Dua Momen Kunci Quartararo: Ubah Gaya Balap dan Pecco Jatuh di Mugello

0

RiderTua.com – Beberapa jam setelah menyegel gelar dunia MotoGP 2021, Quartararo mengingat kembali ‘musim kelam’ di 2018 ketika dia berada di posisi start ke-28 di grid Moto2 di Argentina. Namun sebenarnya itu adalah momen yang menyadarkannya untuk merubah sesuatu, “Setelah saya mengubah gaya balap saya (di Moto2 2018), saya membuat kemajuan besar. Saya kemudian menang di Barcelona dan podium-2 di Assen. Dua hasil ini membuat saya mendapatkan kursi di Petronas-Yamaha,” katanya sebagai momen kebangkitannya.. Lalu poin yang menentukan gelar dunia MotoGP 2021 ini adalah, jatuhnya Pecco di Mugello, di mana itu adalah poin penting bagi Fabio tahun ini.. “Karena Pecco sangat kuat di Mugello 2021, tapi dia terjatuh di lap kedua. Itu 25 poin yang sangat penting (untuk gelar tahun ini),” tambahnya..

Dua Momen Kunci Quartararo: Ubah Gaya Balap dan Pecco Jatuh di Mugello

Di balapan tadi malam, pada lap ke-23, Bagnaia dan Oliveira masing-masing berada di posisi 1 dan 4. Setelah itu Fabio Quartararo memperebutkan posisi ke-3 dalam pertarungan sengit melawan Enea Bastianini. “Saya mencoba naik podium, tapi ban depan kami sangat buruk di akhir balapan. Enea jauh lebih cepat dari saya jelang finis. Tetapi finis di posisi ke-4 tidak mengganggu saya,” ujar pembalap berjuluk El Diablo itu.

Saat Fabio ditanya, balapan mana di tahun ini yang menentukan untuk memenangkan gelar? “Ya, mungkin ketika saya menang di Mugello. Karena Pecco sangat kuat di sana, tapi dia terjatuh di lap kedua. Itu 25 poin yang sangat penting,” jawabnya.

Mengubah gaya Balap

Setelah merayakan gelar juara dunia, Fabio juga mengenang masa-masa kelam dalam karir GP-nya. “Saya mengalami waktu terberat di Moto3 pada 2016 dan 2017 di Moto2. Tapi itu adalah pengalaman kunci yang saya lihat sebagai panggilan untuk membangunkan saya. Pada musim 2017, saya berada di posisi grid ke-28 di Argentina, tepat di depan safety car. Saya takut safety car akan menyusul saya setelah start,” ujarnya sambil tersenyum.

“Saya kemudian menyadari bahwa gaya balap saya tidak bekerja sama sekali di kelas Moto2. Jadi saya berkata kepada tim, ‘Mungkin hasil di 2 balapan berikutnya akan terlihat sangat buruk, tapi saya harus mengubah sesuatu’. Sejak saat itu saya menyelesaikan semua balapan Kejuaraan Dunia Moto2 di 11 besar. Setelah saya mengubah gaya balap saya, saya membuat kemajuan besar. Saya kemudian menang di Barcelona dan berada di urutan ke-2 di Assen. Dua hasil ini membuat saya mendapatkan kursi di Petronas-Yamaha,” pungkas Quartararo.

Leave a Reply