RiderTua.com – Sing penting gaji opo piala?? Davide Brivio (manajer tim Trackhouse) puas dengan performa Ai Ogura musim ini. Rider asal Jepang itu sangat konsisten dalam 5 seri pertama musim 2026. Gongnya, dia meraih podium pertamanya di MotoGP di GP Prancis akhir pekan lalu (finis ke-3). Sebelumnya, Brivio sudah pernah bekerja dengan beberapa pembalap asal Jepang. Saat masih bekerja di Superbike dia pernah bekerja dengan Yasutomo Nagai, kemudian dengan Wataru Yoshikawa, lalu dengan Noriyuki Haga. Ketika Brivio berada di Suzuka, sesekali Takuya Tsuda mampir…
Ketika Brivio ditanya, apakah Ogura adalah tipikal pembalap khas Jepang? “Ogura-san adalah tipikal asli orang Jepang dengan rasa hormat, sopan santun, dan nilai-nilai semacam itu. Menurutku, Ai adalah orang yang sangat cerdas. Dia mampu mendengarkan semua orang untuk memahami apa yang bermanfaat baginya dan apa yang perlu dia lakukan untuk melaju cepat,” ujar manajer asal Italia itu.
Davide Brivio: Ai Ogura Bisa Mendapatkan Gaji Gede di Honda!

Davide Brivio mengungkapkan bahwa Ai Ogura sudah terbiasa bepergian sendirian sejak kecil, dia sangat mandiri, sangat independen, dan mampu mengurus semuanya sendiri. Dari sisi budaya dan perilaku, dia benar-benar orang Jepang tulen. Cerdas dan sangat peka dalam memahami situasi.
Brivio menegaskan bahwa Ogura punya bakat alami. Sebagai contoh dia sangat cepat dalam memperlajari cara mengelola ban, begitu juga soal balapan. “Saya rasa ada sesuatu yang naluriah dan alami dalam dirinya. Selain itu dia juga banyak mendengarkan, terutama para insinyurnya. Jika mereka bilang, ‘coba lakukan dengan cara ini, mungkin akan lebih baik’. Maka dia akan langsung turun ke lintasan dan melakukannya. Dengan kata lain, dia selalu bersedia mendengarkan dan menyesuaikan gaya balapnya sesuai kebutuhan, untuk mencoba cara menikung yang berbeda dan mencoba teknik pengereman,” ungkap Brivio.
Ogura, orangnya suka ‘kepo’ tapi untuk hal yang positif tentu saja. Dia selalu ingin tahu, mengapa sesuatu terjadi dan mengapa sesuatu perlu diubah. Ini berarti dia sangat percaya pada orang-orang yang ada di sekitarnya. Hubungannya dengan para teknisi sangat baik. Tapi dia bukan tipe pembalap yang suka memerintah teknisi, untuk apa yang harus dilakukan. Sebaliknya, dia hanya menjelaskan bagaimana feelnya saat mengendarai motor dan membiarkan para teknisi bekerja untuk memperbaikinya.

Ogura juga tidak meminta banyak perubahan pada motor, untuk mendapatkan feel tertentu dan mencapai performa tertentu. Dia harus gas pol hingga batas maksimal terlebih dulu, baru kemudian mulai berbicara soal motornya. Terkadang justru para teknisi yang memintanya agar memberi lebih banyak masukan.
Brivio mengaku bahwa Matteo Baioco (pelatih lintasan Aprilia)-lah orang pertama yang melihat potensi Ogura. “Dia menyuruhku untuk memperhatikan Ogura, bukan hanya karena dia cepat tetapi dari cara dia menikung terlihat bahwa gaya balapnya cocok untuk MotoGP. Misalnya, cara dia berakselerasi keluar dari tikungan dan ada hal-hal lain yang membuat Matteo sadar bahwa Ogura memang siap untuk naik ke MotoGP,” ungkap manajer tim Suzuki itu.
Brivio sendiri melihat, gaya Ogura sangat bersih namun modern. Misalnya manuver overtake-nya di Austin. Sangat bersih dan sangat presisi. Dia sangat menyukai cara rider berusia 25 tahun itu berkendara. Ogura memberi kesan bahwa seolah-olah semuanya dilakukannya secara alami.

Saat Brivio ditanya, bagaimana cara Ogura menghadapi balapan akhir pekan? Apakah dia sangat aktif atau apakah sering menghabiskan waktu di motorhomenya? “Tidak, dia tidak punya motorhome, dia tidur di hotel. Dan saat balapan akhir pekan, dia sangat santai. Di truk kami ada ruang ganti dan di situlah biasanya dia berada. Dia datang ke area hospitality hanya untuk sarapan, makan siang, dan makan malam. Seperti yang sudah saya katakan, dia sangat sopan dan pendiam. Saat kami duduk untuk makan malam, itu juga sangat menyenangkan. Kami banyak tertawa, bercanda, dan ngobrol segala hal. Dia sebenarnya lucu dan bukan tipe yang selalu diam,” ujar mantan manajer pribadi Valentino Rossi itu.
Saat mau naik ke MotoGP, Ogura menolak tawaran Honda dan lebih memilih untuk bergabung dengan Aprilia di tim Trackhouse, yang mana Aprilia adalah pabrikan Italia dan tim sendiri dimiliki oleh orang Amerika. Apakah Brivio sempat terkejut dengan keputusan Ogura tersebut? “Ya, saya terkejut karena Honda sudah mendukungnya sepanjang kariernya. Tetapi menurutku, keputusan ini menunjukkan mentalitasnya. Dia mencari motor yang benar-benar bisa memberinya hasil,” jelasnya.

Brivio melanjutkan, “Sebuah keputusan yang lebih didorong oleh passion ketimbang keuntungan finansial. Saya rasa dia bisa mendapatkan gaji yang lebih gede di Honda ketimbang bersama kami. Tetapi Aprilia tampaknya lebih cocok untuknya, dan akhirnya dia memilih Aprilia. Tetapi sepertinya ini bukan pertama kali dia membuat keputusan seperti itu. Saat di Moto2, dia pernah meninggalkan tim Idemitsu untuk bergabung dengan tim Spanyol. Dia memang seseorang yang menentukan jalannya sendiri.”
Di Aprilia, para pembalap bisa saling berbagi data. Tapi tetapΒ para insinyurlah yang menganalisis semuanya. Terkadang Ogura melihat data pembalap lain, tetapi pembalap lain juga suka melihat datanya. Ada beberapa situasi di mana mereka membandingkan, untuk melihat bagaimana performa Ogura.
Saling tukar data adalah hal yang normal. Jorge Martin melihat apa yang dilakukan Marco Bezzecchi, sebaliknya Bezzecchi juga melihat apa yang dilakukan Martin. Terkadang Raul Fernandez adalah pembalap yang cepat, jadi dia juga bisa dijadikan acuan.

Tapi data dari pembalap yang sangat agresif seperti Martin mungkin tidak terlalu berguna bagi pembalap yang gaya balapnya begitu halus seperti Ogura. Tetapi, bisa jadi gaya pengeremannya yang halus di awal musim lalu menginspirasi pembalap lain.
Diskusi panas di FP MotoGP Crash: Ai Ogura: Podium MotoGP Pertama di Le Mans, Kapan Menang? Mungkin di Jepang Nanti!Β






