RiderTua.com – Ternyata tidak hanya Mercedes-Benz yang memakai baterai solid-state untuk mobilnya, karena merek asal China mulai tertarik dengan baterai jenis ini. Dengan baterai solid-state, mobil listrik punya jarak tempuh setara dengan mobil EREV/REEV, yaitu 1.000 km!
▶Daftar Isi
Baterai Solid-State Kini Jadi Incaran Produsen BEV
Merek yang dimaksud adalah Geely, dan mungkin ini bukan sesuatu yang mengejutkan mengingat mereka terus menghadirkan berbagai macam produk elektrifikasinya. Apalagi dalam meningkatkan teknologi mobil listriknya demi menghasilkan produk berkualitas tinggi tapi dibanderol terjangkau. Tentu semuanya bisa dicapai kalau teknologinya bisa dikembangkan, tidak hanya fitur mobil tetapi juga baterainya.

Jenis baterai solid-state tentu bukan jenis baterai yang terdengar aneh bagi sebagian orang, karena baterai ini terdengar setelah sejumlah produsen memakaikan baterai ini pada mobil ramah lingkungannya. Tahun lalu Mercedes-Benz memakai baterai solid-state dan mengujinya di jalan, hasilnya mobil bisa menempuh jarak 1.200 km tanpa mengisi baterainya lagi. Ini sudah menjadikannya sebagai mobil listrik paling tahan lama kalau dibawa ke luar kota tanpa harus bolak-balik mengisi baterainya.
Nampaknya inilah yang membuat Geely semakin tertarik untuk mengembangkan baterai solid-state miliknya sendiri. Setelah melalui sejumlah pengujian di laboratorium, mereka akan memasangnya pada mobil mulai tahun ini, sebelum dilakukan sesi pilot deployment tahun depan. Tentu ini menjadi momen yang penting sebelum menerapkannya secara massal pada sejumlah produk elektrifikasinya, dan menghasilkan BEV dengan jarak tempuh 1.000 km.

Melaju Lebih Dari 1.000 km
Keunggulan dari baterai solid-state ini tentu saja terletak pada jarak tempuhnya yang melebihi 1.000 km. Baterai yang dikembangkan Geely ini punya kepadatan energi hingga 500 Wh/kg, lebih tinggi dari Golden Brick yang punya kepadatan energi sebanyak 250 Wh/kg. Makin tinggi angkanya, makin banyak energi yang bisa dibawanya, dan ini cukup bagus karena produsen nggak perlu membuat baterai berbobot berat hanya untuk membuat jarak tempuhnya lebih jauh.
Mereka menggandeng Dow Chemical untuk membuat perekat untul sel baterai solid-state, dan perekat ini bisa menahan suhu dari -40 derajat sampai 120 derajat Celcius. Ini berarti mereka akan menghasilkan baterai yang tahan lama di berbagai kondisi jalan, baik itu suhu dingin maupun panas. Sehingga pemilik mobil nggak perlu khawatir kalau melakukan perjalanan jauh dalam berbagai kondisi suhu, maupun ketika diparkir di luar ruangan.

Penerapan Baterai Baru
Nantinya baterai barunya ini tidak hanya dipakaikan pada mobilnya Geely saja, tetapi juga sejumlah merek dalam grupnya. Dari Zeekr, Lynk & Co., Polestar, Volvo, Lotus, Smart, Farizon, sampai Proton bakal kebagian baterai mobil solid-state tersebut, meski waktu penerapannya bisa berbeda-beda. Tapi mereka bisa saja melakukannya dalam waktu bersamaan agar kompetitornya nggak bisa menyusulnya, karena sudah ada merek senegaranya juga tertarik dengan baterai jenis ini.
BYD menjadi salah satu diantaranya yang menargetkan produksi baterai solid-state mulai 2027, walau dalam skala kecil saja. Namun ini berarti mereka bisa menjegal Geely sebelum merek tersebut melakukannya dalam skala lebih besar, tapi belum tentu keduanya bisa langsung menerapkannya begitu saja. Sebab produsen masih dihadapkan dengan sejumlah masalah pada pengembangan baterai solid-state, dan yang paling utama yaitu biaya produksinya.

Disebutkan biaya produksi baterai solid-state masih lebih tinggi dari baterai lithium-ion biasa, dan ini bisa menimbulkan masalah serius kalau mobil listrik nggak selaris tahun-tahun sebelumnya. Tapi tiap produsen tentu punya caranya sendiri dalam mengatasi masalah tersebut, termasuk soal proses perakitan sampai usia pakai baterainya. Apapun itu, semua ini dilakukan demi menghasilkan baterai yang punya jarak tempuh layaknya mobil EREV/REEV.
Melihat dari banyaknya merek Geely yang bisa kebagian baterai solid-state, tentu ada potensi penerapannya juga dilakukan secara global untuk merek lainnya. Tapi karena masih terlalu awal, mereka mungkin hanya melakukannya di negara tertentu terlebih dahulu, dan negara seperti Indonesia sepertinya harus menunggu lebih lama lagi.












