Home MotoGP Carlo Pernat: Skill Marc Marquez 2 Kali Lebih Baik Dibandingkan Marco Bezzecchi...

    Carlo Pernat: Skill Marc Marquez 2 Kali Lebih Baik Dibandingkan Marco Bezzecchi dan Jorge Martin

    Carlo Pernat - Marco Bezzecchi - Marc Marquez
    Carlo Pernat - Marco Bezzecchi - Marc Marquez

    RiderTua.com – Carlo Pernat mengkritik sistem konsesi MotoGP yang menurutnya hanya ‘mengebiri’ pengembangan Ducati daripada membantu Honda dan Yamaha keluar dari keterpurukan. Saat ini dua pabrikan Jepang itu sedang berlari untuk mengejar ketertinggalan dari 3 pabrikan Eropa.

    Menurut Pernat, Honda sedang menunjukkan langkah besar untuk kembali kompetitif dengan merekrut Fabio Quartararo dan Davide Brivio mulai 2027. “Quartararo dan Brivio adalah perekrutan yang luar biasa. Quartararo adalah satu dari tiga pembalap yang benar-benar menonjol di MotoGP saat ini, setara dengan Marc Marquez dan Pedro Acosta. Dan pemilihan Brivio sangatlah tepat, benar-benar langkah yang jitu. Dia adalah sosok yang selalu mengelola segala sesuatunya dengan sempurna, sejak zaman masih di Yamaha. Dia juga berhasil meraih kemenangan bersama Suzuki, dan kini lihatlah apa yang dilakukannya bersama Trackhouse,” ujarnya.

    Carlo Pernat: Skill Marc Marquez 2 Kali Lebih Baik Dibandingkan Marco Bezzecchi dan Jorge Martin

    Jorge Martin - Marc Marquez - Raja Sprint
    Jorge-Martin – Marc-Marquez

    Carlo Pernat mengkritik Ducati yang sempat terlalu kepedean setelah beberapa tahun terakhir mendominasi MotoGP. “Terutama karena mereka memiliki Marc Marquez dan pencapaian Marquez tahun lalu. Satu hal yang perlu diperhatikan, Ducati yang benar-benar optimal adalah model 2024. Kemudian peningkatan yang dilakukan pada 2025 tidak memberikan efektivitas yang diharapkan, namun Marc mampu mengendarainya melampaui batasan-batasan tersebut,” jelasnya.

    Dengan kata lain, Marc Marquez mampu membuat motor Ducati yang sebenarnya tidak sempurna terlihat jauh lebih kompetitif daripada kemampuan teknis sebenarnya. “Setidaknya 30 persen performa tambahan datang darinya. Dia memiliki motivasi yang sangat besar setelah semua yang dia alami, sehingga dia mampu menutupi hal-hal yang tidak bekerja dengan baik,” imbuhnya.

    Fabio Di Giannantonio - Pecco Bagnaia
    Fabio Di Giannantonio – Pecco Bagnaia

    Tahun lalu tak hanya Pecco Bagnaia yang kesulitan dengan Desmosedici GP25 tapi juga Fabio Di Giannantonio. Tahun ini, situasinya kurang lebih masih sama. Bedanya, tahun ini Marquez lebih puas dengan motornya (GP26). “Bukan berarti dia tidak ingin menang, tentu saja tidak. Tetapi dia tidak memiliki motivasi seperti yang dia miliki tahun lalu. Tambahan performa 30 persen itu tidak ada lagi, setidaknya tidak selalu ada,” jelas Pernat.

    Tahun ini situasi Marc Marquez sangat berbeda dibandingkan tahun lalu. Juara dunia 9 kali itu mengalami cedera dan mengawali musim dalam kondisi fisik yang belum sepenuhnya optimal. “Pertama, harus diingat bahwa dia sempat mengalami cedera dan memulai musim dalam kondisi fisik yang kurang fit. Dia bukan Marquez yang sama seperti tahun lalu. Jadi, wajar jika dia membalap dengan lebih hati-hati. Tahun lalu, tidak ada hal lain yang lebih penting baginya selain menang. Dia jatuh, bangkit lagi, lalu menang,” ungkap Pernat.

    Jorge Martin - Marco Bezzecchi
    Jorge Martin – Marco Bezzecchi

    Menurut Pernat, perebutan gelar dunia musim 2026 kembali terbuka bukan semata-mata karena Marquez kehilangan performa, tetapi karena Aprilia membuka sendiri persaingan tersebut. Pembalap gacoan mereka Marco Bezzecchi gagal mencetak poin dalam 4 grand prix terakhir sebelum libur musim panas. Di saat yang sama, kondisi fisik Marquez sudah membaik dan karakter sirkuit ‘njelalah’ cocok dengan Ducati dan dirinya. Marquez 3 kali menang dalam 4 grand prix tersebut.

    Pernat menjelaskan, “Persaingan perebutan gelar dunia kembali terbuka tahun ini, karena Aprilia sendiri yang membukanya kembali. Saat Marquez tertinggal 102 poin dari Bezzecchi, sulit membayangkan dia bisa bangkit mengejar ketertinggalan itu.”

    “Bezzecchi bukanlah seorang fenomena. Mari kita perjelas hal itu. Meski begitu, performanya tahun lalu luar biasa. Dia mendapatkan dukungan penuh dari tim dan seluruh struktur Aprilia karena Martin absen akibat cedera, namun dia benar-benar tampil layaknya seekor ‘pitbull’. Dia juga menunjukkan mentalitasnya meningkat tajam. Kemajuan yang semakin terlihat jelas di awal musim ini, meskipun kemudian dia harus berhadapan dengan Martin.”

    “Dan dia menghadapi Martin yang sedang dalam performa puncak. Sesuatu yang, terus terang, bahkan tidak saya duga sebelumnya. Ditambah lagi, ada faktor Marquez dalam persaingan ini. Lalu terjadilah peristiwa di Balaton Park. Suasananya tidak lagi sama seperti dulu. Saya tidak bilang Marco dan Jorge tidak saling bicara, tetapi tidak diragukan lagi ada ketegangan di antara mereka.”

    Jorge Martin - Marco Bezzecchi
    Jorge Martin – Marco Bezzecchi

    “Marco dan Jorge sedikit mengingatkan saya pada Max Biaggi dan Jean-Philippe Ruggia. Ingat saat Valentino Rossi dan Jorge Lorenzo menjadi rekan setim? Kita bisa saja mencoba mengatur acara makan malam sebanyak apa pun yang kita mau. Yang terpenting adalah kedua tim tetap menjalin kerja sama.”

    “Namun, tanda tanya terbesar saat ini adalah Martin. Dia akan segera hengkang dan tidak memedulikan hal lain, dia hanya ingin menang. Dengan begitu, dia akan membawa pelat nomor 1 ke Yamaha, persis seperti yang dilakukannya saat tiba di Aprilia,” jelasnya.

    Tahun depan Pedro Acosta akan menjadi rekan setim baru Marc Marquez di tim pabrikan Ducati Lenovo. “Gigi Dall’Igna telah melakukan pekerjaan yang luar biasa. Maksud saya, secara umum saya tidak akan pernah menempatkan dua pembalap Spanyol dalam satu tim Italia. Tetapi dalam kasus ini, keputusannya tepat. Gigi hanya ingin menang. Ducati berhasil memenangkan pasar dengan mendapatkan Pedro Acosta yang akan bersanding dengan Marquez. Jika tahun depan motornya tampil prima, sama seperti performa Ducati saat ini, saya rasa tim ini tidak mungkin kalah,” ujarnya.

    Marc Marquez - Pedro Acosta - Ducati Lenovo 2027
    Marc Marquez – Pedro Acosta – Ducati Lenovo 2027

    Menurut Pernat, kombinasi Acosta dan Marquez akan menjadi duet yang sangat kuat. Kuncinya tentu saja adalah performa Ducati model 2027. Jika Ducati berhasil membuat motor baru yang kompetitif seperti Desmosedici saat ini, Pernat melihat pasangan tersebut akan sangat sulit dikalahkan.

    Pernat masih menjagokan Marc Marquez sebagai peraih juara dunia musim ini. “Marc Marquez adalah kandidat terkuat. Karena dia berhasil memangkas ketertinggalan 102 poin. Selain itu juga karena alasan yang sangat sederhana, yaitu dia tahu cara mengelola berbagai situasi. Saat tahu bisa mengincar kemenangan, dia akan melakukannya. Saat menyadari harus bermain aman, dia akan melakukannya, mengamankan hasil, lalu melangkah maju. Dia tahu betul caranya. Tanpa diragukan lagi, kemampuannya dua kali lebih baik dibandingkan Bezzecchi dan Martin,” pungkas manajer gaek asal Italia itu.

    © ridertua.com

    TINGGALKAN BALASAN

    Silakan masukkan komentar Anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini