Aprilia, Ducati, dan KTM. Tapi pada 26 September 2022, dia pernah ditunjuk Suzuki untuk menggantikan Joan Mir yang cedera di GP Thailand.
Setelah meninggalkan MotoGP, Petrucci sempat mencicipi balapan ekstrim Relly Dakar dan juga berkompetisi di MotoAmerica Superbike sebelum akhirnya berlabuh di WSBK pada 2013. Setelah menghabiskan 3 musim bersama tim Barni Ducati, dia pindah ke tim pabrikan BMW. Namun sayangnya, kursinya di tim asal Jerman tersebut terancam hilang karena kabarnya BMW sudah melakukan kesepakatan dengan Brad Binder (saat ini membela tim pabrikan KTM di MotoGP) untuk 2027.
Danilo Petrucci Usulkan Perubahan Grid Start Demi Meningkatkan Keselamatan di MotoGP

BTW, crash serius yang dialami Johann Zarco di tikungan pertama di Barcelona pada bulan Mei yang lalu, kembali memicu perdebatan tentang keselamatan motor MotoGP yang kini semakin kencang. Pembalap LCR Honda itu mengalami cedera lutut kiri yang cukup parah akibat tabrakan tersebut.
Menurut Danilo Petrucci, salah satu masalah utama di kelas utama adalah motor prototipe yang jauh semakin cepat. Jika pembalap terlambat mengerem saat memasuki tikungan pertama setelah start, mereka tidak bisa mengimbanginya hanya dengan mengerem lebih keras.
“Dengan motor seperti ini, mengerem lebih keras tidak akan membuat perlambatan menjadi lebih baik. Begitu roda belakang terangkat dari aspal, daya pengereman tidak akan bertambah lagi. Kalau kamu terlambat sedikit saja saat mengerem, kamu sudah kalah. Yang bisa dilakukan hanyalah mencari cara untuk menghindari pembalap lain,” ungkap rider berusia 35 tahun itu.
Situasi tepat setelah start menjadi sangat berisiko. Semua pembalap melaju saling berdempetan menuju tikungan pertama, sementara banyak motor berada sejajar. Jika satu pembalap terlambat mengerem, hampir tidak ada celah untuk menghindari tabrakan.
Petrux juga mengkritik perangkat peninggi kendaraan (ride height device). “Ride height device jelas tidak membantu. Teknologi ini tidak ada pada motor produksi massal. Memang performanya meningkat, tetapi dalam kehidupan sehari-hari teknologi seperti ini sebenarnya tidak diperlukan,” tegasnya.

Dengan adanya perangkat tersebut, akselerasi motor menjadi meningkat. Dampaknya, kecepatan di trek lurus menjadi semakin tinggi, sehingga tantangan saat memasuki zona pengereman juga semakin besar.
Petrucci juga menilai bahwa peningkatan keselamatan tidak hanya bergantung pada motor, tetapi juga pada desain sirkuit terutama posisi garis start. Untuk sirkuit Barcelona khususnya, dia mengusulkan agar grid start dipindahkan lebih dekat ke tikungan pertama, sementara garis finis tetap berada di tempat semula. “Grid start bisa digeser sedikit lebih maju, tetapi garis finis tidak perlu diubah. Menurut saya, akan menjadi solusi yang baik jika posisi start lebih dekat dengan tikungan pertama,” jelasnya.
Alasannya cukup sederhana. Di Barcelona, ββpembalap MotoGP mencapai kecepatan sangat tinggi tepat setelah start sebelum harus melakukan pengereman keras untuk pertama kalinya. “Di Barcelona, ββpembalap memasuki Tikungan 1 dengan kecepatan hampir 300 km/jam. Lay out lintasan sangat menentukan,” tegas Petrux.
Menurut Petrucci, sirkuit Barcelona hanya menawarkan satu racing line ideal sehingga ruang untuk menghindar sangat terbatas. Beda dengan Mugello, pembalap juga tiba di tikungan pertama dengan kecepatan yang hampir sama tetapi tikungannya jauh lebih lebar. Jika perlu, pembalap bahkan bisa memilih racing line yang berbeda
Dengan memindahkan grid start lebih dekat ke tikungan pertama, jarak akselerasi setelah start menjadi lebih pendek. Akibatnya, motor akan memasuki tikungan pertama dengan kecepatan yang lebih rendah tanpa harus mengubah lay out sirkuit.

Menurut Petrucci, ide serupa juga pernah dibicarakan di Superbike. Dia mencontohkan Sirkuit Most yang memang terkenal memiliki chicane pertama yang sempit. Setelah start, rombongan pembalap yang masih sangat rapat harus memasuki area yang hampir tidak memberi ruang untuk memilih racing line berbeda.
“Di WSBK juga ada ide untuk memindahkan garis start. Di sirkuit Most, tikungan chicane pertama selalu menjadi masalah. Oleh karena itu selama 2 tahun terakhir kami meminta garis start dipindahkan. Saya rasa itu solusi yang bagus,” ungkapnya.
Ketika aturan baru berhasil mengurangi satu jenis risiko, para insinyur biasanya akan kembali menemukan cara lain untuk membuat motor menjadi lebih cepat. “Dari tahun ke tahun motor menjadi semakin cepat. Masalah-masalah baru terus bermunculan. Namun, begitulah hakikat dari pengembangan. Para insinyur ingin membuat motor melaju semakin cepat, sementara aturan bertujuan untuk memperlambat lajunya. Meski demikian, tugas insinyur adalah menciptakan motor yang semakin baik,” pungkas Petrux.
Meski demikian, Petrucci tidak yakin akan ada solusi yang bisa menyelesaikan masalah keselamatan sepenuhnya. Menurutnya, perkembangan teknologi balap berlangsung terlalu cepat, sehingga tantangan baru akan terus muncul seiring meningkatnya performa motor.












