RiderTua.com – Nicolo Bulega saat ini sedang menikmati momen terbaik dalam karir balapnya. Rider tim Aruba.it Ducati itu memimpin klasemen dengan perolehan 491 poin atau unggul jauh mencapai 133 poin dari rekan setimnya Iker Lecuona yang berada di peringkat 2. Sejauh WSBK musim 2026 ini berjalan 8 seri, Bulega sukses memenangkan 23 balapan atau nyaris menyapu bersih semua kemenangan (setiap seri digelar 3 balapan).
Bulega mengatakan bahwa hasil yang ditorehkannya musim ini melampaui ekspektasinya. “Dalam 2 tahun terakhir, kami membangun fondasi untuk mencapai level ini. Tetapi merencanakan musim yang bagus dan benar-benar berhasil mencapainya adalah dua hal yang berbeda. Kesuksesan ini berkat perkembangan bersama antara diri saya, tim, dan motor Ducati. Ducati sukses besar dalam mengembangkan motornya,” ujar rider Italia itu.
Nicolo Bulega: Dilabeli ‘The New Valentino Rossi’ Justru Menjadi Beban yang Berat

Banyak yang menilai bahwa dominasi Nicolo Bulega di Superbike musim ini karena dia tidak punya lawan yang setara setelah rival kuatnya Toprak Razgatlioglu pindah ke MotoGP. “Tidak, penilaian itu justru membuat saya tersenyum. Saya tidak akan pernah bilang bahwa, seorang rival menang hanya karena yang lain tidak kuat. Jika seseorang lebih baik, maka kita harus mengakuinya. Jujur, hal-hal semacam ini semakin memotivasi saya,” tegas rider berusia 27 tahun itu.
Saat Bulega sedang naik daun pada 2017, dia sempat dijuluki ‘The New Valentino Rossi’. Namun seiring berjalannya waktu, dia mengaku julukan itu justru membebaninya. “Awalnya, saya senang mendapat julukan itu. Saat masih kecil saya berhasil memenangkan hampir semua balapan yang saya ikuti, sehingga banyak orang yang bilang bahwa hal itu mengingatkan pada Valentino, bahkan dari cara saya bersikap. Kemudian ketika hasilnya tidak sesuai ekspektasi, julukan tersebut malah menjadi beban,” ungkapnya.

Saat Bulega terjun ke kejuaraan dunia, bukan hasil apik yang didapat tapi justru sangat mengecewakan. Apa yang menjadi penyebab hasil buruk tersebut? “Di Moto3, tubuh saya terlalu tinggi dan terlalu berat untuk kelas yang sangat dipengaruhi kondisi fisik. Di Moto2, saya menghadapi kesulitan lain baik secara teknis maupun terkait dengan lingkungan tim. Semua itu membuat saya sangat kesulitan,” ungkapnya.
Tapi dari semua nasib buruk yang dialaminya, Bulega tak menampik bahwa antara 2020 hingga 2021 adalah masa yang paling sulit dalam karirnya yang bahkanΒ sampai memengaruhi kehidupannya di luar lintasan. “Saya terbiasa berada di barisan depan. Lalu tiba-tiba saya selalu berada di barisan belakang dan tidak bisa keluar dari situasi tersebut. Saat pulang ke rumah pun, saya tidak bisa melupakannya. Saya tidak bisa merasa tenang,” ungkapnya.
Pindah ke Superbike adalah titik balik dari karir balap seorang Bulega. “Itu membuat saya bisa kembali tenang. Saya menemukan orang-orang yang tepat dan mulai berkembang lagi tahun demi tahun. Secara mental, saya benar-benar berbeda dibandingkan diri saya yang dulu,” jelasnya.

Tahun depan Bulega dikabarkan akan naik ke MotoGP. Apakah ini merupakan ‘balas dendam’ yang sesungguhnya atas apa yang menimpanya di Moto3 dan Moto2 sebelumnya? “Ibaratnya, itu akan menjadi penutup sebuah lingkaran. Saya rasa belum pernah ada pembalap yang menjalani Moto3, Moto2, Supersport, Superbike, dan kemudian MotoGP. Ini akan menjadi kisah yang indah dan pembuktian yang luar biasa bagi saya,” jawabnya.
Bulega menambahkan, “Masuk ke MotoGP bukan tujuan utama. Setelah berada di sana, kita harus membuktikan bahwa kita pantas mendapatkan kesempatan itu. Jika tidak, kita akan langsung dicibir dan hatters pasti akan bilang bahwa ‘kamu lebih baik tetap di Superbike’.”
Sebagai informasi, Bulega menjalani debutnya di Moto3 pada 2015 di GP Valencia bersama tim VR46 Sky Racing dengan motor KTM. Kemudian pada 2019 dia naik ke kelas Moto2 masih bersama tim milik Valentino Rossi itu. Namun karena hasilnya jauh dari kata bagus, Bulega pindah ke tim Gresini. Namun lagi-lagi hasilnya sangat mengecewakan. Setelah gagal menunjukkan performa terbaiknya, dia pun pindah haluan ke kelas Supersport pada 2022.
Bulega sukses menjadi juara dunia Supersport pada 2023, lalu dipromosikan naik ke Superbike setahun kemudian di tim pabrikan Ducati. Dia sukses dua kali menjadi runner-up WSBK pada 2024 dan 2025. Dan kini gelar dunia nyaris berada dalam genggaman setelah mendominasi hampir semua seri musim ini.

Tahun depan, Bulega dikabarkan akan naik ke MotoGP dan bergabung di tim VR46 Racing. Ini berarti dia akan kembali bersatu dengan tim milik Valentino Rossi setelah sempat meninggalkan Akademi VR46 beberapa tahun yang lalu.
“Dari hubungan pribadi, kami tidak pernah ada masalah. Saya sering datang ke Ranch, bertemu dengan Vale, makan malam bersama, dan hubungan saya dengan anak-anak dari Akademi juga sangat baik. Jika kesempatan itu benar-benar datang, saya akan menganggapnya sebagai kesempatan kedua bagi kami semua,” pungkas rider yang tahun depan akan menjadi rekan setim Fermin Aldeguer itu.












