RiderTua.com – GP Belanda menjadi balapan akhir pekan yang menyulitkan bagi Honda. Luca Marini sudah kesulitan sejak hari Jumat dimana dia hanya menempati posisi ke-18 di sesi pra kualifikasi. Kemudian rider Italia itu hanya mampu mengamankan posisi ke-17 di grid start pada sesi kualifikasi dan finis di posisi ke-12 tanpa poin dalam sprint. Namun Maro bernasib baik dalam race utama hari Minggu. Dia berhasil finis ke-11 kalah 20,7 detik di belakang pemenang Ai Ogura (Trackhouse Aprilia). Tapi setelah Brad Binder kena penalti tekanan ban, dia naik ke posisi ke-10. BTW, rekan setimnya Joan Mir dua kali DNF karena terjatuh baik dalam sprint maupun race utama.
“Balapan yang sulit dan berat. Saya merasa punya pace yang sedikit lebih tinggi ketimbang pembalap-pembalap yang berada di depan saya, tetapi saya terjebak di belakang mereka. Kami bersenggolan di Tikungan 5. Sampai hari ini, saya benar-benar gagal paham apa yang sebenarnya terjadi. 4 atau 5 motor saling bersenggolan. Bahkan saya tidak tahu, apakah saya kehilangan winglet kecil atau komponen lain,” ujar Marini.
Luca Marini: Banyak Insiden dalam 3 Hari, Area Run-off Sirkuit Assen Harus Diperbaiki

Luca Marini mengaku kehilangan banyak waktu saat terjebak di belakang pembalap Tim Pramac Yamaha Jack Miller. “Ketika akhirnya saya berhasil menyalip Jack, saya yakin bisa memperkecil gap dengan Fabio (Quartararo). Tetapi begitu sampai di belakang Alex Rins, menyalip menjadi sangat sulit,” ungkapnya.
Karena terus menerus harus menyerang, ban belakang soft milik Marini menjadi cepat habis. “Pada akhirnya, ban belakang saya tidak memiliki cukup grip untuk melancarkan serangan lain. Saya mengalami kesulitan khususnya saat berbelok di belakang Alex, yang berarti saya kehilangan posisi setiap kali saya berakselerasi. Saya berharap dia melakukan kesalahan, tetapi dia bertahan dengan sangat baik. Tidak ada lagi yang bisa saya lakukan,” jelas rider berusia 28 tahun itu.
Honda sebenarnya sudah menyadari bahwa ban belakang soft akan habis menjelang akhir balapan. Namun menurut Marini, mereka tidak punya alternatif lain. “Ban medium bukanlah pilihan yang tepat bagi kami. Dengan ban itu, kami praktis tidak punya grip dan tidak bisa bertahan. Motornya terlalu mudah tergelincir di area mana pun. Itulah mengapa ban soft adalah satu-satunya pilihan kami,” tegas suami Martha Vicenzi itu.

Pada Sabtu malam, sirkuit Assen diguyur hujan deras sehingga suhu menjadi lebih dingin ketimbang hari-hari sebelumnya. Tapi menurut Marini itu sama sekali tidak mengubah kondisi lintasan. “Nol, nol, nol. Kondisinya tidak berubah sama sekali,” tegasnya.
Marini juga menyoroti masalah getaran pada setang (handlebar shaking/head shake) yang cukup kuat di Assen. “Ini adalah salah satu trek tercepat di kalender. Dengan performa motor saat ini, lintasan ini menjadi sangat menantang. Tapi juga cukup menyenangkan, karena di setiap tikungan kita berkendara hingga batas kemampuan. Itu memberikan sensasi adrenalin yang istimewa,” ujar Maro yang tetap bisa mengambil sisi positif sirkuit Assen.
Tapi masalah getaran setang tak hanya menimpa Honda. “Getarannya sangat kuat. Bahkan pembalap dengan motor yang jauh lebih stabil pun mengeluhkannya. Jadi ini bukan kesalahan pabrikan, tetapi karakter treknya. Satu-satunya yang menjadi pembeda adalah bagaimana pembalap mengatasinya,” ujar Marini.

Marini sangat prihatin dengan crash yang dialami Marco Bezzecchi di Tikungan 15. Pembalap Aprilia itu terjatuh lalu terguling-guling di gravel hingga nyaris menabrak dinding. “Dia sangat beruntung tidak menabrak dining. Saya harap dia baik-baik saja dan siap kembali untuk balapan di Sachsenring,” ujarnya.
Menurut Marini, komisi keselamatan (safety commision) harus menganalisis secara menyeluruh area run-off di Assen. “Mereka bisa memperbaiki area ini. Kecepatan motor saat ini luar biasa tinggi. Kalau seorang pembalap terjatuh di sana, mungkin area run-offnya tidak mencukupi,” tegasnya.
Sama seperti Marc Marquez, Marini juga mengkritik gravel trap di Assen. “Begitu motor atau pembalap masuk gravel, mereka langsung berguling-guling di dalamnya. Mungkin area run-off yang lebih luas dengan sedikit rumput akan lebih baik. Itu berhasil dengan sangat baik ketika Jorge Martin terjatuh di Tikungan 12. Dia tidak terpental atau terguling-guling seperti yang dialami Fermin Aldeguer saat mendarat di gravel. Jika terjatuh di Assen, kecepatannya tidak pernah rendah. Mereka selalu masuk gravel dengan kecepatan yang sangat tinggi,” jelas adik legenda MotoGP Valentino Rossi itu.

Selain itu Marini juga mengkritik pembatas lintasan, yang menurutnya harus ditinjau ulang. “Tidak hanya di Tikungan 15, tetapi juga di Tikungan 7, dinding pembatas tidak berada di posisi yang ideal. Kami akan membahas ini di Komisi Keselamatan dan mencoba untuk mendorong adanya perbaikan,” imbuhnya.
Marini juga menyinggung aturan baru yang akan mulai diberlakukan mulai 2027, dimana motor 850cc akan menggantikan motor 1000cc. Ini artinya, kecepatan motor MotoGP akan lebih lambat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. “Tahun depan motor-motor MotoGP memang akan jauh lebih lambat,” ujarnya.
Marini juga menegaskan bahwa perubahan regulasi saja tidak cukup. “Di beberapa titik, bahkan motor Moto2 pun masih bisa meluncur hingga mencapai pembatas lintasan. Itulah alasan, kita harus memperbaiki area-area ini. Seharusnya pekerjaan yang dibutuhkan tidak terlalu besar,” pungkas putra Mama Stefania Palma itu yang saat ini berada di peringkat 11 dengan perolehan 71 poin sekaligus menjadi pembalap Honda terbaik dalam klasemen itu.






