Fabio Di Giannantonio: Moto2 Berarti Langkah Mundur dan SBK Bukanlah Pilihan, Trus Mau Kemana?

Fabio Di Giannantonio

RiderTua.com – Fabio Di Giannantonio tampil ceria saat berada di Media Center di sirkuit Lusail Qatar. Namun masa depan yang tidak pasti, jelas membuat hati rider Italia itu resah. Dia tahu apa yang ingin diketahui para jurnalis darinya, jadi dia langsung merentangkan tangannya dan berkata, “Tunggu! Saya akan memberikan pertanyaan pertama. Saya mencoba dan mencoba. Ada kabar tentang masa depan?”

Terdengar gelak tawa di antara segelintir jurnalis yang bertahan hingga jam 6 sore waktu lokal. “Apakah itu hal yang bagus?” imbuh pembalap Gresini Ducati itu sambil tertawa. Lalu dia menambahkan, “Tidak ada kabar, Nak.”

Lalu dengan nada lebih serius Diggia melanjutkan, “Dua tempat di MotoGP belum terisi. Tetapi menurutku kita semua akan mengetahuinya dalam beberapa jam. Saya dengan tegas meminta untuk meninggalkan saya sendirian sampai hari Minggu, apa pun hasilnya. Karena saya hanya ingin memikirkan balapan, sisanya terlalu membuat saya stres dalam jangka panjang. Selalu ada kejutan baru. Saya harap saya bisa memberikan jawaban serius atas pertanyaan media di Valencia.”

Fabio Di Giannantonio: Moto2 Langkah Mundur dan SBK Bukan Pilihan

Di Kejuaraan Dunia Moto2, tim seperti Master Camp VR46, Fantic Racing dan Speed-up masih mencari pembalap yang kuat. Apakah Fabio Di Giannantonio membayangkan dia akan kembali ke kelas menengah? “Untuk saat ini tidak. Mungkin dalam beberapa minggu kedepan. Saya tidak ingin melihat itu sebagai pilihan, karena saya memang pantas bertahan sebagai pembalap reguler di MotoGP. Situasinya aneh. Karena sudah banyak yang terjadi, saya tidak mau,” jawab Diggia.

Fabio di Giannantonio - Marc Marquez
Fabio di Giannantonio – Marc Marquez

Rider asal Italia itu menambahkan, “Saya tidak pantas menerima ini, jadi saya kecewa. Ini tahun keduaku di MotoGP dan saya telah mencapai semua hasil yang mereka harapkan dari saya. Motor Moto2 akan menjadi sebuah langkah mundur bagiku. Kejuaraan Dunia Superbike juga bukan sebuah pilihan saat ini. Saya berusia 25 tahun, di masa primaku sebagai pembalap, saya bisa terus berkembang di MotoGP.”

Diggia belum pernah pulang ke Italia dalam 5 pekan terakhir antara balapan di luar Eropa, sehingga dari Kuala Lumpur dia langsung terbang pulang pada Minggu malam dan baru tiba kembali di Qatar hari Kamis ini. “Tidak, tidak ada pertemuan penting. Saya hanya ingin kembali ke tempat tidurku sendiri selama beberapa malam,” ujar Diggia.

Apakah Fabio membayangkan berperan sebagai tes rider dan pembalap cadangan MotoGP di sebuah pabrikan dan berkompetisi di setidaknya 6 balapan wildcard jika semuanya gagal? “Itu bukanlah pilihan nyata yang tersedia saat ini. Tapi jika saya tidak berada di grid start pada tahun 2024, kami bisa membangun sesuatu untuk tahun 2025 dengan cara ini,” kata pembalap Ducati GP22 itu.

Rekan setim Alex Marquez itu melanjutkan, “Saya berharap saya juga bisa menjadi pembalap MotoGP pada tahun 2024. Saya berhasil mencapai podium dan sekarang saya bertekad untuk berjuang meraih kemenangan lagi di Qatar atau di Valencia. Setidaknya saya akan mencoba. Hasil saya tahun ini akan dicatat selamanya. Dan jika saya mendapatkan kontrak MotoGP sekarang, saya akan mendapatkan 1 tahun lagi.”

Namun Di Giannantonio mengatakan terlalu banyak hal yang terjadi di luar kendalinya. “Itu seperti efek domino. Pertama, Marc keluar dari Honda yang merupakan kejutan besar pertama karena merupakan pasangan tersukses di era MotoGP selama 11 tahun. Domino kedua jatuh ketika menyangkut tim saya. Setelah itu saya ditawari kursi Honda. Tapi sekarang sepertinya pembalap lain akan mendapatkannya,” ungkap Diggia.

“Kami semakin dekat dengan kesepakatan, tapi kemudian mereka menginginkan pembalap lain. Itu adalah domino ketiga. Setelah itu, peluang menguntungkan lainnya muncul karena saya sangat menghormati tim VR46. Namun tampaknya pembalap lain juga lebih disukai di sana. Itu akan menjadi domino keempat. Artinya semua tempat akan terisi. Marc membuat ceritanya bergulir, bola salju itu kemudian menjadi semakin besar dan mengubur tempatku di MotoGP di bawahnya,” pungkas Diggia.

BTW, kandidat di Repsol-Honda yang dimaksudkan Diggia tentu saja adalah Luca Marini. Sementara penggantinya di Mooney VR46 diperkirakan adalah pembalap muda Moto2 Fermin Aldeguer.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *